Ayah, Bukan Cuma Mencari Uang Saja

Ayah, Bukan Cuma Mencari Uang Saja

“Abi, besuk aku ada ujian di sekolah. Ajari aku ya Abi?”

“Kamu ke Umi saja ya. Abi banyak kerjaan Nak.”

Seringkah anda mendengar dialog serupa dengan apa yang saya tulis barusan? Ya, itulah yang sering terjadi di keluarga muslim kita. Umumnya, urusan pendidikan selalunya diserahkan kepada para Ibu. Sedangkan para ayah hanya memposisikan dirinya sebagai pihak yang mendukung biaya saja. Ayah memposisikan sebagai sosok yang harus terus bekerja untuk menafkahi anaknya.

Alasan terbesar yang sering dipakai adalah bahwa memang ayah sosok yang selalu memberi nafkah keluarga. Maka ayah menganggap dirinya perlu untuk selalu sibuk dan sibuk. Jika dia sudah bekerja di siang hari, dia pun akan menambah pekerjaan di malam hari. Untuk apa? Untuk menutupi kebutuhan hidup.

BACA JUGA: KOMITMEN SEORANG AYAH

Cicilan rumah, mobil, motor dan banyak cicilan lain semua tertumpu pada pundak ayah. Ayah pun menjadi sangat sibuk dengan segala aktivitasnya. Maka yang ada di benaknya hanyalah bagaimana menghasilkan uang, sebanyak banyaknya. Sehingga sebagian besar para ayah akan merasa tidak bersalah jika mereka tidak bisa menemani anaknya belajar. “Kan saya sudah kerja, masak saya harus menemani mereka belajar juga?”

Pikiran ini dimiliki oleh banyak ayah di negeri ini. Mereka lebih mengedepankan menyelamatkan kebutuhan dunia daripada harus mengatur waktunya untuk ananda tercinta. Padahal pada prakteknya sebenarnya mereka tidak perlu lembur dan banyak kerja, penghasilan mereka sudah cukup. Hanya saja seringkali alibi ini dipakai para ayah untuk membenarkan tindakan mereka. “Kalau saya tidak lembur, siapa coba yang akan membayar tagihan tagihan bulanan itu?”

Di sudut lain, ada pemikiran yang berbeda. Beberapa ayah berpikir bahwa merekalah yang harus bisa diandalkan oleh anak anaknya dalam hal menemani mereka belajar. Mereka sangat paham, bahwa pendidikan anak tidak bisa diserahkan kepada siapapun kecuali diri mereka sendiri.

Istri tidak mereka anggap sebagai tersangka dari ketidakberesan pendidikan anak anaknya. Tetapi merekalah yang akan menyalahkan diri mereka sendiri tatkala pendidikan anak anaknya tidak beres. Seorang ayah akan sangat bertanggungjawab terhadap pendidikan anak anaknya. Kepada siapa mereka belajar, dengan apa mereka belajar, dan apa yang harus mereka pelajari.

Mereka tidak akan memberikan kewajiban mendidik ini kepada orang lain. Tidak kepada istrinya, tidak kepada keluarga besarnya, tidak kepada kakak dan adiknya. Tetapi tanggungjawab itu langsung mereka ambil sebagai bagian dari keqawaman mereka sebagai suami dan ayah di keluarganya.

Ayah harus melibatkan dirinya secara penuh terhadap pendidikan anak anaknya. Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak memenuhi gambaran sejarah Islam. Dalam buku ‘al-Muhaddithat; The Women Scholars In Islam’, Mohammad Akram Nadwi memberikan banyak contoh bagaimana para ulama kita menyediakan waktu untuk pendidikan putri-putrinya sebagaimana mereka meluangkan waktu untuk tugas-tugas lainnya.

Abu Bakar Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Syajarah al-Baghdadi (350H), misalnya, senantiasa memantau pendidikan putrinya, Amat as-Salam (Ummu al-Fath, 390 H) di tengah kesibukannya sebagai hakim. Diriwayatkan oleh al-‘Atiqi, hafalan hadits Amat as-Salam bahkan selalu dicatat oleh sang ayah.

Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Abdillah al-Maghribi al-Fasi (560 H) juga tercatat mengajari putrinya 7 (tujuh) cara baca al-Qur’an, serta buku-buku hadits seperti Bukhari dan Muslim. Walaupun ada yang mengatakan bahwa beliau terlalu sibuk dengan dakwah sehingga tidak pernah punya waktu untuk putrinya, namun hal ini dibantah oleh Imam al-Dhahabi yang mengatakan bahwa sulit dipercaya jika ada ulama yang berperilaku seperti ini, sebab “perbuatan seperti ini merupakan keburukan yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW. Sang teladan bagi umat manusia ini biasa menggendong cucunya bahkan ketika sedang shalat.”

Contoh lain bisa kita dapati dari riwayat pakar pendidikan Islam Ibnu Sahnun (256H). Disebutkannya, Hakim Isa bin Miskin selalu memanggil dua putrinya setelah shalat Ashar untuk diajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya. Demikian pula dengan Asad bin al-Furat, panglima perang yang menaklukkan kota Sicily, ternyata juga mendidik sendiri putrinya. Nama lain yang tercatat dalam sejarah adalah Syaikh al-Qurra, Abu Dawud Sulayman bin Abi Qasim al-Andalusi (496H) dan Imam ‘Ala al-din al-Samarqandi (539H).

Dari beberapa contoh di atas bisa kita lihat, bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, para ulama tidak melemparkan tanggung jawab kepada istri-istrinya. Begitu intensifnya peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya, hingga tatkala menjelang sakaratul maut pun, seorang ayah yang baik memastikan sejauh mana keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya dengan bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (maa ta’buduuna min ba’dii, al-Baqarah 133).

Nah, sekarang nampak sudah opini bahwa memang seharusnya seorang ayah total memperhatikan pendidikan anak anaknya. Meski dia harus menjadi tulang punggung keluarga, tetapi seorang ayah pantang membiarkan pendidikan anaknya tertelantarkan secara sia sia.

 

%d bloggers like this: