Karena Allah yang Memilih Kita

cinta

Kepemimpinan yang baik sangatlah dihajatkan dalam setiap keberadaan sebuah organisasi. Bagaimana pengaturan, pengelolaan, juga pengontrolan tata laksana kerumahtanggaan organisasi bisa berjalan dengan lancar. Sehingga organisasi itu mampu mencapai hal-hal yang menjadi tujuannya. Sebagaimana perkataan yang terkenal itu; kebenaran tanpa pengaturan akan dikalahkan kebatilan yang teratur.

Pun demikian halnya jika kita menemukan ketidakberesan atau kekacauan dalam sebuah organisasi. Hampir bisa dipastikan hal itu berasal dari lemah atau gagalnya kepemimpinan yang ada. Sehingga silang sengketa dan carut marut mewarnai jalannya organisasi, untuk kemudian gagal meraih cita-citanya. Konon, penguburan jenazah Rasulullah tertunda sampai dua hari tiga malam karena menunggu keputusan tentang siapa pemimpin umat Islam sepeninggal beliau. Agar tidak terjadi kekacauan hebat karena hilangnya kepemimpinan beliau atas umat Islam.

Nah, yang seringkali kita lupa adalah bahwa sebuah keluarga, meski hanya terdiri dari seorang laki-laki sebagai suami dan seorang perempuan sebagai istri, ia adalah sebuah organisasi. Dimana pengaturannya dengan baik sangat diniscayakan agar bisa mewujudkan tujuan-tujuannya; sakinah, keturunan yang shalih, pembagian peran, kehormatan diri, hingga proses pendewasaan dari berbagai masalah yang muncul.

Secara syariat, suamilah yang dipilih Allah untuk menjadi pemimpin. Sebagaimana firman Allah di dalam surat An Nisa’ ayat 34, “Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena para laki-laki itu menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Suka atau tidak, inilah faktanya. Penunjukkan laki-laki sebagai pemimpim bagi perempuan adalah kepastian berdasar nash yang sharih. Ia adalah sebuah amanah yang tidak ringan, sebab Allah yang menetapkan, maka Dia juga-lah yang akan meminta tanggung jawabnya. Yang tentu sangat adil dan jujur; tanpa suap, nepotisme, atau berbagai kecurangan yang lain. Bagi yang tahu, tentu hal ini sangat menakutkan. Bisakah dia menunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya?

Dalam konteks berkeluarga, tidak ada pilihan lain bagi para suami kecuali menunaikan tanggung jawab kepemimpinan mereka dengan sebaik-baiknya. Dimulai dari niat yang ikhlas dalam rangka meraih ridha Allah, membingkai perjalanannya dengan ilmu syar’i yang memadai, hingga keterampilan teknis pengelolaan dengan sikap sabar dan dewasa. Sebab barang siapa yang mengabaikan tanggung jawabnya, sungguh, dia telah berdosa.

Niat yang ikhlas diperlukan agar aktivitas kita sebagai suami menjadi amal shalih di sisi Allah. Bukan kesibukan sia-sia sebab salah niat, yang membuatnya serupa debu yang beterbangan. Kemudian, Insyaallah, kita akan ringan melangkah sebab Allah memberikan kekuatan. Jelas juga tujuannya sebagai ibadah kepada Allah dan bukan penindasan kepada perempuan atas nama kepemimpinan.

Ilmu yang cukup diperlukan agar kita tidak salah memilih tindakan. Bahwa kepemimpinan kita mengharuskan berjalannya fungsi-fungsi organisasi dengan baik. Mulai dari mengetuainya, menentukan berbagai keputusannya, mengayomi, membimbing, mengarahkan, hingga meluruskannya jika ada penyelewengan di dalam keluarga kita. Tanpa ilmu yang memadai, seringkali kita salah mengambil keputusan. Karena manusia adalah musuh dari kebodohannya.

Keterampilan teknis sebagai pemimpin juga sangat kita perlukan. Sebab dalam tataran teknis, pengetahuan yang baik seringkali terbentur oleh kesalahan pengaplikasiannya. Apalagi yang kita hadapi adalah manusia yang memiliki perasaan dan jiwa, juga masalah pribadi masing-masing yang bisa jadi sangat kompleks. Apalagi para perempuan sebagai istri atau anak kita, jauh lebih bermain dengan perasaan melebihi laki-laki. Mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, yang tentu membutuhkan penanganan khusus agar bisa maksimal menyumbangkan potensi mereka untuk kemajuan organisasi bernama keluarga ini.

Maka pandai saja menjadi tidak cukup. Namun juga sikap yang sabar dan dewasa dalam mendidik keluarga, mengasah kepekaan untuk memahami perasaan mereka, meminta maaf kalau memang salah, hingga bersikap lembut dan penuh kasih sayang agar semua berjalan dengan baik. Sebab kekasaran hanya akan memecahkan tulang bengkok itu, hingga seringkali memunculkan kekacauan yang tidak terduga sebelumnya. Kekerasan fisik, lontaran makian, hingga perceraian.

Ketaatan anggota keluarga, terutama para istri, adalah poros utama langgengnya kasih dan sayang di dalam keluarga. Sedang pembangkangan mereka bisa mementahkan semua keputusan, dan mengacaukan organisasi. Sehingga bagi yang akan menikah, memilih istri yang siap taat dan loyal adalah modal yang sangat baik. Dan bagi yang telah menikah harus memberikan perhatian dalam masalah ini secara khusus. Bukankah tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan?

Maka wahai para suami, mari kita tunaikan tugas ini sebaik-baiknya! Kita curahkan segenap tenaga tanpa malas dan kecurangan, agar Allah memudahkan semua urusan. Sebab Allah-lah yang telah memilih kita sebagai pemimpin.

%d bloggers like this: