Pesan Dari Alam

Pesan Dari Alam

Musim hujan belum lama berlangsung. Tidak berbeda jauh dengan tahun-tahun yang lalu, banjir, puting beliung dan tanah longsor segera mengiringi kedatangan musim hujan, bahkan ketika musim hujan baru dimulai. Rasanya, berita kekeringan dengan segala yang menyertai ; kebakaran hutan, kabut asap, pengiriman truk-truk tangki air minum, masih terngiang di telinga. Berita pembagian masker asap, penundaan penerbangan karena terbatasnya jarak pandang, penyakit ISPA pun segera berganti dengan berita merebaknya diare, endemi demam berdarah dan penyakit kulit sebagai dampak lanjutan banjir.

Mengapa kemarau-nya merupakan kesusahan dan penghujan-nya musibah? Mengapa negeri yang disanjung dan diminati banyak pelancong karena amplitudo suhunya yang bersahabat dan tidak ekstrem itu berubah menjadi tidak bersahabat dan (hampir) selalu dirundung duka?

Barangkali alam membawa pesan dari Pencipta-nya. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum : 41).

Bencana, antara Teguran dan Ujian

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Lathif bin Khathib dalam tafsirnya Audhoh at-Tafasir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan ‘nampak kerusakan’ yaitu merebaknya perbuatan-perbuatan maksiat/kedurhakaan. Hal itu mencuat dalam bentuk ‘pengaruh’ dari perbuatan maksiat tersebut dan ‘akibat-akibatnya’. Tanda-tanda alam seperti kekeringan, menurunnya produktivitas pertanian, merosotnya hasil tangkapan ikan para nelayan akibat cuaca yang tidak bersahabat, rusaknya ekosistem laut karena eksploitasi berlebihan, ombak besar yang mengganggu pelayaran, nelayan libur melaut, banyaknya kapal tergulung ombak yang mengakibatkan kematian dan kerugian materi. Semua itu menandakan dicabutnya ‘keberkahan’ hidup oleh Allah karena kekafiran dan kemaksiatan manusia.

Hal itu sebagai peringatan, juga cicipan hukuman dari sebagian akibat tindakan durhaka dan kemaksiatan mereka, hanya sebagiannya,…sebab jika akibat total kedurhakaan dan kemaksiatan manusia ditimpakan kepada mereka di dunia,… “… sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di permukaan bumi suatu mahluk melatapun (yang dimaksud adalah manusia)…” (Fathir : 45). Adapun total hukuman kemaksiatan itu, beserta ‘bunga’-nya akan ditunaikan penuh di akherat nanti.

Memang tidak selamanya musibah dan bencana yang menimpa umat ini disebabkan pelanggaran dan kemaksiatan. Terkadang umat yang mentauhidkan Allah, beribadah dan beraklaq terpuji, Allah mengujinya dengan wabah penyakit. Ketika Abu ‘Ubaidah bin Jarrah menjabat gubernur Syam dimasa Khalifah ‘Umar, terjadilah tha’un Amawas, detasemen tentara di bawah pimpinan beliau terkena dampaknya, 36.000 pasukan beliau tinggal tersisa 6.000 saja. Bahkan beliau termasuk yang wafat terserang pandemi tersebut. Mu’adz bin Jabal pengganti beliau, ketika puncaknya wabah didesak oleh rakyat untuk memohon kepada Allah agar ‘adzab’ tersebut dihilangkan. Namun beliau justru berpidato, “Wahai manusia, ini (thaun) bukan adzab, tetapi doa Nabi kamu sekalian, sebab kematian orang-orang sholeh sebelum kalian, dan sebab kesyahidan orang-orang yang dikhususkan oleh Allah diantara kalian”. (Siyar A’lam an-Nubala’, Imam Adz-Dzahabiy).

Kejujuran Menilai Indikator

Ada perbedaan mendasar yang dapat dilihat untuk menjadi acuan memilah dan membedakan mana yang merupakan teguran dan mana yang bernilai ujian. Dalam pandangan Islam musibah dan bencana dikategorikan sebagai cicipan adzab, manakala manusia yang ditimpa oleh bencana tersebut berbuat maksiat dan kedhaliman. Bencana dalam kondisi seperti itu adalah cicipan siksa dan teguran agar mereka menyadari kesalahan dan bertaubat. Jika yang tertimpa kesulitan dan kesakitan tersebut umat yang bertauhid, beribadah dan menunaikan hak-hak Allah dengan baik, juga hak-hak makhluq-Nya, maka para salaf mempersepsi sebagai atsar dari doa Nabi, sebab kematian orang-orang sholeh, bahkan pintu kesyahidan dari sebagian dari mereka.

Jika Allah telah menetapkan suatu taqdir, maka Dia menciptakan penyebabnya. Pada titik penyebab inilah penilaian akan hakekat apa yang terjadi menjadi semakin jelas. Pada kejadian thaun Amawas (misalnya), barak-barak pasukan dan pemukiman penduduk berada di lembah-lembah di bumi Syam. Udara lembab dan berbagai hal yang kurang sehat memicu berkembangnya bibit penyakit yang menyebabkan wabah terjadi. Perintah Amir al-Mukminin ‘Umar bin Khaththab untuk memindahkan penduduk dan pasukan Islam di tempat-tempat yang tinggi sehingga lebih sehat, baru datang setelah wabah merebak. Pemindahan penduduk adu kecepatan dengan penyebaran wabah.

Falsafah Madiyah (Materialisme)

Berbeda dengan contoh di atas, bencana yang akrab menemani masyarakat hari ini, dipicu dari sebab paling mendasar, sistem kehidupan yang berasaskan falsafah madiyah (materi, kebendaan), sekularistik, (mengisolasi peran agama dari kehidupan). Sistem politik dibangun semata-mata mengejar kekuasaan, kekuasaan mengabdi kepada kepentingan materi, jauh dari digunakan meng-edukasi rakyat untuk ta’at kepada Allah dan menjalankan aturan-Nya, karena sejak awal sekularisme telah menepikan peran agama dalam kehidupan.

Karena materialistik, maka wataknya eksploitatif ; rakus, dhalim dan menindas merupakan keniscayaan, meskipun dibalut dengan regulasi dan pilihan kalimat-kalimat metafor dan eufemistik. Penyalahgunaan kekuasaan tidak selalu dalam tampilan kasar dan primitif (meski hal itu tidak sama sekali ditinggalkan). Dalam sistem politik demokrasi, penyalahgunaan wewenang, pengkhianatan terhadap rakyat, eksploitasi kekayaan alam dan dijualnya untuk kepentingan asing dibalut dengan regulasi. Maling primitif, menggunakan linggis untuk beraksi, tetapi sistem kekuasaan dhalim, eksploitatif dan mengabdi kepada kepentingan asing menggunakan regulasi dalam beraksi. Perusakan keseimbangan hutan, perbuatan kriminal yang meniscayakan bencana rutin dan kerusakan permanen itu, berlindung di balik regulasi alih fungsi hutan yang disahkan oleh lembaga legislatif, daerah maupun pusat. Penggunaan lahan tidak sesuai dengan peruntukan, sering terjadi akibat lemahnya kekuasaan eksekutif di hadapan pemilik kapital.

Contoh negatif yang diperagakan para pemimpin, tindakan dan kebijakan yang tidak mempertimbangkan kebaikan jangka panjang, hanya mengejar keuntungan pragmatis selagi masih berkuasa, lambat laun merembes kepada rakyat dan melembaga menjadi pola tindakan. Rakyat dengan segala kesulitan hidup dan keterbatasan lahan, rumah tempat tinggal yang berdiri di lahan kritis rawan longsor. Sedikit hutan yang tersisa, mereka potong untuk dijadikan huma. Sedikit sisa lahan di belakang atau di samping rumah, masih juga dibuat kolam ikan. Sehingga dinding tebing bertanah merah gembur tersebut, benar-benar potensial bencana sewaktu-waktu, terutama bila hujan deras turun.

Sistem yang materialistik memang meniscayakan bencana. Bahkan materialisme itu sendiri memang bencana. Telinga yang tuli tidak mungkin mampu mendengar bisikan pesan dari alam tersebut.