Mitos Musibah Tahun 2014

Mitos Musibah Tahun 2014

 

Seperti biasanya, selepas terjadinya bencana lantas banyak mitos dan reka-reka. Termasuk pasca meletusnya Gunung Kelud. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana mulai 1 Januari 2014 hingga 16 Februari 2014 berjumlah 282 kejadian.
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, mengatakan, dari 282 kejadian bencana terdapat 197 orang tewas, 64 Luka-luka, dan 1,6 Jiwa mengungsi. Selain itu, kerugian material juga mencapai triliunan rupiah.  Ini belum termasuk korban terdampak letusan Gunung Kelud.

Karena Rebo Wekasan?
Ternyata, tidak sedikit masyarakat yang meyakini bahwa datangnya bencana pada 2014 karena tahun baru kemarin jatuh pada malam ‘Rebu wekasan’ (Rabu Terakhir).

Bahkan, pesan tentang “Rabu wekasan” ini marak beredar jelang pergantian tahun baru 2014 lalu. Dalam pesan berantai blackberry messenger beredar dinyatakan “Rabu wekasan, malam tahun baru pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang sudah lalu karena malam tahun baru pada tahun ini bertepatan pada hari rabu terakhir atau “arba’mustamir di bulan shafar”.

Dalam broadcast BBM itu juga dikatakan “pada hari rabu tersebut Allah akan menurunkan beribu-ribu malapetaka (bala’) oleh sebab itu pada tahun ini diharapkan Untuk tidak ber lebih-lebihan dalam merayakan tahun baru masehi 2014 Karena setiap manusia tidak tau musibah apa yang akan diturunkan pada hari itu..SEBARKAN TEKS INI seikhlasnya ke KONTAK MU pada sebagian mukmin ALLAH”.

Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Tradisi-tradisi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar yang merata hampir di seluruh nusantara, khususnya di Jawa, dan ada sampai sekarang, adalah ritual yang sudah turun-temurun dari ratusan tahun lalu. Sakralitas pelaksaan upacara atau acara dalam menyambut Rabu wekasan, membuat keangkeran makin menancap kuat dalam benak masyarakat.
Orang Jogja menamainya dengan Rabu pungkasan, orang Sunda menyebut Rebo kasan, orang Madura menyebut Rebbuh bekasen dan Rabu bekas di sebagian daerah.

Dalil yang Digunakan

Yang dimaksud dengan Rebo Wekasan ini adalah hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Hari tersebut dianggap sebagai hari ‘naas’ karena konon pada hari itulah kaum Ad dibinasakan oleh Allah. Tentang firman Allah Ta’ala,
’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang” (Q.S al-Qamar (54:18-20).

Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu (fi yawmi nahsin mustammir)  tepat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Orang Jawa pada umumnya menyebut Rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan.
Kalaupun benar bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari itu, tapi ayat ini hanya menunjukkan bahwa kejadian itu bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Shafar dan tidak menunjukkan bahwa hari itu adalah hari kesialan yang berlakunya terus menerus. Alasan Allah menimpakan bencana tersebut bukan karena waktu, akan tetapi karena kedustaan dan kekafiran kaum ‘Ad.
Ada lagi yang menyandarkan keyakinan Rabu wekasan sebagai hari naas yang terus menerus atau yawmi nahsin mustammir pada sebuah riwayat yang berbunyi,

آخِرُ أَرْبِعاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Rabu terakhir di bulan (safar) adalah hari musibah yang terus menerus.”
Namun derajat hadits ini dikomentari para ulama dengan level yang paling tinggi ‘dha’if”, adalagi yang menyebut dha’if jidan (lemah sekali) dan bahkan ada yang menilai maudhu’ (palsu).
Imam ath-Thabrani setelah menyebutkan riwayat itu berkata, “Hadits ini tidak diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad melainkan melainkan melalui jalan Ibrahim bin Abi Hayyah.” Sedangkan ia adalah orang yang haditsnya munkar seperti yang ddikatakan oleh al-Bukhari dan Abu Hatim, “munkarul hadits”. Imam an-Nasa’i mengatakan, “lemah”.

Bulan Shafar  adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriyah Islam. Sebagaimana bulan lainnya, ia merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang  tidak memiliki kehendak dan  berjalan sesuai dengan apa yang Allah ciptakan untuknya.
Karenanya, orang yang mencela dan menganggap sial hari-hari tertentu berarti mencela Allah, karena Dialah yang menggulirkan waktu demi waktu. Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda,

لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

“janganlah kalian mencela masa, karena Allahlah (Pemilik) masa.” (HR Muslim)
Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Tasa’um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menepis mitos ini dengan sabdanya,

“tidak ada thiyarah (kesialan yang ditandai dengan gelagat burung), tidak pula ada (kesialan pada bulan) Shafar.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika pikiran seseorang disibukkan oleh pengaruh buruk dari hari-hari tertentu maka ia akan cenderung menuruti perasaan sialnya itu dengan mendahulukan atau meresponsnya. Maka ketika itu dia telah menggantungkan perbuatannya dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Atau minimal hatinya akan dibayang-bayangi oleh rasa gundah atau waswas.

Intinya, tidak selayaknya kita menyalahkan masa atau hari-hari tertentu sebagai biang musibah. Justru hendaknya masing-masing kita mawas diri, dosa apa yang telah dilakukan hingga musibah terjadi. Lalu memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah. Karena ketika bencana turun karena dosa, maka tidak ada cara efektif untuk menanggulanginy akecuali dengan taubat. Seprti yang dikatakan para ulama, “Laa yaziu balaa’un illa bidzanbin, wa laa yurfa’u illa bit taubah”, tidaklah turun musibah melainkan karena dosa, dan musibah tidak berhenti melainkan dengan bertaubat. Allahumma tubna ilaika. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: