Janda Empat Syuhada

Hukum Keputihan menurut islam

Perjalanan hidup Atikah binti Zaid sungguh unik dan menarik. Empat kali menikah, empat kali pula berakhir dengan menjanda. Meski berat dilalui, itulah takdir yang Allah pilihkan untuknya.

Sosok Atikah sebenarnya dambaan tiap wanita. Di wajahnya terpancar rona kecantikan khas wanita Quraisy. Kecantikan itu semakin lengkap karena dibalut dengan akhlak mulia dan sifat pemalu. Tak hanya itu, Atikah adalah wanita terpelajar yang pandai menggubah sastra. Hebatnya lagi Atikah telah menjadi Muslimah pada periode awal dakwah Rasulullah di Makkah. Dia memeluk Islam bersama saudaranya, Said bin Zaid, satu dari sepuluh sahabat yang dijamin Rasulullah SAW masuk jannah. Bisa dikatakan semua unsur kesempurnaan menyatu dalam diri Atikah binti  Zaid bin Amru bin Nufail.

Setelah hijrah ke Madinah, banyak pemuda tergila-gila dan ingin meminang Atikah. Semuanya gigit jari, karena yang berhasil meluluhkan hatinya adalah Abdullah bin Abu Bakar.

Abdullah merasa beruntung, mendapat wanita cantik dan shalihah seperti Atikah. Karenanya, benih-benih cinta dan sayang terus ia semai hingga mengisi seluruh ruang hatinya. Ia merasa hari di mana dia bersama Atikah adalah hari terbaiknya. Hingga kebersamaannya dengan sang istri membuatnya melewatkan hal-hal lain yang lebih penting.

Dalam sebuah riwayat disebut, di hari Jumat, Abu Bakar mampir ke rumah Abdullah untuk mengajaknya berangkat bersama. Dari luar rumah, ia mendengar suara dua sejoli sedang bermesraan. Abu Bakar pun berlalu ke masjid. Ketika pulang, Abu Bakar masih mendengar suara putranya masih bersama istri.

“Abdullah, apakah kamu sudah berangkat shalat Jumat?” tanya Abu Bakar.

“Apakah shalat Jumat sudah selesai?” balas Abdullah.

“Ya.” Jawab Abu Bakar geram. “Putraku, istrimu membuatmu lupa untuk berdagang dan melalaikanmu mengerjakan shalat, ceraikan dia.”

Perintah Abu Bakar bak guntur di siang hari. Namun sebagai anak yang shalih, Abdullah mematuhi perintah ayahnya. Toh ada sisi pembelajaran dalam perintah Abu Bakar tersebut. Namun Abdullah ternyata tak kuasa berpisah dengan Atikah hingga akhirnya jatuh sakit. Abu Bakr pun mengijinkan sang anak untuk rujuk dengan Atikah, namun dengan satu syarat, yakni jangan sampai cintanya kepada Atikah mengalahkan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Waktu terus berjalan. Hingga akhirnya, pada tahun 8 H, Abdullah gugur sebagai syuhada di perang Thaif. Tubuh Abdullah tertembus anak panah ketika mengepung benteng thaif. Atikah pun menjanda, janda seorang syahid. Dalam kesedihannya Atikah berucap,  “Manusia terbaik setelah Nabi dan Abu Bakar telah meninggalkanku.”

Setelah masa iddah berakhir, banyak pria mencoba melamar Atikah. Namun Atikah menolak demi menjaga janji yang pernah dibuatnya. Dulu Atikah berikrar kepada Abdullah untuk tidak menikah lagi setelah dirinya tiada. Sebagai gantinya Abdullah memberikan sebidang kebun.

Umar bin Khattab termasuk pria yang ingin memperistri Atikah. Niat itu Umar sampaikan lewat wali Atikah. Namun, jawaban Atikah untuk Umar sama dengan jawabannya untuk pria lain. Umar lalu menjawab, “Jangan kamu haramkan apa yang telah Allah halalkan untukmu. Kembalikan harta yang dulu diberikan suamimu kepada keluarganya.”

Sesuai petunjuk Umar, Atikah mengembalikan kebun yang pernah diberikan Abdullah.  Setelah urusan itu selesai, Umar melamarnya, hingga keduanya melangsungkan akad nikah.

Atikah mendapat kesempatan kedua untuk mengabdi kepada suami. Atikah beruntung mendapat suami seorang sahabat senior Rasulullah yang telah menjual hidupnya untuk Islam. Ketika Umar menjadi khalifah, Atikah juga siap menjalani hidup susah meski statusnya adalah istri khalifah. Namun kebersamaannya dengan Umar harus berakhir setelah ia meninggal ditikam oleh Abu Lu’luah pada tahun 23 H. Untuk kedua kalinya Atikah menjadi janda sahabat yang mati syahid.

Beberapa waktu kemudian, Atikah menikah lagi dengan sahabat muhajirin, Abdullah bin Zubair. Sahabat yang termasuk dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga ini dikenal pencemburu. Hatinya berontak ketika istrinya meminta izin ke luar rumah, meskipun untuk shalat isya’ ke masjid. Namun, ia tak berani melarang karena Rasulullah SAW membolehkan para wanita shalat berjamaah di masjid.

Pada suatu malam Zubair pergi terlebih dahulu, sebelum istrinya, kemudian bersembunyi di pinggir jalan yang biasa mereka lewati. Ketika Atikah lewat dia menyusul dari belakang kemudian menepuk punggungnya. Atikah terkejut. Karena ketakutan, ia berbalik lari pulang ke rumah, tanpa meneliti siapa yang melakukan hal tersebut.

Malam berikutnya Atikah diam di rumah meski Zubair mengizinkannya pergi ke Masjid.

“Mengapa kamu tidak pergi ke masjid?” tanya Zubair.

Atikah menjawab, “Orang-orang telah rusak akhlaqnya.”

Setelah kejadian malam itu Atikah tidak pernah lagi shalat Isya di Masjid. Waktu malamnya ia habiskan di rumah.

Seperti sebelumnya, pernikahan kali ini berakhir dengan kematian sang suami. Pada tahun 36 H Zubair syahid dalam perang Jamal. Ketika Zubair shalat, ia ditikam dari belakang. Saat itu Atikah berusia lebih dari 50 tahun. Untuk ketiga kalinya, Atikah kembali menjadi janda dari suami yang mati syahid.

Kematian Zubair bukan akhir bagi Atikah untuk menjalin kehidupan berumah tangga. Beberapa waktu kemudian, Ali bin Abi Thalib ingin mempersunting Atikah. Atikah yang tak ingin menjanda lagi memberi syarat suaminya nanti tidak boleh berperang. Tidak ada pengecualian!. Karena alasan ini, Ali bin Abi Thalib mengurungkan niatnya, ia merasa tak bisa memenuhi permintaan itu. Namun Ali sempat mengatakan, “Siapa yang ingin meraih mati syahid menikahlah dengan Atikah.”

Akhirnya, Husain bin Ali maju untuk melamar janda para syuhada tersebut. Meskipun kala itu Atikah sudah berusia kepala lima dan terpaut cukup jauh dengan Husain, namun keduanya tetap saling mengasihi dan senantiasa harmonis.

Tapi seperti kata pepatah malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, Atikah kembali mengakhiri pernikahannya dengan Husain dengan cara yang sama. Pada tahun 61 H, Husain gugur di daerah Karbala, Iraq. Atikah kembali dirundung kesedihan, namun ia yakin bahwa semua itu adalah takdir Allah yang tak dapat dihindari. Ia yakin semuanya telah tertulis dalam lauh mahfudz sebelum semua mahluk tercipta. Karena itu, tiada alasan untuk sedih dan tiada pilihan selain ridha dengan pemberian Allah tersebut. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: