Positivisme ; Sekularisasi Cara Berpikir

Positivisme ; Sekularisasi Cara Berpikir

 

Kelaliman para pemuka Nashrani di abad pertengahan, telah mengantarkan barat kepada pemberontakan terhadap gereja dan Tuhan. Masyarakat Nashrani barat kehilangan kepercayaan kepada para pemimpin agama, bahkan -sebagian- tidak percaya kepada Tuhan yang ‘personifikasi wakil’-Nya diklaim oleh para ‘bapak’ itu. Kejahatan para pemimpin agama tersebut tidak hanya mem-‘fitnah’ Nashrani saja, bahkan semua agama, termasuk Islam.

Ke-tawasuth-an ajaran langit dirusak para pendeta melalui penafsirannya yang keluar dari substansi kebenaran. Ajaran agama yang lurus, seharusnya akan mempengaruhi irodah menjadi dinamis dan kreatif. Tetapi karena penafsiran yang menyimpang itu, justru membawa efek sikap fatalistik sehingga membawa Eropa kepada kemundurannya. Sampai-sampai mereka menamakannya sebagai Dark Age, periode (abad) Kegelapan. Sebagai reaksi terhadapnya, muncullah paham atheis yang menganggap agama sebagai candu bagi masyarakat. Jadi, tumbuh dan berkembangnya paham ilhad tidak dapat dipisahkan dari akibat kejahatan tersebut. Para pemuka agama keluar dari kelurusan ajaran langit melalui satu pintu, umat manusia meninggalkan agama dan ‘Tuhan’ melewati jendela,… Na’udzu bilLah.

Sekularisasi Ilmu Pengetahuan

Jika sekularisasi kehidupan di masyarakat barat mendapatkan timing saat kedhaliman para pemuka agama mencapai klimaksnya, sekularisasi ilmu pengetahuan memperoleh momentumnya pada saat revolusi Perancis akhir abad 18 M. August Comte, seorang yang merasakan langsung detak kehidupan yang tak menentu setelah revolusi menumbangkan penguasa lalim Louis XVI dan kehidupan chaos sesudah itu. Perubahan tatanan sosial yang terjadi disekelilingnya akibat pergolakan politik, silih bergantinya penguasa dengan berbagai variasi karakternya, dimana Comte di dalamnya dan merasakan langsung situasi tersebut, menjadi titik perhatian dan studinya, sehingga menghasilkan tulisan-tulisan di bidang ilmu sosial kemasyarakatan (Sosiologi). Pada era sesudahnya, di barat dia dianggap sebagai Bapak Ilmu Sosiologi.

Comte membagi periodisasi perkembangan masyarakat menjadi 3 (tiga) fase ; fase teologis, fase metafisik dan fase positif. Era feodalisme Eropa dianggap sebagai fase teologis, fase metafisik adalah periode absolutisme sedang fase positif adalah era industri. Yang menjadi persoalan, para penganut positivisme membatasi obyek ilmu pengetahuan hanya gejala-gejala alam (termasuk didalamnya manusia) yang bersifat positif (yakni bersifat materi). Obyek kajian ilmu pengetahuan menurut kaum positivisme, selain bersifat materi juga harus dapat diamati secara kasat mata, dapat diulang, dapat diukur, dapat diuji dan dapat diprediksi. Obyek kajian di luar itu tidak dikategorikan ilmu pengetahuan. Jika metodologi diatas dikatakan merupakan alat untuk memperoleh pengetahuan yang sahih terhadap kenyataan (realitas), maka realitas tersebut hanya yang bersifat materi. Dengan kata lain, obyek pengkajian ilmu yang tidak bersifat materi, produk yang dihasilkan bukan ilmu pengetahuan. Positivisme adalah materialisme.

Ilmu tauhid yang obyek kajiannya adalah dzat, sifat dan af’al Allah -supaya seorang muslim ma’rifah kepada Rabb dan ilahnya- karena obyek kajiannya tidak bersifat materi maka produknya tidak dikategorikan ilmu pengetahuan. Seluruh kajian ‘ulumud-dien berupa teks-teks nash baik dari al-Qur-an, as-Sunnah, maupun penjelasan para ulama untuk memahami dan memperoleh kesimpulan hukum yang berasal dari kedua sumber tersebut, karena obyeknya non materi, maka tidak termasuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Konsekuensi lebih lanjut, jika pembagian tahap perkembangan masyarakat dalam 3 (tiga) tahapan itu dimaksudkan sebagai perkembangan dari keterbelakangan kearah kemajuan, maka masyarakat yang paling maju dan modern adalah masyarakat yang telah berhasil melewati kungkungan pengkajian ilmu terhadap obyek yang tidak kasat mata, kepada pengkajian terhadap obyek yang bersifat materi. Masyarakat Islam yang obyek utama kajian fardhu ‘ain-nya berupa teks-teks ‘non materi’ sementara pengkajian terhadap obyek-obyek yang bersifat materi seperti ilmu kedokteran, ilmu teknik bangunan, ilmu pertanian dll ‘hanya’ diposisikan sebagai fardhu kifayah, adalah masyarakat terbelakang, masyarakat yang belum bebas dari belenggu mithos dan methafisik.

Inferioritas yang Tidak Diketahui Sebabnya
Sekarang menjadi jelas mengapa seorang mahasiswa kedokteran muslim atau seorang yang mengambil salah satu jurusan di fakultas teknik -dibawah sadarnya merasa lebih prestise dibanding- seorang mahasiswa yang mengambil spesialisasi jurusan Aqidah, atau Syari’ah. Sebaliknya yang mengambil jurusan Aqidah atau Syari’ah juga -tanpa sadar- merasa bahwa pilihan jurusannya lebih rendah dibandingkan jurusan kedokteran atau teknik. Semua itu bermula dari penerimaan -dalam diam- tanpa kritik terhadap pembagian dan periodisasi para failasuf yang tumbuh di bi’ah kufur seperti yang telah dijelaskan.

Implikasi itu tidak berhenti disitu, ketika terjadi bencana alam bertubi-tubi menimpa, sehingga merenggut nyawa, merusak harta benda, meluluh-lantakkan infra struktur kehidupan, inferioritas itu muncul kembali tanpa sadar. Ketika para ahli geologi memaparkan analisanya, atau pakar meteorologi, klimatologi dan geofisika menjelaskan ramalannya, atau ahli teknik yang berkecimpung didalam bidang infrastruktur menganalisis sebab-sebab kerusakan jalan dan jembatan, disimak dengan penuh perhatian.

Sebaliknya ketika ada ulama atau ustadz yang menjelaskan korelasi perbuatan makshiyat manusia dengan datangnya bencana yang susul-menyusul itu; bahwa kemakshiyatan menyebabkan hilangnya nikmat, mengundang datangnya adzab, menghilangkan barokahnya umur, sempitnya rizqi, memantik kegoncangan alam dll,… kebanyakan manusia mencibirkan bibir, atau malah memindah saluran TV-nya. Dalam persepsi masyarakat yang telah termakan dengan cara berpikir positivisme, hanya dapat menerima korelasi yang bersifat materi, seperti penggundulan hutan yang berakibat banjir, atau industri yang mengakibatkan pemanasan global. Sedang korelasi yang bersifat bathiniyah,…itu keterbelakangan, kembali ke masa lalu.

Sikap seperti itu sejatinya dilatarbelakangi oleh penerimaan tanpa sadar terhadap hembusan gelombang materialisme yang bertiup tanpa henti. Di sekolah, anak-anak disodori sajian pendidikan yang sudah berupa menu praksis metode penelitian ilmiah, tanpa mengetahui sejarah kemunculan dan perkembangan ilmu tersebut di lingkungan aslinya. Ilmu tersebut bermanfaat ketika karakter kekufurannya dilucuti. Masalahnya, pendidik mana yang mengetahui hal itu dan ketika mengajarkan berani menjelaskan latar belakangnya. Di setiap rumah ada pesawat TV menyajikan informasi dan edukasi yang hampir seluruh pijakannya adalah paradigma materialisme. Perlahan tetapi pasti paham yang digelontorkan secara terus-menerus, diulang berkali-kali, dalam tampilan yang terus beraneka tetapi membawa ruh yang sama, akhirnya tanpa sadar dan tanpa anggukan diterima, dipraktekkan dalam keseharian dan berangsur menjadi keyakinan.

Diperlukan hentakan penyadaran (al-wa’yu) sehingga terjaga (al-yaqdhoh) yang diikuti dengan pendidikan alternatif dan diimplementasikan dalam kehidupan untuk menggantikan sikap dan pandangan hidup yang salah itu.

%d bloggers like this: