Mulianya Bekerja Tercelanya Meminta-Minta

Mulianya Bekerja Tercelanya Meminta-Minta

Mungkin pembaca masih ingat berita menghebohkan beberapa tahun yang lalu, ada seorang yang berprofesi sebagai pengemis tapi kaya raya. Cak To nama panggilannya. Dibesarkan di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan akhirnya menjadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari mengemis itulah ia memiliki dua sepeda motor, mobil tampan, dan empat rumah mewah. Saat itu, setiap hari ia mengaku mendapatkan laba bersih dari Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam waktu satu bulan, ia memiliki pendapatan sebesar Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Di tempat yang lain kita disuguhi pemandangan yang bertolak belakang dengan fenomena di atas. Di pinggiran kota Solo, ada seoarng ibu tua yang setiap hari jualan gorengan di pasar. Setelah shalat Subuh ia sudah berangkat untuk menjajakan gorengannya, menjelang dhuhur baru pulang. Berapa penghasilannya sehari? 5 ribu rupiah. Ya, hanya 5 ribu rupiah. Cukup untuk beli beras setengah kilogram. Namun dengan profesinya selama ini dan penghasilan yang sangat minim tersebut, ia tidak pernah mengeluh.

BACA JUGA: Malu Berbuat Mulia

Ibu tua tersebut sejatinya lebih mulia dari bos pengemis yang kaya raya. Meskipun sebagian orang kadang melihat sebelah mata dan meremehkannya. Bekerja keras dengan cara yang halal, meskipun dipandang hina oleh manusia, sejatinya lebih baik dan mulia daripada meminta-minta. Rasulullah saw bersabda,
“Sungguh jika salah seorang dari kalian mengambil tali, lalu pergi ke gunung (untuk mencari kayu bakar), kemudian dia pulang dengan memikul seikat kayu bakar di punggungnya lalu dijual, sehingga dengan itu Allah menjaga kehormatannya. Maka ini lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia, diberi atau ditolak.” (HR.Bukhari dan Nasa’i)

Ada anggapan sebagian orang bahwa gigih mencari nafkah dengan cara yang benar sehingga hidupnya berkecukupan, agar hidup mandiri, bisa mencukupi semua kebutuhan rumah tangga dan tidak menjadi beban orang lain merupakan cinta dunia yang menodai sikap zuhud.

Padahal para nabi dan rasul telah memberikan contoh kepada kita dalam bekerja dan berusaha. Nabi Zakaria as menjadi tukang kayu, nabi Idris as menjahit pakaian, nabi Daud as membuat baju perang dan Rasulullah saw adalah pedagang. Sehingga bisa dikatakan, bekerja untuk bisa hidup mandiri merupakan sunah para utusan Allah.

Allah swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ …

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar“. (QS. Al Furqan : 20)

Maksud ayat tersebut menurut ulama’ , mereka berniaga dan memiliki keahlian (berwira usaha).
Para ulama salaf, mereka tergolong orang-orang yang rajin bekerja dan ulet dalam berusaha, tapi mereka juga gigih dan tangguh dalam menuntut ilmu dan menyampaikannya.

Mari kita lihat kehidupan Abdullah bin Mubarak, Imam besar ternama dari kalangan Atba’ut Tabi’in (generasi setelah tabi’in), yang terkenal dengan ketekunan ibadahnya dan juga zuhudnya terhadap dunia. Suatu saat Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertanya kepadanya, “Engkau memerintahkan kepada kami untuk hidup zuhud, tidak berlebihan dan sederhana dalam kehidupan dunia. Tapi kami melihat engkau mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke Tanah Haram/Mekkah untuk dijual, bagaimana ini?” Abdullah bin Mubarak menjawab, “Sesungguhnya aku melakukan semua itu hanya untuk menjaga mukaku dari kehinaan meminta-minta, memuliakan kehormatanku (agar tidak menjadi beban orang lain), dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah.” Lalu Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Wahai Abdullah bin Mubarak, alangkah mulianya tujuanmu itu jika semuanya benar-benar terbukti.”

Ternyata ucapan beliau benar-benar terbukti. Beliau orang yang sangat terkenal dermawan, membantu orang miskin dengan sumbangan harta sangat besar setiap tahun, membiayai semua perbekalan orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersama beliau.

Rasulullah juga menerangkan, jika seseorang bekerja keras untuk mendapatkan harta, yang dengannya ia bisa memberi nafkah kepada diri dan keluarganya maka itu termasuk sedekah.

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Makanan yang engkau berikan pada dirimu, maka bernilai sedekah. Begitu pula makanan yang engkau berikan pada anak dan istrimu, itu pun dinilai sedekah. Bahkan makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah” (HR. Ahmad).

Sedangkan terhadap para peminta-minta yang mampu bekerja, Rasulullah memperingatkan akan balasannya:
Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda:
“Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain tanpa ada kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.” (HR. Ahmad)

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan kita semua sebagai hamba-Nya yang bersyukur dan qana’ah atas segala nikmatnya. Merasa cukup dengan apa yang ada, serta menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta.

Kalau bisa, selalu jadilah pemberi jangan peminta, karena hal itu lebih mulia. Rasulullah bersabda:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ

“Tangan yang diatas, itu lebih baik dari pada tangan yang dibawah.Tangan yang di atas adalah tangan yang memberi dan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bis shawwab.