Keberkahan Hujan

Keberkahan Hujan
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

“Allahumma shoyyiban naafi’an.” Ya Allah jadikallah hujan ini mendatangkan kemanfaatan.”

Hujan menjadi suatu pemandangan yang biasa di indonesia, apalagi di musim hujan, hampir setiap hari kita bisa menyaksikannya. Karena terlalu sering, kita dilupakan untuk mentadaburinya. Apa yang Allah inginkan dengan menciptakan hujan dan menurunkannya di pekarangan kita, sehingga kita bisa menyaksikannya?

Ternyata Allah hendak mengingatkan kita akan kehidupan setelah kematian, Allah Berfirman :
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS. Al A’raf : 57)

Bila hujan bisa mengingatkan kita akan akhirat, maka kebaikan selanjutnya yang diharapkan adalah segera beramal untuk mempersiapkan bekal menempuh perjalanan panjang setelah kematian. dan tempat beramal adalah di dunia, karena di akhirat sudah tidak ada lagi kesempatan beramal yang ada hanya perhitungan dan balasan amal.

Bentuk amal shaleh yang bisa kita jadikan bekal di akhirat adalah berdoa kepadaNya, bahkan amalan doa tidaklah terkategori kecuali masuk dalam jenis ibadah seagaimana sabdanya “ad du’au huwal ibadah,” doa itu adalah ibadah. makanya kalau doa ini diarahkan kepada selain Allah, ia tidak termasuk ibadah bahkan termasuk kesyirikan.

Termasuk doa yang terikat dengan keadaan adalah doa di saat hujan. bahkan pada keadaan hujan, doa itu menjadi mustajab. Rasulullah shallallhu’alaihi wasallam bersabda :

اُطْلُبُوْا إجَابَةَ الدُعَاءِ عِنْدَ التِقَاءِ الجُيُوْشِ , وَإقَامَةِ الصَلاةِ وَنُزُوْلِ المَطَرِ

“Carilah ijabah doa ketika (hendak) bertemunya para pasukan, saat (akan) didirikan shalat dan saat turunnya hujan.” (Hadits diriwayatkan Imam syafi’i dalam al Umm dan dinyatakan hasan oleh Al Albany rahimahullah)

Apa saja kebutuhan kita, doakan saja kepada Allah Ta’ala di saat hujan. Dan sebelum mendoakan dengan doa umum yang berkaitan dengan pribadi kita, dahulukan doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh ibu kita, ummahatul mukminin ‘Aisyah Radhiallahu’anha :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : (اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا).

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jika melihat hujan beliau berdoa, “Allahumma shoyyiban naafi’an.” Ya Allah jadikallah hujan ini mendatangkan kemanfaatan.” (HR. Bukhari)

Rahmat Nabi kepada umatnya, memohonkan kemanfaatan dari hujan yang diturunkan. Karena Ketika hujan turun ada dua kemungkinan, ia mendatangkan kemanfaatan atau mendatangkan kemadharatan. Dikisahkan dalam al qur’an tentang kaum ‘Aad yang mereka meyangka awan yang datang akan menurunkan kebaikan atau hujan, namun Allah berkehendak lain disebabkan kekafiran mereka dan penentangannya kepada utusanNya :

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabnnya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa. (QS. Al Ahqaaf: 24-25)

Makna kemanfaatan hujan adalah dengan suburnya bumi dan dapat menumbuhkan sesuatu yang bermanfaat. Dan termasuk madharot bahkan disebut sebagai musim kemarau adalah Allah menurunkan hujan tapi ia tidak mendatangkan manfaat dengan tidak menumbuhkan apapun. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwa Rasululah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

لَيْسَتْ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُمْطَرُوا وَلَكِنْ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

“Kemarau itu bukannya kalian tida dihujani, tapi kemarau adalah kalian dihujani dan dihujani tapi bumi tidak menumbuhkan apa pun.” (HR. Muslim)

Tidak hanya lisan saja yang berdoa ketika ada hujan, ada sunnah fi’liyah yang dilakukan Nabi ketika hujan

وعن أَنَسٌ قَالَ أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنْ الْمَطَرِ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: (لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى)

Dari Anas ia berkata; Kami diguyur hujan ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau membuka pakaiannya sehingga terkena hujan, lalu kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan hal itu?” beliau menjawab: “Karena hujan ini merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah ta’ala.”

Agar lebih berpahala lagi, perlu kita hadirkan perasaan cemas dan takut ketika melihat awan hitam dan mendung yang sangat pekat. Begitulah perasaan yang dihadirkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ‘Aisyah Radhiallahu’anha menceritakan ;

Apabila langit gelap berawan, maka beliau akan kelihatan pucat, keluar masuk rumah, ke depan dan ke belakang. Dan jika hujan turun, beliau pun merasa lega, dan hal itu dapat diketahui dari raut wajahnya. Aisyah berkata; Saya menanyakan hal itu pada beliau, maka beliau berkata: “Wahai Aisyah, kalau cuaca seperti ini, saya khawatir jangan-jangan akan terjadi seperti apa yang diungkapkan oleh kaum ‘Aad, ‘Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (HR. Muslim)

%d bloggers like this: