Mencoba Saling Memahami

Air Sejuk Nasihat

Hampir satu tahun berlalu ketika saya mendapat undangan untuk membedah sebuah buku tentang curhat seorang istri di ibukota. Beberapa bulan kemudian membedah ‘pasangan’ buku itu sebagai pembanding. Secara umum, isinya tentang keinginan masing-masing ingin agar pasangannya bisa memahami dirinya dengan baik, agar hubungan mereka semakin berkualitas.

Sekarang hal ini menjadi trend dalam kajian-kajian bertemakan keluarga sakinah. Jadwal saya padat dengan permintaan kajiaan bertemakan ‘suamiku dengarkanlah curhatku’, sampai beberapa bulan ke depan. Gejala apa ini? Kesadaran untuk bisa memahami pasangan dengan lebih baik sedang tumbuh, atau banyak keluarga yang merasa tidak dimengerti karena gagal berkomunikasi, atau keduanya?

Yang saya bedah, sebenarnya, bukan buku baru. Namun tema yang cenderung ‘abadi’ tentang rahasia pernikahan bahagia, yaitu pemahaman yang baik tentang pasangan, jelas punya nilai kekinian yang sangat cukup untuk selalu dikaji. Dan buku ini bisa menjadi batu loncatannya. Apalagi faktanya, banyak pasangan suami istri yang gagal mewujudkan keluarga bahagia meski mereka sama-sama memiliki niat baik. Sehingga terasa aneh jika kedua belah pihak yang sama memiliki niat untuk bahagia, namun akhirnya gagal meraihnya.

Tapi fakta menunjukkan fenomena itu. Bahwa kebahagiaan keluarga tak cukup dibangun hanya dari niat baik semata. Selain faktor ilmu yang memadai sebagai bekal, faktor pamahaman akan pasangan memiliki saham yang kuat untuk mencapai kebahagiaan yang didambakan itu. Bukan saja akhirnya, masing-masing lebih bisa memahami, mengerti, dan menghargai pasangan, namun juga menjadi lebih sehat dalam berkomunikasi. Mendudukkan persoalan secara benar dan proporsional dan bukan hanya berdasarkan asumsi. Sebab kenyataan yang harus diterima dengan baik oleh pasangan suami istri adalah bahwa lelaki dan perempuan tidak sama, dan tidak akan pernah sama, sampai kapanpun.

Para perempuan yang secara alami memiliki kecenderungan ‘keluar gua’, atau tidak sabar untuk membagi persoalan yang dihadapinya kepada orang lain, nyatanya tidak mudah membaginya justru kepada para suami mereka. Keenganan itu muncul, entah karena suami memang terlihat sangat sibuk sampai tidak memiliki waktu untuk sekedar berbincang ringan dan santai, atau adanya kekhawatiran jika gayung tak bersambut sehingga menambah luka hati, atau malah khawatir jika pembicaraan yang diinginkan menjadi tambahan beban suami yang sudah terlihat berat.
Dengan bahaya isyarat dan pertanda, para istri ingin agar para suami bisa mengerti dan memahami posisi mereka. Namun seringkali hal itu tidak mudah karena berbagai hal. Sehingga momen kajian dengan tema seperti ini menjadi ajang untuk memahamkan kepada para suami tentang siapa sebenarnya para perempuan yang kini menjadi para istri itu. Tentang perbedaan mereka dengan para lelaki, harapan dan keinginan, hingga sikap seperti apa yang mereka rindukan dimunculkan para suami dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam situasi seperti inilah, seringkali saya merasa menjadi juru bicara para istri kepada para suami untuk bisa menyampaikan berbagai persoalan itu. Mereka berharap saya bisa berbicara dengan jelas dan runtut, lengkap dengan dalil-dalil tanggung dibutuhkan, sedang saya berharap para suami yang mendengarkan menemukan pencerahan. Apalagi dengan pendekatan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di sisi Allah kelak. Agar kita tidak menjadi arogan dan sensitif ketika diingatkan akan tanggung jawab sebagai suami atau istri, untuk kemudian marah-marah secara emosional.

Sebab pernikahan tidak bisa kita klaim sebagai milik kita sendiri, sehingga mengabaikan batasan syar’i tentang hak dan kewajiban dengan alasan ini rumah tangga saya, dan melarang orang lain untuk ikut campur. Tetapi pernikahan adalah ibadah yang jika syarat penerimaannya diabaikan, maka akan sangat melelahkan bagi pelakunya tanpa jaminan penerimaan dari Allah sebagai amal shalih kita.

Berbagai kajian ini adalah upaya saling menasihati dan mengingatkan agar kita melakukan semua tindakan kita dengan sadar dan bertanggung jawab, berdasarkan ilmu yang cukup dan keikhlasan hati agar menjadi tambahan amal shlih kita di sisi Allah, dan bukan menjadi ajang eksploitasi pasangan dengan berlindung di balik dalil-dalil syar’i. Juga sebagai alat bantu untuk melihat posisi pasangan kita secara lebih adil. Bahwa kita tidak bisa mengabaikan perasaan pasangan dalam hidup berumah tangga sebab dia juga bekerja keras untuk kebahagiaan keluarga dan berharap hasil yang setimpal. Di sisi lain, harapan mewujudkan keluarga yang bahagia, yang samara, betul-betul merupakan kerja ta’awun yang melibatkan seluruh anggota keluarga sehingga menjadi ringan dan melegakan.

Saya berdoa agar diberi kesehatan agar upaya menghidupkan kajian-kajian keluarga bisa memberi manfaat yang maksimal. Karena saya rindu melihat keluarga-keluarga yang bahagia dalam arti yang sebenarnya. Kententraman batin yang kuat, komunikasi yang sehat, hingga output berpa anak-anak shalih sebagai tabungan akhirat benar-benar bisa terwujud. Semoga!

%d bloggers like this: