Kebisuan Ayah

Kebisuan Ayah

Tak hanya materi sebagai kebutuhan fisik yang dibutuhkan anggota keluarga, itu kita tahu. Karena bagaimanapun, manusia tetaplah manusia yang memiliki kebutuhan jiwa dan akal, selain fisik. Dan sebagai pemimpinnkeluarga, kitalah yang bertanggung jawabb atas pemenuhannya. Maka, jika berbagai kebutuhan itu tidak terpenuhi secara baik dan seimbang, ia hanyalah bom waktu yang menunggu saat ledaknya. Tapi banyak di antara kita yang kebingungan untuk memenuhi kebutuhan ‘yang lain’ itu. Mulai dari ketidaktahuan persoalan, kesulitan pengaplikasian teknisnya, hingga interaksi dengan anggota keluarga yang bermasalah.

Untuk itu, sebagai langkah awal, komunikasi yang sehat harus kita bangun, khususnya kita sebagai ayah dengan anak-anak. Mulai dari memberi perasaan nyaman, terhubung secara batin, menemukan masalah, menyampaikan pesan, melakukan islah, hingga menyampaikan harapan, adalah beberapa di antara manfaat komunikasi yang bisa kita dapatkan. Dan masih banyak lagi yang lainnya dalam arti yang positif. Untuk kemudian secara bertahap menemukan, mencari solusi dan memperbaiki berbagai masalah pemenuhan kebutuhan itu.

Ada 14 dialog antara ayah dengan anak di dalam al Qur’an. Jauh lebih banyak daripada dialog ibu dengan anak yang hanya 2. Sebuah fakta yang jarang kita ketahui dan sadari, bahwa butuhnya anak-anak untuk berdialog dengan orang tua mereka, ternyata lebih banyak kepada ayah. Karena dalam satu fase tumbuh kembang mereka, kebutuhan akan sosok ayah sangat diniscayakan bagi kesehatan mental, pembangunan karakter, pembiasaan ibadah serta penguatan akidah. Sebuah kebutuhan penting yang kehilangannya akan sangat memengaruhi kualitas mereka kelak.

Maka, kebisuan ayah di dalam rumah adalah masalah yang serius. Peran sebagai figur sentral yang mengayomi dan memberi solusi akan menemui jalan buntu. Suasana diam dan muram yang ada akan menggelisahkan dan membingungkan sebab macetnya komunikasi. Apa yang dirasa dan diinginkan tidak bisa dikenali dan dicarikan solusinya, hingga menumpuk membebani pikiran. Anak-anak pun merasa tidak betah di rumah dan mencari konpensasinya di luar. Banyak yang kemudian menjadi liar meski di rumah terlihat manis dan penurut.

Sedang yang tidak bisa keluar rumah akan tinggal dalam keadaan bingung dan tertekan. Bingung sebab mereka kesulitan memaknai peran ayah yang terasa hampa dan arogan, juga tertekan sebab diamnya ayah membuat mereka merasa serba salah. Takut melangkah sebab bisa membuat sang ayah marah-marah. Sehingga banyak yang memilih menghindar saat bertemu ayah agar tidak muncul masalah, meski mereka tinggal bersama di satu rumah.

Kalau hal ini berjalan terus, maka jangan salahkan anak jika mereka mencari figur yang lain yang lebih bisa mengerti dan memahami mereka. Karena minimnya dialog dengan ayah akan membuat hubungan ayah-anak menjadi serba tanggung dan berjarak. Tidak bisa intim dan dekat hingga serasa seperti orang lain, atau yang lebih buruk, merasa menjadi pribadi yang tidak diinginkan. Banyak anak yang tumbuh tanpa kejelasan arah. Sekedar menjadi besar dan bertambah usia namun tak kunjung dewasa. Banyak yang tidak memiliki visi, miskin tanggung jawab, tidak siap menghadapi risiko, tidak mandiri, hingga banyak yang terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, bahkan kriminalitas.

Maka sebelum terlambat, marilah kita berdialog dengan mereka, anak-anak kita. Dialog berkualitas serupa Ibrahim, Imran, Luqman, hingga Yakub bahkan Rasululullah kepada anak-anak mereka. Pintar-pintarnya kita menggali materi pembicaraan agar mereka menemukan arti hubungan anak dan orang tua dalam arti yang sebenarnya. Menanamkan konsep hidup beriman, mengawasi bagaimana mereka beribadah, membimbing mereka memilih pilihan-pilihan bertanggung jawab, hingga menemani tumbuh kembang mereka secara sehat.

Marilah menjadi ayah yang membangun, mengawasi, dan memperbaiki bangunan pendidikan anak-anak kita. Ayah yang peduli, ada dan dekat hingga bisa dijangkau, dikenali, dan dimiliki. Menjadi ayah yang tidak mengabaikan keberadaan anak-anak di dalam keluarga, tidak meninggalkan pendidikan mereka, dan tidak semata-mata mencukupi kebutuhan materi semata. Bukankah Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi, “Tidak ada pemberian ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan yang baik?”

Wahai para ayah, marilah mulai berdialog dengan anak-anak kita! Sebagai awal perbaikan kondisi keluarga dan pemaknaan arti mendidik dengan baik. Camkanlah apa yang dinyatakan Imam Ibnul Qayyim dalam Tuhfah al Maudud, “Jika Anda amati kerusakanpada anak-anak, maka Anda melihat bahwa mayoritasnya disebabkan oleh ayah.”

Camkan juga sabda Rasululullah yang lain dalam shahih Ibnu Hibban, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang kepemimpinannya, apakah dia menjaga atau mengabaikannya. Hingga Allah akan bertanya kepada laki-laki tentang anggota keluarganya.”

Nah, maka jangan menjadi ayah yang diam! Sebab kebisuan dalam keluarga sangatlah menyakitkan. Mari berbicara dengan anak-anak, apapun itu, sebab hal itu akan sangat berarti. Wallahu a’lam.