Tetap Tsabat Mendapat Rahmat

Tahan Godaan Teguh Pendirian

 

“Ya Rabb Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisiMu; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).”

Manusia harus memilih diantara dua jalan ketika hidup di dunia, tidak ada pilihan yang ketiga, yaitu memilih diatas jalan petunjuk atau menapaki jalan kesesatan. Kebingungan, kebimbangan dan berhenti di tengah tengah, dikategorikan dalam kesesatan.
Ada orang yang diberi petunjuk kemudian menyimpang dan pada akhirnya mati dalam kesesatan, ada pula orang yang tampaknya melakukan konsekuensi syahadat, namun sejatinya ia mengingkarinya dan diakhiratpun ia dimasukkan neraka jahannam. iyadzanbillah

Ada pula orang yang sudah lama dalam kesesatan kemudian menemukan hidayah dan mati dalam islam. Duhai indahnya bila sejak awal kita bisa diatas petunjuk islam dan mati memegang kokoh keimanan.

Untuk mendapatkan jalan petunjuk dibutuhkan ilmu, karena tidak mungkin orang yang jahil dan tidak berilmu mendapatkan jalan ini, dan jangan disangka bahwa orang yang berilmu (ulama) haruslah orang yang menyandang titel sarjana, master atau profesor. Yang dianggap orang yang berilmu adalah yang memiliki rasa khosyah kepada Allah. Sebagaimana firmanNya : “Sesungguhnya yang memiliki rasa Khosyah (takut) kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘ulama.” (QS. Fathir : 35)

Gambaran takut yang dimiliki oleh para ulama pewaris Nabi tampak pada ucapan lisan mereka, salah satunya adalah disaat berdoa. Dalam surat Ali Imran, Allah Ta’ala berfiman :

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

(mereka berdoa): “Ya Rabb Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisiMu; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).”

“Ya Rab Kami, Sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imran 7-9)

Semakin dalam ilmu seseorang semakin besar pula khosyahnya kepada Allah Ta’ala, mereka mengawali doanya dengan kata “Rabbana”, yaitu meyakini Rububiyah Allah Ta’ala, Allah lah yang menciptakan, memiliki, memberi rizki dan mengatur seluruh alam semesta termasuk kita semua. Dan Hati ini bukanlah kita yang menguasainya akan tetapi Allah lah yang menguasai, makanya kita butuh untuk meminta kepada Allah agar tidak menyimpangkan hati ini dari kebenaran, dan selalu bisa tsabat, kokoh di atas agama yang lurus.

Setelah bertawasul dengan Rububiyah Allah, Kemudian bertawasul dengan kebaikan yang telah diberikan Allah, yaitu “ba’da idz hadaitana.” Ya Allah, Engkau telah menunjjuki pada hati ini kepada petunjuk, maka kami memohon agar Engkau tetapkan ia pada petunjuk dan jangan jadikan ia menyimpang dari petunjuk itu.

Doa ini mengandung permohonan yang sangat agung dan mulia, yaitu dijauhkan dari kesesatan dan ditetapkan untuk beribadah dan taat kepadaNya. bahkan inilah tujuan dan maksud diturunkannya syariat kepada manusia.

Faidah yang bisa kita ambil dari susunan lafadz doa ini adalah, mengkosongkan dahulu baru mengisi. Maksudnya mengkosongkan dan membersihkan hati dari keburukan-keburukan serta kenajisan-kenajisan yang mengorotinya, baru kemudian di isi dengan kabaikan-kebaikan untuk bisa mensucikan dan membuatnya menjadi hati yang sehat dan selamat.

Lebih halus dan lembut lagi, perminataan ini dibarengi dengan lafadz “Hab lana” yang mengisyaratkan bahwa pemberian itu adalah keutamaan yang diberikan Allah kepada yang dikehendakinya secara mutlak. Senatiasa memberi tanpa mengharap ganti.

Memberi apa yang dikehendaki kepada siapa saja tanpa pamrih. Tidak ada satupun yang mampu menyamai pemberian-Nya dan Tak pula satupun yang mampu menghitung anugerah-Nya. Dia memberikan kenikmatan di dunia sebagai cobaan dan melimpahkan kenikmatan di akhirat sebagai balasan kebaikan.

Yang dipinta berkutnya adalah “Rahmatan,” yang bermakana Rahmat Allah yang luas, menyeluruh dan bisa menyampaikan cahaya iman dan tauhid ke dalam hati, membuahkan ketaatan baik lisan maupun perbuatan.

Tanda seseorang diberi rahmat adalah, ia mendapatkan taufiq, kesuksesan dalam mempraktekan ilmu dalam amalan dan menyelaraskan amal dengan ilmu, senantiasa mendapatkan petunjuk ketika di dunia dan mendapatkan kenikmatan yang abadi di akhirat.

Dan dengan RahmatNyalah kita bisa masuk surga, bukan dengan amalan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tujulah (kebenaran), mendekatlah dan bergembiralah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya. “Mereka bertanya: “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat dan karunia padaku. Dan ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.” (HR. Muslim)

“Innaka Antal wahhab,” Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia). Akhir yang indah dalam doa ini, yaitu di akhiri dengan nama Allah Al Wahhab. Mentaati perintah Allah dalam surat al A’raf ayat 180, yaitu menggunakan Asmaul husna dalam berdoa.
Bila saja orang yang mendalam ilmunya berdoa dengan doa ini, maka tentunya kita lebih butuh untuk senantiasa mendoakan doa ini dalam setiap waktu dan tempat yang mustajab.

%d bloggers like this: