Selamat Sampai Akhirat

Memuliakan Marbut Masjid

Meminta atau berdoa kepada Allah adalah suatu amalan yang mendatangkan kecintaan Allah, dan sebaliknya tidak meminta kepada Allah adalah suatu perbuatan yang pelakunya dipastikan akan mendapatkan kemarahan Allah. Ketika manusia meminta kepada Allah, maka permintaannya terkategorikan menjadi dua jenis.

Pertama, permintaan yang diketahui bahwa yang diminta itu adalah pasti baiknya. Seperti minta diberikan rasa khasyah, minta dimasukkan surga dan dihindarkan dari neraka dan yang semisalnya. Permintaan seperti ini adalah permintaan yang tidak diragukan lagi kebaikannya.

Adapun yang kedua adalah, permintaan yang manusia sendiri tidak mengetahui dengan pasti, apakah yang dipinta itu mengakibatkan kebaikan atau keburukan. Seperti minta dipanjangkan umurnya, minta dikayakan, minta mendapatkan keturunan dan permintaan-permintaan yang berhubungan dengan dunia. Hal ini dikarenakan manusia tidak tahu kesudahan dari setiap perkara yang dipintanya. Maka hendaknya memohon kepada Allah untuk dipilihkan dengan ilmuNya karena Allah lah yang Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib.

Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana lafadz doa yang tepat untuk didoakan kepada Allah Ta’ala dari kedua jenis permintaan ini. diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dengan sanadnya yang bersambung sampai sahabat Ammar bin Yaasir Radhiallahu’anhuma, beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdoa :

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

‘Ya Allah dengan ilmu-Mu terhadap hal gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selagi Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa mati lebih baik bagiku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat nampak ataupun saat tidak nampak, kalimat al haq diwaktu senang dan marah, kesederhanaan saat fakir dan kaya. Aku memohon kenikmatan yang abadi dan kesenangan tiada henti. Aku memohon keridhaan setelah adanya keputusan, dan kenyamanan hidup setelah mati dan kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta keriduan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.” (HR. Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Abi Syaibah)

Allahumma bi’ilmikal ghoib, dengan lafadz inilah kita meminta kepada Allah dari perkara-perkara dunia yang kita tidak tahu kesudahannya, apakah membawa kebaikan atau keburukan. Seperti umur yang panjang atau umur yang pendek di dunia diminta dengan pengetahuan Allah.

Ya Allah hidupkan lah aku (panjangkanlah umurku) selagi Engkau mengetahui kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku (pendekkanlah umurku) selagi Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku.

Lafadz ini menunjukkan betapa lemahnya manusia untuk memilih perkara bagi dirinya sendiri dan sempurnanya Allah dalam pengetahuanNya, serta menunjukkan kebaikan seorang muslim yang lebih suka pilihan Allah dan mendahulukannya daripada pilihannya sendiri.

Adapun perkara perkara yang menyelamatkan hamba di akhirat seperti sabda Rasul, “Tiga hal yang menyelamatkan; rasa khasyah kepada Allah di waktu sepi dan ramai, pertengahan (sederhana) di kala kaya dan miskin,  dan kalimat yang haq diwaktu senang dan marah.” (HR. Thabrani, Baihaqi dan dihasankan Al Albani) Maka dipinta dengan kalimat yang pasti dan lugas.

Tidak mungin manusia keluar dari dua keadaan ini, yaitu menyendiri atau bersama orang lain. Apabila rasa takut kepada Allah (merasa diawasi) hadir pada dua kondisi ini maka kebaikanlah yang didapat. Begitu juga dengan keadaan kaya atau miskin, senang atau marah, maka bila ia bisa tawasuth atau pertengahan, maka keselamatan lah yang didapat hingga akhirat.

Kebaikan Dunia dan Akhirat

Apapun musibah dan masalahnya, maka merasa ridha dengan ketetapan yang telah ditetapkan Allah merupakan perasaan yang menyelamatkan, ridha dengan kebaikan dan keburukan yang ditetapkan, yaitu bisa bersabar dan bersyukur. Adapun ketetapan di barzah maka yang diminta adalah kehidupan yang baik atau kenikmatannya. Bila kenikmatan di dapat di alam barzah maka ini adalah pintu menuju kenikmatan yang abadi di surga.

Doa ini mengumpulkan kebaikan terbaik di dunia dan akhirat. Di dunia minta agar dihiasi dengan iman, baik dzohirnya maupun batinnya, yaitu dengan i’tiqod yang shahih, lisan yang selalu berdzikir dan tilawah, badan yang selalu digunakan untuk beramal shaleh. Dan dijadikan Allah menjadi da’i yang mendapat petunjuk dan bisa memberikan petunjuk bagi orang lain.

Selagi di dunia minta agar diberi perasaan rindu untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dan berharap di akhirat nanti mendapat nikmat terbesar bisa melihat wajah AllahAzza wa Jalla.

Semua kebaikan yang disebutkan telah tercakup dalam kandungan doa yang diajarkan oleh Rasul dan didengar oleh sahabat Ammar, bila kebaikan dan keselamatan hingga akhirat cita cita kita, maka sudah selayaknya doa ini kita panjatkan dalam doa-doa kita. waffaqokumullah

%d bloggers like this: