Menebas Benalu

Kepemimpinan yang Mandul

Jika kita memperhatikan alam, sungguh telah banyak ditebar iktibar oleh Allah. Sebatang pohon buah yang produktif, jika salah satu cabangnya ditempeli oleh benalu, maka produktivitas buah di cabang tersebut pasti terganggu.

Jika benalu itu dibiarkan, tidak segera dipangkas, cabang yang bersangkutan bahkan akan mati. Jika benalu dibersihkan ketika baru mulai tumbuh, membersihkannya lebih mudah, karena akar tumbuhan pengganggu itu belum masuk kedalam inti batang. Apabila terlambat memangkasnya, akarnya masuk kedalam batang, tidak dapat dibersihkan kecuali cabang tersebut dipotong hingga ke ujungnya.

Mengontrol secara rutin untuk mengantisipasi agar pohon-pohon produktif tidak ditempeli oleh tumbuhan pengganggu merupakan keharusan, sehingga tindakan pembersihan dapat dilakukan sebelum terlambat, tidak ada cabang yang harus diamputasi.

Pemerintahan dan kekuasaan, dalam keadaan sehatnya, yakni ketika motivasi mengambilnya bukan untuk menikmatinya tetapi dalam rangka menunaikan amanah yang terkandung padanya dengan jujur dan adil, dan person yang mengambilnya mempunyai kapasitas untuk menunaikan amanah tersebut, akan membawa kemaslahatan rakyat yang diperintah. Jika motivasi dasarnya karena iman kepada Allah dan hari akherat, bahkan akan menjadi wasilah (sarana) bagi pelaksananya untuk mendekatkan diri kepada Allah, selain maslahat yang didapat oleh rakyat.

Mafia Merupakan Benalu

Sektor energi dalam kehidupan rakyat Indonesia yang populasinya kisaran 250 juta jiwa ini, merupakan sektor strategis. Menyediakan kebutuhan energi bagi rakyat sebanyak itu tentu merupakan beban yang menekan pundak siapapun yang memandang kekuasaan sebagai amanat yang harus ditunaikan hak-haknya.

Sebaliknya, bagi yang rakus terhadap dunia dan kemewahannya, sungguh merupakan peluang untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan. Distribusi, subsidi, selisih harga, semua dapat dieksploitasi untuk memenuhi hasratnya terhadap kekayaan.

Para pemburu keuntungan itu, adalah mereka yang naluri bisnisnya tajam, tetapi dalam dirinya tidak dilengkapi dengan kendali keimanan, atau setidaknya kendali moral yang mengarahkan dan mengendalikan ketajaman naluri tersebut untuk tidak mengambil keuntungan di atas penderitaan orang banyak.

Mereka menempel, menembus dan merasuk dalam urat nadi sistem distribusi kebutuhan pokok rakyat secara permanen, sehingga karena menempel pada sistemnya, pergantian pejabat pemerintahan tidak secara otomatis memangkas eksistensi mereka. Mereka berusaha untuk menyesuaikan diri jika terjadi perubahan iklim pemerintahan, sehingga tetap bisa hidup dan mempertahankan eksistensinya.

Pada stadium lanjut, -dengan kekuatan uangnya- mereka bahkan dapat menekan dan menentukan siapa yang akan menjadi pejabat, tentu dengan konsesi dan keuntungan bagi kelompoknya. Berbagai kartel narkoba di Amerika Selatan merupakan contoh nyata.

Di Indonesia, mafia migas menjadi benalu kronis yang menghisap hak-hak rakyat. Pergantian rezim pemerintahan tidak mampu mengeliminasi eksistensi mereka, apalagi menghilangkannya. Pembentukan Komite Reformasi Tata Kelola Migas yang diketuai Faisal Basri membuktikan, betapa benalu yang menghisap kebutuhan dan hak-hak rakyat tersebut sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Faisal Basri berkata, sebagaimana dikutip oleh detikFinance, “Mafia migas adalah para pemburu rente yang memiliki kedekatan dan pengaruh terhadap para pejabat tinggi pengambil keputusan yang berdampak pada tidak optimalnya produksi migas, inefisiensi, dan ekonomi biaya tinggi pada penyediaan BBM serta mata rantai supply gas. Hal tersebut juga difasilitasi oleh kelemahan peraturan yang berlaku”. [detikFinance, selasa, 18/11/2014].

Misi mafia migas sangat jelas, mereka memburu keuntungan. Tetapi keuntungan itu dikejar tidak melalui mekanisme perdagangan yang wajar, bahkan sebagian dari mata rantai mafia tersebut mempertebal kantongnya dengan fee, sebagian yang lain dengan membuat regulasi (peraturan, perundangan). Mereka tidak hanya dekat dengan para pejabat tinggi pengambil keputusan, tetapi memiliki pengaruh ; suatu keputusan dikeluarkan atau tidak, sebuah regulasi harus seperti apa dictum-nya, sebuah tender proyek diserahkan kepada siapa, para mafia itu memiliki pengaruh.

Mereka tidak bertanda tangan atas keputusan suatu departemen, tetapi pengaruh mereka ada dalam keputusan itu. Regulasi tata kelola bahan bakar minyak dan suplai gas mereka tidak mengeluarkannya, tetapi mereka diuntungkan dengan regulasi itu, dst.

Lebih lanjut Faisal Basri menjelaskan, begitu besarnya kedekatan dan pengaruh para mafia tersebut, hingga seharusnya kilang minyak baru mesti dibangun untuk mencukupi kebutuhan rakyat yang populasinya terus bertambah, tidak dilakukan, akibatnya produksi turun drastis, sementara konsumsi terus menanjak. Sudah sejak 25 thn yang lalu keinginan untuk membangun kilang baru, tetapi hingga kini tidak ada realisasinya, padahal kemudahan dan insentif telah diberikan, demikian menurut Menkeu Bambang Brodjonegoro. [detikfinance, selasa, 18/11/2014].

Yang lebih tragis, peralatan kilang pengolahan yang dimiliki pertamina sudah begitu tertinggal, tidak efisien, sehingga biaya produksi membengkak. Lebih murah membeli minyak olahan dari Singapura dibandingkan mengolah sendiri. Kapasitas tangki untuk menimbun BBM yang seharusnya dibangun juga tidak dilakukan, gas bumi yang seharusnya lebih banyak untuk memenuhi kepentingan di dalam negeri, lebih banyak dieksport, karena mereka mengambil keuntungan disitu.

Hilangnya Amanah

Identifikasi sumber masalah, dalam batas tertentu telah berhasil ditemukan oleh kabinet yang baru ini. Selanjutnya, apakah solusi yang akan diambil benar ; baik benar dalam jangka pendek, menengah maupun panjang masih harus disimak sepanjang perjalanan pemerintahannya. Keberhasilan menjalankan solusi yang diambil sangat tergantung kepada ada tidaknya syarat internal dalam tubuh organisasi pemerintahan tersebut dan mampu tidak menghadapi tantangan eksternal yang pasti berusaha untuk menggagalkannya.

Syarat internal itu terutama adalah kekuatan dan sifat amanah sebagaimana disimpulkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taymiyah di dalam tulisannya ‘As-Siyasah asy-Syar’iyyah’. Kesederhanaan akan mengerem dari penggunaan anggaran secara boros, juga bisa mencegah gaya hidup mewah.

Efeknya dia dapat merasakan kesulitan yang dihadapi rakyat dan terdorong untuk menunaikan hak-hak rakyat sesuai dengan amanatnya. Hal ini akan menumbuhkan energi internal untuk menjalankan solusi ‘ideal-realistik-bertahap’ yang telah dirumuskan dan menghadapi tantangan eksternal yang timbul betapa pun besarnya.

Solusi realistik jangka pendek tentu saja menebas benalu mafia yang telah berurat berakar begitu lama, mencari keuntungan dari menghisap pengelolaan, distribusi dan subsidi kebutuhan pokok rakyat. Jika dipandang perlu struktur arteri dan urat nadi yang seharusnya melayani rakyat, ternyata telah berubah orientasi, menjadi inang yang melayani benalu tersebut, sekalian dibabat.

Dalam perspektif Islam, para mafia yang memiliki kedekatan dan pengaruh terhadap penentuan hajat hidup pokok rakyat banyak ini, termasuk kategori menempatkan orang yang tidak memiliki kompetensi dan bahkan korup terhadap suatu amanah. Tindakan itu, atau membiarkan tindakan tersebut tanpa koreksi, termasuk dalam kategori kriminal mengkhianati Allah, rasul-Nya dan kaum muslimin.

Ini tantangan pertama sekaligus pembuktian awal apakah mereka benar-benar berpihak kepada rakyat. Jika gagal pada babak ini, sepertinya tidak ada yang dapat diharapkan sesudahnya.

%d bloggers like this: