Neraka, Siksa Tiada Jeda

Neraka, Siksa Tiada Jeda

Ini adalah tentang kesudahan orang yang terpedaya oleh dunia, diperbudak oleh syahwatnya. Dunia menjadi obsesinya yang paling utama. Harta di tangannya seolah racun yang akan membinasakannya. Jika dia kaya, foya-foya dan mengumbar nafsunya, tak peduli pula dari mana ia mendapatkan hartanya. Jika dia miskin, tak ada yang diperbuat selain mengeluh dan mencela takdir, cita-citanya hanyalah bagaimana bisa kaya di dunia semata. Kalaupun dia cerdas otaknya, namun bodoh dalam urusan agamanya.

 Tak ada Lagi Bahagia, yang Ada Hanya Derita

Dia merasa enjoy dengan dosa, tak terdetik di hatinya untuk berlaku taat kepada penciptanya. Berpaling dari kitab dan sunah Nabi-Nya. Begitulah keadaannya hingga ajal menjemputnya. Setlah itu, penderitaan dirasakannya dalam seluruh fase akhirat, hingga penderitaan yang paling sempurna, yakni neraka.

Habis sudah masa berleha-leha, tak ada lagi santai apalagi berfoya-foya. Yang tinggal adalah siksa tiada tara dan tanpa jeda. Mereka masuk ke neraka bukan menerjunkan diri atau dijatuhkan, akan tetapi dengan cara dilempar dan dalam keadaan dibelenggu,

Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka disana mengharapkan kebinasaan.” ( QS al-Furqaan 13 )

Sebagaimana mereka di dunia merasa bebas melampiaskan nafsu syahwatnya di dunia, maka mereka dilempar dalam keadaan terkekang oleh belenggu, tidak bisa berontak atau membebaskan dirinya. Karena belenggu tersebut sangat kuat dan panjang, sementara mereka tidak memiliki kekuatan. Tentang seberapa panjang belenggu yang membelit penghuni neraka, Allah mengisahkan,

“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS. Al-Haaqqah 32)

Dan tatkala mereka berbangga dan tidak takut bermaksiat kepada Allah, maka Allah mencampakkan mereka ke neraka dalam kondisi sangat ketakutan karena dilempar ke neraka yang menyala-nyala dan sangat dalam jurangnya. Karena saking takutnya, mereka berharap telah binasa sebelum menyentuh neraka.

Bagaimana tidak ketakutan, mereka dilemparkan bukan hanya dari ketinggian 10 atau 100 lantai gedung bertingkat. Jauhnya mulut jurang hingga dasarnya mencapai 70 tahun lamanya. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan, bahwa suatu hari kami bersama Rasuulullah صلى الله عليه وسلم, lalu kami mendengar suara sesuatu yang menggelegar seperti benda jatuh. Rasuulullah صلى الله عليه وسلم lantas bertanya kepada kami, “Tahukah kalian, suara apa itu ?” Kami menjawab, “Yang tahu hanya Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda,

هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

“Itu adalah suara batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuh puluh musim (tahun) lalu dan sekarang baru mencapai dasarnya.” (HR Muslim)

Tak terbayang betapa takutnya seseorang yang dilempar ke jurang yang begitu dalam. Lebih takut lagi, dasar jurang tersebut bukanlah air, bukan pula batu, akan tetapi api yang menjilat-jilat dan panas luar biasa. Yang dari kejauhan telah terdengar menggelegak, siap melalap dengan kegeraman siapapun yang masuk ke dalamnya.

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara Neraka yang mengerikan, sedang Neraka itu menggelegak, hampir-hampir (Neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (Neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (Al Mulk: 7-8)

 

Dan sepanas apapun jenis api di dunia, itu hanya sepertujuhpuluh saja dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا

“Api kalian (api dunia) hanyalah sepertujuhpuluh dari api Jahannam.” (HR Bukhari)

Siapakah yang mampu bertahan barang sedetik saja berhadapan dengan api neraka? Manusia yang terbuat dari tanah ini tidak akan mampu bertahan dengan api dunia, apalah lagi dengan api neraka. Di mana dalam surat Al-Muddatstsir ayat 27 dan 28 Allah berfirman, “wa maa adraaka maa saqar?” Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? “laa tubqii wa laa tadzar!”, api neraka Saqar itu tidaklah meninggalkan dan tidaklah membiarkan! Yakni tak akan dibiarkan benda apa saja yang dilemparkan ke dalam api Saqar melainkan pastilah akan hancur!

Andai dilemparkan logam terkuat di dunia ke dalam Saqar! Kata setengah ahli, ialah logam tungsten yang biasa dipakai sebagai mata bor atau peluru pelubang baja, itupun akan hancur tak bersisa dimakan Saqar! Lemparkan batu terkuat di dunia ke dalam Saqar! Kata para ahli, ialah batu berlian, pastilah batu berlian itu akan lenyap tak berbekas dilalap api Saqar! Lantas bagaimana dengan kulit manusia?

 Siksa Tanpa Jeda

Ya kulit manusia akan hancur, tapi kehancurannya bukan akhir dari penderitaannya. Digantikan untuknya kulit yang baru agar dia merasakan pedihnya siksa berkali-kali. Allah Ta’ala berfirman,

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ 56)

Maka, sejak pertama tubuh tercelup neraka, sirnalah ingatan mereka terhadap segala jenis kenikmatan yang pernah dirasakan di dunia, meskipun dia adalah orang yang paling banyak mengenyam kenikmatan di dunia.

“Kelak akan didatangkan  penduduk neraka yang paling bahagia sewaktu di dunia, lalu ia dicelupkan ke neraka sekali celupan lantas dikatakan kepadanya,” wahai anak Adam adakah engkau melihat kebaikan? apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?” Ia menjawab,”Tidak, demi Allah wahai Rabbku.” (HR Tirmidzi)

Kalung permata yang melilit leher akan berganti dengan rantai belenggu yang panjangnya tujuh puluh hasta, lezatnya makanan berganti dengan kerasnya duri, ”Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS al-Ghâsyiyah 6-7)

Manisnya buah-buahan akan berganti dengan Zaqum yang mayangnya mengerikan seperti kepala setan, dan panasnya tak terperikan. Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنْ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Seandainya satu tetes zaqum ditetskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan dunia, lalu bagaimana halnya dengan orang yang memakannya?” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih)

Minumanpun juga menjadi siksa, bukan sesuatu yang membuat segar di tenggorokan, tidak pula berkhasiat menghilangkan haus dan dahaga. Firman Allah,

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah (ghassâq)..” (QS an-Naba’ 24-25)

Adapun ‘ghassaq’ adalah campuran dari seluruh kotoran yang keluar dari tubuh penghuni neraka, sebagaimana yang disebutkan para mufassir.

Jika makanan dan minuman menjadi siksa, lantas bagaimana dengan siksa yang lain?

Yang jelas, mereka tidaklah menganggur di neraka. Ada makhluk yang menyibukkan dan menambah penderitaan mereka. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Dari Abdullah bin Khaliq bin Jundub Al-Jabili dia berkata, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di Neraka ada enam ular bagaikan leher-leher onta yang menyengat seorang di antara penghuni Neraka tersebut maka ia rasakan panasnya selama tujuh puluh tahun. Dan di dalam Neraka ada kalajangking-kalajengking yang besarnya bagaikan keledai dan satu di antaranya kalajengking tersebut menyengat seorang penghuni Neraka maka ia rasakan pedihnya sengatan tersebut selama empat puluh tahun.”

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Akan keluar pada hari kiamat leher dari api Neraka yang memiliki dua mata melihat, dua mata mendengar, dan lisan berbicara, “saya diperintahkan untuk menyiksa tiga orang. (pertama) Orang yang sombong lagi keras kepala, (kedua) orang yang menyembah kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, dan (ketiga) orang-orang yang menggambar.”

Cukuplah menjadi gambaran kengeriannya, bahwa siksa paling ringan bagi penduduk neraka adalah, ketika diletakkan kerikil di telapak kakinya, otaknya mendidih karenanya. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ

“Sesungguhnya siksa bagi penduduk neraka yang paling ringan di hari Kiamatt adalah seseorang yang telapak kakinya diberi bara api, lalu otaknyamendidih karenanya.” (HR al-Bukhâri)

Itulah kesengsaraan yang tak diselingi kesenangan, siksa yang sama sekali tak mengenal jeda. Kita berlindung diri kepada Allah dari siksa neraka. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: