Apakah Dewa itu Malaikat?

Apakah Dewa itu Malaikat?

Akhir-akhir ini, masyarakat lagi heboh dengan tayangan Mahabharata. Dengan kualitas film yang bagus, pemain-pemain yang konon cantik dan tampan, serta jalan cerita yang menarik.

Saking asyiknya, banyak yang tidak sadar terpengaruh oleh jalan cerita dan pesona para pemainnya. Hingga bukan saja mata yang terus mengikuti jalan cerita, namun hati dan keyakinan bisa tenggelam dalam alur cerita yang berasal dari Hindu tersebut.

Satu di antara pengaruh keyakinan yang menjadi salah satu pesan dari cerita adalah dijumpainya keterlibatan para dewa, lengkap dengan kehebatan luar biasa yang menambah hiperbola cerita tersebut. Tanpa sadar, pikiran melayang dalam alam bawah sadar, lalu menyimpulkan sendiri bahwa Dewa adalah para malaikat. Sebagian yang agak kritis masih menyimpan tanda tanya, Siapakah sebenarnya sosok dewa itu, apakah ia adalah malaikat dalam bahasa orang Islam?

Istilah Dewa dikenal dalam ajaran Hindu, meski ada juga ajaran lain yang mengenal adanya Dewa. Sedangkan Malaikat adalah makhluk gaib yang wajib diimani oleh setiap muslim. Antara keduanya jelas berbeda, Dewa bukan Malaikat dan Malaikat bukan pula Dewa. Sumber yang dijadikan pathokan untuk mempercayai dan mengimani sudah berbeda, maka tidak boleh menyamakan antara Dewa dengan Malaikat. Mengingat, keyakinan terhadap hal yang gaib di dalam Islam tidak boleh disandarkan pada cerita, dongeng, atau kisah-kisah yang tidak didapatkan dalam dalil yang maqbul (diyakini keabsahannya), yakni al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka Islam tidak mengenal adanya Dewa dengan segala macam ceritanya itu. Maka jangan ada keyakinan bahwa Dewa adalah nama lain dari malaikat.

Apalagi, istilah Dewa sering digunakan dengan pengertian yang kurang jelas, ada kalanya berarti hampir setiap jenis makhluk yang bukan manusia. Adapun di dalam Islam, telah jelas adanya makhluk-makhluk yang tidak tampak oleh manusia lengkap dengan perbedaan yang detil tersebut dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Ada makhluk bernama jin, adapula malaikat. Jin diciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan atas kalian (yakni tanah).” (HR Muslim)

Tidak sebagaimana jin yang sebagian beriman dan sebagian lagi menjadi setan yang ingkar, maka malaikat adalah makhluk yang selalu taat kepada Penciptanya. Allah Ta’ala berfirman,

mereka tidak mendurhakai Allah (terhadap) apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (At-Tahrim: 6) (QS at-Tahrim 6)

Para malaikat tidak memiliki nafsu, tidak memiliki keturunan dan bahkan tidak disifat dengan laki-laki atau perempuan. Seperti yang dikatakan oleh Syeikh DR. Umar Sulaiman al-Asyqar rahimahullah dalam ‘Alamul Malaaikah al-Abraar, “laa yushafuuna bidz dzukuur wal unuutsah, “Tidak (boleh) mensifati mereka (malaikat) dengan laki-laki dan perempuan….” [‘Aalamul-Malaaikah Al-Abraar, hal. 13]. Karena memang tidak ada dalil yang jelas dan tegas menyatakan hal itu. Sementara malaikat juga tidak bisa diqiyaskan dengan manusia karena keduanya makhluk yang berbeda.

Berbeda dengan Dewa yang diyakini bahwa sebagian mereka memiliki keturunan. Seperti dalam Mahabaratha yang mengisahkan bahwa Abimanyu adalah cucu Dewa Indra. Dan disifati pula ada Dewa yang berjenis kelamin laki-laki dan ada juga Dewi yang berjenis kelamin perempuan.

Maka dalam hal ini, Islam juga tidak membenarkan keyakinan yang menggambarkan sosok bidadari cantik yang suka menolong, yang dalam bahasa Inggris disebut ‘angel.’ Bahkan menyebut malaikat berjenis kelamin perempuan itu sama dengan keyakinan orang Arab jahiliyah dahulu yang menganggap bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, Mahasuci Allah dari apa yang mereka yakini. Atas keyakinan tersebut mereka dianggap mengolok-olok Allah, sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya,

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

“Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)” [QS. An-Nahl : 57].

Perbedaan yang lain, bahwa posisi Dewa bagi orang yang mempercayainya dijadikan sebagai sesembahan yang dipuja dan dimintai pertolongan. Sedangkan Malaikat yang kita yakini tidak memiliki hak untuk disembah atau dimintai pertolongan, karena hak untuk disembah hanya milik Allah semata.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian DIA berfirman kepada para malaikat, Apakah kepadamu mereka telah menyembah…?”. Para malaikat itu menjawab, Maha Suci Engkau, Engkaulah Pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah JIN, kebanyakan mereka percaya kepada jin itu”. (QS Saba’: 40-41)

Maka, tidaklah sama antara Dewa dan Malaikat. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: