Berburu Tahta di Atas Pusara

Berburu Tahta di Atas Pusara

 

Belum lama berlalu, pesta demokrasi yang melibatkan pencalonan ribuan orang untuk duduk di kursi legislatif. Momen itu diwarnai dengan ramainya pengunjung kuburan-kuburan yang dikeramatkan. Cara ini dianggap sebagian orang sebagai salah satu ikhtiar ‘wajib’ yang harus ditunaikan untuk mencapai tujuan.

Selain menyosialisasikan diri melalui spanduk, media massa, dan media lainnya, tak sedikit di antara mereka yang meminta “petunjuk” di tempat keramat atau kuburan tokoh spiritual di berbagai daerah.

Kuburan yang Dianggap Keramat
Makam para leluhur Sumedang tak luput jadi agenda untuk dikunjungi para caleg. Hampir semua makam para raja dan bupati Sumedang zaman dulu didatangi para calon legislator. Bahkan makam keramat yang ada di pelosok dan puncak gunung tak luput didatangi.

“Selalu ada saja yang datang dan mereka mengaku caleg karena sebelumnya harus menyampaikan dulu keinginannya apa,” kata Dana Miharja (78), juru kunci Makam Gunung Puyuh, belum lama ini.

“Kebanyakan yang datang itu caleg asal daerah pemilihan Sumedang, baik untuk DPRD Sumedang, DPRD Jabar, maupun DPR RI. Keinginan sama, ingin terpilih jadi anggota Dewan,” kata Dana.

Menurut dia, caleg yang datang itu kebanyakan meminta izin untuk berdoa di makam Pangeran Sugih. ”
Juru kunci ini mengatakan banyak yang datang ke makam Pangeran Sugih karena bupati Sumedang ini dianggap berilmu, berharta, dan punya banyak saudara. “Pangeran Sugih itu terkenal karena harti, harta, dan baraya. Harti itu ilmu, harta bisa jabatan bisa juga materi karena Pangeran Sugih memang kaya, dan juga dia banyak saudaranya atau baraya,” kata Dana, yang menyebutkan bahwa Pangeran Sugih memiliki 31 istri.

Di Garut, beberapa calon legislatif juga mengunjungi tempat keramat seperti makam Prabu Kian Santang di Kampung Godog, Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan. Kuncen makam Prabu Kian Santang, Tatang Kurnia, mengatakan,  “Mereka akan mencalonkan diri kembali menjadi anggota legislatif. Karena dulu pun sebelum menjabat sebagai anggota dewan, mereka kerap mengunjungi makam ini,” kata Tatang saat ditemui di kawasan makam Prabu Kian Santang atau Syekh Sunan Ruhmat Suci.

Di Cirebon, petilasan Pangeran Cakrabuana atau oleh masyarakat Cirebon disebut Mbah Kuwu Sangkan, kerap pula didatangi sejumlah pejabat dan warga yang bermaksud agar keinginannya terwujud.

Di Subang, situs keramat Cipabeasan di Kampung Bukanagara, Desa Cupanagara, Kecamatan Cisalak, disebut-sebut menjadi tempat keramat yang sering dikunjungi banyak orang, dengan maksud untuk memohon agar keinginannya terkabul.

Di situs ini, terdapat makam Eyang Mangkunegara, serta danau seluas 1 hektare yang dikeramatkan. Pohon-pohon berusia sekitar puluhan hingga ratusan tahun dapat ditemui di sekitar situs keramat tersebut.

“Setiap bulan Maulud, tepatnya tanggal 14, banyak yang datang ke sini untuk dikabulkan keinginannya. Memohonnya bukan ke makam, tapi ke Allah,” kata Enes (70), kuncen situs keramat tersebut, belum lama ini.

Ia mengatakan, banyak orang dari Subang dan di daerah luar Subang datang ke sana dengan berbagai keinginan, baik itu dilancarkan usaha, jodoh, maupun kelancaran memperoleh jabatan.
Hanya saja, ia tidak bisa memerinci siapa saja di antara yang datang, yang menginginkan kelancaran ketika menempuh jabatan politik dalam pemerintahan, baik itu kepala daerah maupun anggota legislatif.

Dan masih bayak sekali tempat lain di Indonesia yang dijadikan sebagai tempat ritual mencari jabatan maupun harta. Cara ritualnya pun cenderung mengikuti tradisi para dukun dan pengagung leluhur. Maka bisa dibayangkan, seawam apa para caleg itu dalam memahami akidah islam dan syariat-syariatnya.

Faedah Ziarah Kubur yang Diajarkan
Sejak dahulu, kuburan memang menjadi salah satu tempat favorit banyak orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pemujaan terhadap kuburan dan penghuninya juga menjadi warisan jahiliyah, hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melarang ziarah kubur. Bahwa pada akhirnya Nabi membolehkan dan bahkan menghasung untuk ziarah kubur, ini tidak menghilangkan sisi ‘peringatan’ atau larangan pengagungan terhadap kuburan. Tapi dengan tujuan yang sesuai dengan syariat, yakni sebagai sarana untuk mengingat kematian. Atau selebihnya mendoakan orang-orang yang telah wafat.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا

“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka (sekarang) ziarahilah kubur.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Nabi bersabda,

فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ

“Maka ziarah kuburlah, karena hal itu bisa mengingatkan kita kepada akherat.” (HR Tirmidzi, beliau berkata. “hadits hasan shahih.)

Itulah faedah ziarah kubur bagi orang yang menziarahi sebagaimana yang diajarkan dalam syariat Islam. Adapun kemanfaatan bagi mayit adalah karena doa orang yang mengunjungi.

“Aisyah pernah bertanya kepada Nabi shallalahu alaihi wasallam, “Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (penghuni qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Ucapkanlah,

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

“Keselamatan bagi kalian wahai penghuni kubur, dari kalangan mukmnin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati) kami, dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian.” (HR. Muslim)

Melihat dari momen yang dipilih dan background para peziarah, rasanya susah memaksakan diri untuk berhusnu zhan bahwa kedatangan mereka hanya berziarah untuk mengingat mati, atau untuk mendoakan para penghuni kubur. Apalagi, telah banyak pengakuan Bahwa mereka datang untuk meminta restu kepada penghuni kubur.

Ada pula di antara mereka yang memilih kuburan sebagai tempat berdoa kepada Allah, yang ini mengandung keyakinan bahwa berdoa disitu lebih utama daripada berdoa di tempat lain seperti masjid atu di rumahnya sendiri. Padahal, tak ada dalil yang menunjukkan hal itu.

Fi’liyah Nabi maupun para sahabat juga tak menunjukkan cara seperti itu. Beliau justru mengajarkan kita untuk mendoakan orang yang telah mati tatkala berziarah, bukan berdoa untuk kepentingan duniawi dan menjadikan kuburan sebagai pilihan tempat yang dianggap manjur.
Wallahul muwaffiq ial aqwamith thariiq. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: