Bara’ terhadap Aliran Sesat

Bara’ terhadap Aliran Sesat

Syarah Akidah Thahawiyah
(Matan Terakhir)

فَهَذَا دِيْنُنَا وَاعْتِقَادُنَا ظَاهِراً بَاطِنًا وَنَحْنُ بَرَاءٌ إِلَى اللهِ مِنْ كُلِّ مَنْ خَالَفَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ وَبَيَّنَّاهُ وَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُثْبِتَنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ وَيَخْتِمَ لَنَا بِهِ وَيَعْصِمَنَا مِنَ اْلأَهْوَاءِ الْمُخْتَلِفَةِ وَاْلآرَاءِ الْمُتَفَرِّقَةِ وَالْمَذَاهِبِ الرَّدِيَّةِ مِثْلُ الْمُشَبِّهَةِ وَالْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ وَالْجَبْرِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الَّذِيْنَ خَالَفُوا السُنَّةَ وَالْجَمَاعَةَ وَحَالَفُوا الضَّلاَلَةَ وَنَحْنُ مِنْهُمْ بَرَاءٌ وَهُمْ عِنْدَنَا ضُلَّالٌ وَأَرْدِيَاءٌ وَبِاللهِ الْعِصْمَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

Inilah agama dan akidah kita—lahir dan batin. Kita bara` kepada Allah dari semua yang menyelesihi semua perkara yang telah kita sebut dan kita jelaskan. Kita memohon kepada Allah ta’ala agar Dia meneguhkan kita di atas iman dan menutup usia kita dengan iman pula serta memelihara kita dari berbagai hawa, pendapat, dan aliran yang sesat seperti Musyabbihah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Jabriyah, Qadariyah, dan yang lain; yakni mereka yang menyelisihi sunnah dan jamaah. Mereka yang bersekutu dengan kesesatan. Kita bara` dari mereka dan menurut kita mereka adalah orang-orang yang sesat dan hina. Keterpeliharaan dan taufik hanya datang dari Allah.

Abu Ja’far ath-Thahawiy menutup matan Akidah Thahawiyah dengan pernyataan yang lugas dan tegas bahwa Islam meliputi lahir dan batin. Bahwa semua yang telah beliau urai pada matan-matan sebelumnya adalah bagian dari Islam. Sebagiannya perkara lahir dan sebagian yang lain perkara batin. Islam tidak memisahkan antara lahir dan batin. Allah berfirman,

“Tinggalkan dosa-dosa lahir dan batin!” (Al-An’am: 120)

Ada dosa-dosa lahir dan ada dosa-dosa batin. Amal pun seperti itu.

Menganggap Islam hanya yang lahir atau hanya yang batin adalah kesalahan. Termasuk kesalahan pula pernyataan bahwa masyarakat awam dibebani dengan yang lahir, sedangkan masyarakat khusus dibebani dengan yang batin.

Kenapa Firqah Sesat

Ahlussunnah berbara` (antiloyal) kepada siapa saja yang menyelisihi perkara-perkara prinsip—bukan perkara-perkara cabang/hasil ijtihad—yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Mereka melempar al-Qur`an ke belakang punggung dan lebih memilih untuk mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Mereka meninggalkan Jamaatul Muslimin dan mengutamakan jalan kesesatan.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi perkara cabang/hasil ijtihadi, maka Ahlussunnah tidak bara` terhadap mereka. Meskipun pendapat yang diikuti adalah pendapat yang marjuh (tidak kuat), selama pendapat itu adalah pendapat para ulama terdahulu.

Selanjutnya Abu Ja’far menyebut beberapa firqah atau aliran sesat yang Ahlussunnah bara` terhadap mereka.

Musyabbihah

Musyabbihah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan atau menyerupakan makhluk dengan Allah. Paham tasybih dalam Islam pertama kali dikemukakan oleh Abdullah bin Saba’, seorang rahib Yahudi yang berpura-pura masuk islam dan akhirnya merusak Islam dari dalam.

Imam Ahmad berkata, “Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengaranku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seperti tanganku.”

Ishaq bin Rahawaih—guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim—berkata, “Tasybih itu terjadi ketika seseorang mengatakan, ‘Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku.’ Inilah yang dinamakan Tasybih. Adapun jika seseorang menyifati Allah dengan seperti yang Dia firmankan, ’Tangan, pendengaran, penglihatan,’ kemudian ia tidak mengatakan, ’Bagaimana’ dan ’Seperti,’ maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman, ‘Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ (Asy-Syura:11).”

Mu’tazilah

Mu`tazilah adalah aliran sesat yang pernah menggemparkan dunia Islam selama lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang menghebohkan. Selama waktu itu pula kelompok ini telah menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para ulama Ahlussunnah yang bersikukuh dengan pedoman mereka.

Sejarah munculnya aliran Mu’tazilah oleh para kelompok pemuja aliran Mu’tazilah tersebut muncul di kota Basrah Irak pada abad ke 2 Hijriyah antara tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin AbdulMalik. Pelopornya adalah seorang penduduk Basrah mantan murid Hasan al-Basri yang bernama Washil bin ‘Atha.

Abu Hasan Al-Kayyath di dalam kitabnya Al-Intisar berkata, “Tidak ada seorang pun yang berhak mengaku sebagai penganut Mu`tazilah sebelum ia mengakui al-Ushul al-Khamsah (Lima Pondasi) yaitu Tauhid, Adil, Wa`ad wal Wa`id, Manzilah baina Manzilatain, dan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar.”

Yang mereka maksudkan dengan Tauhid adalah menegasikan sifat-sifat Allah. Yang mereka maksud dengan Adil adalah bahwa Allah akan menyiksa dan memberi pahala untuk para hamba-Nya atas apa yang mereka kerjakan, dan karena itu mereka bebas—tidak terkait dengan kehendak-Nya. Adil versi Mu’tazilah sama dengan akidah Qadariyah.

Yang mereka maksud dengan Wa’ad wal Wa’id adalah bahwa Allah tidak akan mengingkari janji; baik janji akan memasukkan seseorang ke dalam surga ataupun ke dalam neraka. Maknanya, tidak ada yang namanya syafaat atau ampunan Allah di akhirat. Sebab dengan begitu berarti Allah tidak menepati janji. Yang mereka maksud dengan Manzilah baina manzilatain adalah bahwa pelaku dosa besar itu tidak lagi mukmin tetapi juga tidak kafir. Hanya saja tempat mereka kelak adalah di neraka bersama orang-orang kafir.

Dan yang mereka maksud dengan Amar Makruf Nahyi Munkar adalah kebolehan mengangkat senjata dan memerangi penguasa muslim yang memberlakukan al-Qur`an dan as-Sunnah lantaran ia melakukan suatu dosa besar.

Jahmiyah

Nama Jahmiyyah dinisbatkan kepada tokoh pengusungnya, Jahm bin Shafwan yang berasal dari Khurasan dan muncul pada abad kedua Hijriyah. Jahm dikenal sebagai orang yang suka dan banyak berdebat. Hanya saja, ia tidak memiliki pemahaman dan perhatian kepada ilmu hadits.

Jahmiyah lebih parah daripada Mu’tazilah. Jahmiyah mengingkari seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifatNya serta menganggap nama-nama sebagai majas. Dalam masalah iman, mereka berpaham irja`, bahwa iman itu cukup dengan mengenal Allah dan selainnya tidak harus ada. Oleh karenanya, menurut Jahmiyah, Iblis adalah makhluk Allah yang beriman, sebab Iblis mengenal Allah.

Jahmiyah juga mengingkari sebagian besar perkara yang berkait dengan hari Kiamat, seperti shirat (jembatan di atas Jahannam), mizan (timbangan), melihat Allah pada hari Kiamat, dan adanya azab kubur. Mereka juga berpendapat bahwa surga dan neraka tidak kekal.

Jabriyah

Jabariyah adalah aliran sesat yang berpandangan bahwa manusia itu di dalam perbuatannya serba terpaksa (majbur). Perbuatan mereka itu pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. Oleh karena itu mereka berpaham, manusia tidak bersalah dan tidak berdosa. Sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan di atasnya dimana ia tidak lain laksana robot, yang mati tidak berarti. Mereka tidak mempunyai kekuasaan, kehendak, dan kebebasan memilih. Menurut mereka, manusia sama seperti sehelai bulu yang diterpa angin.

Qadariyah

Qadariyah adalah kebalikan dari Jabriyah. Menurut Qadariyah, seluruh tindakan manusia tidak ada yang diintervensi oleh Allah. Aliran ini berpendapat, setiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Semua terbebas dari kehendak Allah. Masih menurut mereka, tidak adil jika Allah mengintervensi perbuatan hamba baik dengan membantunya atau menghalanginya, lalu Allah memberi pahala atau mengadzab mereka karenanya.

Penutup

Abu Ja’far ath-Thahawiy menutup matan Akidahnya dengan kalimat yang menunjukkan kelurusan akidahnya. Bahwa manusia wajib berusaha mencari jalan kebenaran. Dalam menjalaninya, keterpeliharaan dari berbagai kesalahan dan hidayah taufik hanya datang dari Allah. Wabillahit taufiq wal ‘ishmah.

%d bloggers like this: