Pintakan Cahaya di Dunia, Sempurnakan di Akhirat

Generasi Yang Senantiasa Menegakkan Shalat

 رَ‌بَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَ‌نَا وَاغْفِرْ‌ لَنَا إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌

“Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Berdoa memohon cahaya kepada Allah adalah doa yang dipintakan seorang mukmin baik ketika di dunia maupun ketika di akhirat. Permintaan di dunia ini akan benar-benar dirasakan kemanfaatannya ketika mendapati kegelapan akhirat, sebagaimana manusia di dunia mendapati kemanfaatan secara langsung dari cahaya bulan ketika berada di malam yang gelap tiada sinar kecuali cahaya bulan.

Tak hanya di dunia, Tempat yang gelap pun ada di akhirat, hal ini pernah ditanyakan oleh seorang yahudi kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam,

أَيْنَ يَكُونُ النَّاسُ) يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ (فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ فِي الظُّلْمَةِ دُونَ الْجِسْرِ

“Dimanakah manusia ketika pada Hari bumi diganti dengan bumi dan langit yang lain? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Mereka berada dalam kegelapan di bawah (sebelum) Jisr (shirath/jembatan).” (HR. Muslim)

Dalam hadits panjang yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud radhiahlluha’nhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

فَيُعْطُونَ نُوْرَهُمْ عَلى قَدْرِ أَعْمَالهِمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَي نُوْرَهُ مِثْلَ الجَبَلِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَ مِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُوْرَهُ دُوْنَ ذَلِكَ وَ مِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُوْرَهُ مِثْلَ النَّخْلَةِ بِيَمِيْنِهِ وَ مِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى دُوْنَ ذَلِكَ حَتَّى يَكُوْنَ آخِر ذَلِكَ يُعْطَى نُوْرَهُ عَلَى إِبْهَامِ قَدَمِهِ يُضِيءُ مَرَّةً وَ يُطْفِئُ مَرَّةً فَإِذَا أَضَاءَ قَدَمَ قَدَمُهُ وَ إذَا طُفِئَ قَامَ

“Mereka diberi cahaya )ketika melewati shirath( sesuai dengan tingkat amalan mereka, diantara mereka ada yang diberi cahaya seperti gunung, dan ada yang lebih kecil dari itu. Ada yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di tangan kanannya, ada yang lebih kecil dari itu, hingga orang terakhir diberikan cahaya sebesar ibu jari kakinya, kadang menerangi kadang padam, jika bercahaya ia berjalan jika padam ia berhenti. (Imam Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai syarat syaikhani dan disepakati imam Dzahabi, dan shahihkan al Albani)

Sungguh menakutkan, cahaya manakah yang akan diberikan kepada kita?, allahumma sallim sallim, lebih menakutkan lagi adalah perihal orang-orang munafik yang tadinya memiliki cayaha dan kemudian padam cahayanya, mereka tidak bisa meneruskan perjalanan menuju surga, iyadzanbillah. Hingga mereka berkata kepada orang-orang mukmin :

“Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu). Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al Hadidi : 13)

Inilah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang mukmin, ketika di akhirat melihat orang-orang munafik cahayanya dipadamkan :

رَ‌بَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَ‌نَا وَاغْفِرْ‌ لَنَا إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌

“Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim : 8)

Sebegitu pentingnya cahaya ini, hingga Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita suatu doa yang dipintakan ketika menuju masjid dan atau didoakan ketika shalat dalam sujud.

فَخَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا

“..Maka beliau pun keluar untuk menunaikan shalat Shubuh seraya berdo’a: “ALLAHUMMAJ ‘AL FII QALBII NUURAN WA FII LISAANII NUURAN WAJ’AL FII SAM’I NUURAN WAJ’AL FII BASHARII NUURAN WAJ’AL MIN KHALFII NUURAN, WA MIN AMAAMII NUURAN, WAJ’AL MIN FAUQII NUURAN, WA MIN TAHTI NUURAAN, ALLAHUMMA’THINII NUURAN (Ya Allah berilah cahaya dalam hatiku, cahaya di lisanku, berilah cahaya dalam pendengaranku, berilah cahaya dalam penglihatanku, berilah aku cahaya dari belakangku, dari arah depanku, dan berikanlah cahaya dari atasku, dan arah bawahku. Ya Allah berilah aku cahaya).” (HR. Muslim)

Dalam redaksi yang lain, diriwayatkan :

ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى فَجَعَلَ يَقُولُ فِي صَلَاتِهِ أَوْ فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا…

“..Setelah itu, beliau keluar untuk menunaikan shalat Subuh. Kemudian beliau membaca di dalam shalat atau di dalam sujudnya Allahummaj ‘al fii qalbi nuuran…”(HR. Muslim)

Seberapa tinggi dan mulianya seseorang di dunia ini, maka ia sangat butuh kepada cahaya ini, bahkan Nabi pun memintakanya kepada Allah, Allah maha kuasa atas segala sesuatu, memberikan cahaya dan memadamkannya bagi siapa saja yang dikehendakiNya.

Kesempurnaan cahaya ini sesuai dengan amalan kita di dunia, kesungguhan kita dalam berwudhu dan mejaganya, kesiapan kita ketika berjalan menuju masjid untuk shalat subuh, kekhusyukan kita dalam medirikan dan menjaga shalat serta kesungguhan kita dalam berdoa di dalam shalat dan sujud, itu semua akan menyempurnakan cahaya yang kita miliki di akhirat.

Bila di dunia saja kita tidak meminta kepada Allah cahaya, lalu apakah di akhirat nanti kita bisa meminta kepada Allah untuk disempurnakan cahayanya? Nasalullahal ‘aafiyah wassalamah

%d bloggers like this: