Dalam Dirinya Terkumpul Semua Keistimewaan

Dalam Dirinya Terkumpul Semua Keistimewaan

Abdullah bin Qais bukan orang Quraisy, melainkan dari suku Asy’ar yang berasal dari Yaman. Antara kampung ia tinggal dengan kota Makkah terbentang jarak ratusan mil. Namun, itu bukan halangan untuk menjemput hidayah.

Nama Abdullah bin Qais memang sedikit asing, karena orang lebih mengenalnya dari nama kunyahnya, Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau termasuk assabiqunal awwalun atau generasi awal pemeluk Islam. Beliau mendengar tentang risalah Islam dan Muhammad sang nabi terakhir melalui berita yang dibawa jemaah haji dan para pedagang lintas negara. Ia tertarik dengan cerita tentang muhammad serta agama yang mengajarkan tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala.

Akhirnya, ia putuskan untuk menemui sang Nabi di Makkah. Perjumpaan itu memantapkan dirinya untuk mengucap dua kalimat syahadat. Rasulullah mengajarkan semua hal tentang Islam kepadanya, khususnya hafalan Al-Quran. Setelah ilmu yang ia kuasai dirasa cukup, Rasulullah memerintahkannya pulang untuk menjadi dai bagi kaumnya, Bani Asy’ar. Tugas utamanya ialah mengajak orang memeluk Islam dan meninggalkan kesyirikan. Tak banyak kendala ditemui Abu Musa dalam berdakwah. Bani Asy’ar menerima Islam dengan mudah karena ajaran Islam sesuai dengan karakter dan kepribadian mereka yang lembut.

Beberapa tahun kemudian, Bani Asy’ar mendengar berita bahwa Rasulullah telah berada di Madinah. Mereka terpanggil untuk turut berhijrah dan membela Rasulullah. Sekitar 50-an anggota bani Asy’ar berangkat ke Madinah melalui jalur laut. Abu Musa ikut dalam perjalanan ini bersama kedua kakaknya, Abu Ruhm dan Abu Amir. Namun, Allah menentukan takdir lain, kapal yang mereka tumpangi terhalang badai dan hanyut hingga ke Habasyah. Niat hijrah ke Madinah berubah menjadi hijrah ke Habasyah.

Di negara tanduk Afrika tersebut, rombongan Bani Asy’ar berjumpa dengan kelompok muhajirin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far menyarankan mereka menetap karena keberadaannya di negeri raja Najasyi atas perintah Nabi. Barulah pada tahun ke-7 H, rombongan muhajirin tersebut dapat berhijrah ke Madinah.

Sehari sebelum mereka sampai di tujuan, Rasulullah mengabarkan kepada para shahabat, “Besok sekelompok orang akan datang menemui kalian. Hati mereka lebih halus kepada Islam daripada kalian.”
Sementara itu, muhajirin Bani Asy’ar tak kalah bahagia. Sepanjang jalan mereka mendendangkan syair suka-cita:
Ghadan naltaqi al-ahibbah. Muhammad wa hizbah.

Besok kita kan bersua orang tercinta. Muhammad dan golongannya.
Sesampai di madinah, golongan muhajirin dan ashar bertemu. Rasa rindu yang tertahan bertahun-tahun akhirnya terluapkan. Bani Asy’ar menjabat tangan Rasulullah dan para shahabat. Hal itu merupakan bentuk ramah tamah yang berlaku di tempat mereka, namun menjadi sesuatu yang baru bagi penduduk Madinah. Sejak saat itu, Rasul menetapkan bersalaman tangan sebagai adab dan sunnah saat bertemu saudara sesama muslim.

Abu Musa sadar bahwa dirinya terlambat dalam melayani Nabi dibanding shahabat lain. Ia juga merasa bahwa kesempatan yang tersisa tidak banyak. Karenanya setiap momen bersama Rasulullah ia maksimalkan dengan banyak belajar. Dalam waktu singkat, shahabat bertubuh kurus ini menjadi salah satu dari 6 ulama shahabat. Mereka semua yaitu: Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit dan Abu Musa Al-Asy’ari. Bahkan, di saat nabi masih hidup, Abu Musa kerap memberi fatwa bagi para sahabat lain tentang hukum-hukum Islam.

Selain itu, Abu Musa memiliki suara merdu yang tak dimiliki orang lain. Kala ia membaca Al-Quran, orang yang mendengarnya larut dalam lantunannya. Mereka benar-benar menikmati indahnya tilawah sembari menyelami makna dan arti kalamullah tersebut. Rasulullah bahkan menyanjungnya dengan pujian, “Sungguh, lelaki ini telah diberi suara yang bagus seperti suara Nabi Daud.”
Nabi Daud memang seorang nabi yang dikaruniai Allah SWT suara yang luar biasa indahnya. Ketika beliau melantunkan bacaan Zabur atau sedang berdzikir, pastilah burung-burung, gunung-gunung dan berbagai binatang ikut mendengarkan seraya bertasbih mengiringi alunan suara beliau.

Suatu malam Abu Musa membaca Al-Quran di masjid Nabawi. Istri-istri Nabi SAW yang tinggal di dekat masjid terbangun, lalu mendengarkan bacaannya. Ketika tiba waktu Subuh, dia diberitahu tentang hal itu, Abu Musa berkata, “Andaikan aku tahu, aku pasti lebih memperindahnya sehingga membuat pendengarnya semakin merindukan bacaanku.”

Keistimewaan itu membuat para shahabat hormat kepadanya. Ketika Umar bin Khattab bersama Abu Musa , ia kerap memintanya melantunkan bacaan Al-Quran. Bacaan Abu Musa membuaat para shahabat kembali mengingat Allah setelah disibukkan dengan urusan duniawi. Ini pula yang dilakukan Muawiyah saat Abu Musa mengunjungi Damaskus. Setiap malam, Muawiyah pergi ke rumah tempat Abu Musa singgah, tiada lain untuk mendengarkan bacaannya.

Abu Musa juga turut andil dalam kancah jihad dan perjuangan bersenjata. Rasulullah pernah mengirimnya dalam satuan regu yang dipimpin oleh Abu Amir Al Asy’ari. Mereka mengejar sisa-sisa pelarian Perang Hunain yang bersembunyi di Authas. Mereka berhasil menyusul Duraid bin Ash-Shimmah. Ia adalah salah satu penyair bani Jusyum yang piawai berperang. Namun, Abu Amir berhasil melumpuhkannya. Beberapa pasukannya juga berhasil diringkus. Tiba-tiba salah satu pasukan musyrik memanah Abu Amir dan mengenai lututnya.

“Paman, siapa yang memanahmu?” tanya Abu Musa. Tak ada kata keluar dari mulut Abu Amir. Ia hanya menunjuk ke arah laki-laki tersebut.
Abu Musa langsung mengejarnya. Laki-laki itu reflek berlari melarikan diri. Abu Musa lantas berteriak lantang, “Apakah kamu tidak malu? Bukankah kamu orang Arab? Apakah kamu tidak berani?”
Orang musyrik itu berhenti. “Cukup!” ujarnya.

Tanpa babibu, kedua pria itu langsung berjibaku dan beradu senjata. Abu Musa mampu mengatas perlawan musuhnya. Dengan dua kali sabetan pedang, musuhnya tersungkur di tanah. Setelah itu Abu Musa kembali. “Allah telah membunuh orang yang melukaimu,” katanya menghibur Abu Amir.

Dunia jihad inilah yang dipilih Abu Musa setelah pensiun dari jabatan Gubernur Kufah dan Bashrah. Sebelumnya, hari-hari ia lalui dengan melayani ummat dan mengajarkan Al-Quran. Kini, Abu Musa menyibukkan diri dengan perjuangan. Di malam harinya, waktu yang tersisa ia gunakan untuk beribadah. Dalam shalat ia temukan tempat melepas penat dan lelah.

Salah satu tabiin bernama Masruq bin Al-Ajda’ bercerita bahwa ia pernah bersama Abu Musa dalam satu pertempuran. Menjelang malam mereka singgah di rumah yang separuhnya runtuh. Saat para serdadu tidur karena kelelahan, Abu Musa shalat malam, ia melantunkan bacaan dengan suara yang bagus. Seusai shalat, munajannya berlanjut dengan berdzikir dan berdoa.

Menurut pengakuan para sahabatnya, Abu Musa berjihad dengan maksimal. Bahkan cenderung memaksakan diri. Beberapa hari sebelum ia meninggal, salah satu serdadu muda mengingatkan, “Alangkah baiknya jika engkau tidak terlalu memaksakan diri. Sayangilah diri sendiri?”

Abu Musa tersenyum. “Jika seekor kuda berlari dan sudah mendekati garis finish, dia akan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Sementara sisa umurku lebih sedikit dari itu,” jawabnya singkat. []

%d bloggers like this: