Al-Faqih Al-Kabir dan Penakluk Qazwin

Al-Faqih Al-Kabir dan Penakluk Qazwin

Kaum anshar memiliki beragam keutamaan. Salah satunya, mereka sangat antusias tafaqquh fid din atau belajar agama Islam. Rasulullah bahkan memuji shahabiyah anshar yang menyingkirkan rasa malunya untuk bertanya tentang urusan privat wanita. Selain itu, kaum anshar dikenal gigih membela Islam. Saat muslimin Makkah harus lari menyelamatkan diri, mereka terima sebagai keluarga dengan lapang dada. Saat semua kabilah Arab kompak memusuhi Rasulullah, mereka berbaris rapi melindungi beliau. Karena itulah mereka disebut sebagai al-anshar, para penolong Islam.

Kedua sifat mulia ini ternyata menyatu dalam diri Al-Barra’ bin Azib. Sejarah Islam mencatat shahabat yang bernama lengkap Al-Barra’ bin Azib bin Harits Al-Anshari Al-Ausi sebagai ahli agama sekaligus panglima perang.

Shahabat anshar dari suku Aus ini telah memeluk Islam sejak usia belia. Dia lahir sepuluh tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Yatsrib. Sang ayah kerap membawanya ke majelis Mushab bin Umair untuk mendengarkan dakwah Islam. Masyarakat di Yatsrib memang cenderung lebih terbuka menerima Islam dibanding kaum Quraisy Makkah. Setelah komunitas muslim kian bertambah besar, Rasulullah mengutus Abdullah bin Ummi Maktum sebagai juru dakwah. Tugasnya membantu Mushab bin Umair menyebarkan Islam di tanah Yatsrib. Lewat kedua shahabat inilah Al-Barra’ belajar Islam dan sedikit-demi sedikit menghafal Al-Quran.

Al-Barra’ pernah mengisahkan seperti apa antusias warga Yatsrib dalam menyambut kedatangan para muhajirin. Mereka menanti saudara jauh mereka dengan harap-harap cemas. Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah dan Saad bin Abi Waqqash tiba dalam rombongan pertama. Kemudian Umar bin Khattab menyusul bersama 20 orang muhajirin. Setelah itu barulah Rasulullah menjejakkan kaki di bumi Yatsrib. Kota kecil ini mendadak riuh. Semua orang keluar menyambut beliau sembari mendendangkan syair talaal badru alaina.

“Belum pernah aku lihat penduduk Yatsrib begitu bahagia seperti ini sebelumnya. Semua orang keluar menyambut Rasulullah SAW. Hingga anak-anak pun turut mengelu-elukan kedatangan beliau.” Kata Al-Barra’. Sejak saat itu, nama Yatsrib berubah menjadi Madinatur Rasul yang kemudian disingkat lagi menjadi Madinah.

Al-Barra’ tidak pernah melupakan momen-momennya bersama Rasulullah. Saat masih remaja, dia pernah berpapasan dengan Rasulullah. Kala itu beliau langsung menjabat erat tangan Al-Barra’.

“Rasulullah! Aku kira bersalaman adalah kebiasaan orang-orang ajam (non arab)?” tanya Al-Barra’.

“Justru Kita sebagai orang Islam yang lebih berhak untuk bersalaman. Tidak ada dua orang muslim bertemu kemudian salah satunya menjabat tangan kawannya dengan rasa cinta dan nasehat kecuali Allah menggugurkan kesalahan antara mereka berdua.” Sabda Nabi menjelaskan keutamaan bersalaman.

Seperti itulah cara Rasulullah mendidik generasi muda. Beliau berinteraksi langsung untuk menanamkan budi pekerti dan akhlak Islami. Pengalaman ini pula yang Al-Barra’ ajarkan kepada generasi muda setelahnya. Yaitu ketika beliau bertemu dengan Abu Daud, calon ahli hadits yang saat itu masih muda dan dalam pengembaraan mencari ilmu.

Al-Barra’ lebih dulu menarik tangan Abu Daud lalu menyalaminya. “Apakah Kamu tahu kenapa aku menarik dan menyalami tanganmu.” Tanya Al-Barra’ dengan senyuman ramah.

“Tidak. Yang pasti anda melakukannya karena ada manfaat dan kebaikan.” Jawab Abu Daud.

Kemudian Al-Barra’ menceritakan perjumpaannya dengan Rasulullah. “Aku pernah berjumpa dengan nabi SAW. Beliau menjabat tanganku persis seperti yang aku lakukan sekarang. Beliau bertanya seperti apa yang aku bertanya padamu.”

Al-Barra’ kemudian menjelaskan bahwa ketika dua orang muslim bertemu, lalu keduanya bersalaman, Allah akan menghapus dosa kedua muslim tersebut. Selama kedua tangannya masih saling menjabat erat. Dia akhir perjumpaannya, Al-Barra’ menasehati pemuda dari Sistan tersebut dengan, “Sempurnakan salam dengan menjabat tangan saudaramu.”

Sewaktu masih muda, Al-Barra’ bin Azib banyak merekam momen penting sejarah Islam dan nasehat-nasehat Nabi. Beliaulah yang meriwayatkan asbabun nuzul perpindahan kiblat dari Masjid Aqsa ke Masjid Nabawi. Begitu juga meriwayatkan hadits tentang tata cara menunaikan udhiyah. Karena begitu luas pengetahuan agama yang dikuasainya, para sahabat dan tabiin menjuluki beliau dengan alfaqih al-kabir atau ulama senior.

Hadits-hadits riwayat Al-Barra’ dapat kita temukan dalam kutub tis’ah. Jumlahnya mencapai 350 hadits. Sejumlah 22 di antaranya diriwayatkan oleh Imam bukhari dan muslim. Salah satu hadits yang beliau riwayatkan yaitu:

“Rasulullah memerintahkan kami untuk melakukan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami untuk menengok orang sakit, mengiringi jenazah, menjawab orang bersin, memenuhi janji, menolong orang teraniaya, mendatangi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami memakai cincin emas, minum dengan bejana emas, memakai mayatsir (alas duduk kendaraan dari sutra), memakai sutra dari al Qassu (daerah di Mesir), memakai sutra halus, memakai sutra tebal dan memakai sutra yang kasar.” (HR. Muslim)

Selain di bidang ilmu, Al-Barra’ mendedikasikan hidupnya dalam jihad fi sabilillah. Semangat membela agama sudah menggelora sebelum menginjak usia remaja. Demi berjihad pada Perang Badar, Al-Barra’ dan Abdullah bin Umar sampai menyusup ke barisan tentara Islam. Mereka berdiri berjinjit agar terlihat lebih tinggi dan dewasa. Namun, Rasulullah menilai kedua shahabat muda itu cukup umur. Keduanya pun terpaksa pulang sebelum kedua pasukan beradu senjata.

Baru setelah menginjak usia 15 tahun, Rasulullah mengizinkannya terjun dalam medan jihad. Perang pertama yang dia ikuti adalah perang khandaq. Setelah mendapat restu dari Rasulullah SAW, Al-Barra’ tidak pernah absen ber jihad. Selama 5 tahun berikutnya, Al-Barra’ muda bertempur 15 kali dalam pertempuran yang dipimpin oleh Rasulullah.

Shahabat yang dipanggil dengan nama kunyah Abu Ammarah ini beruntung diberi karunia usia yang panjang. Di masa Abu Bakar, ikut bertempur menghadapi kaum murtadin yang ba­nyak bermunculan sepeninggal Nabi Mu­hammad SAW.

Selanjutnya Al-Barra’ juga ikut dalam penaklukan Irak dan Syam, Ia pun ikut dalam penaklukan kota Tustur, yang ter­golong kota terbesar di wilayah Balu­khistan, di bawah komando Abu Musa Al-Asy’ari. Pengalamannya militernya semakin matang dan teruji. Sehingga Utsman bin Affan menugaskannya menaklukkan Qazwin dan wilayah sekitarnya. Qazwin adalah kota kuno yang pernah menjadi ibu kota imperium Sasanid selama 2000 tahun.

Pada era khalifah berikutnya, Al-Barra’ ikut membantu kubu Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan Siffin. Termasuk perang besar menumpas perlawanan kelompok khawarij di Nahrawan. Setelah setelah menginjak usia senja, beliau membangun rumah di Kufah dan tinggal di kota tersebut hingga akhir hayatnya. [ali]

%d bloggers like this: