Mulia Dan Terhormat

Mohon Kefakihan Mendapat Seluruh Kebaikan

Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim)

Kemulian Nasab Nabi

Nasab Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah nasab yang mulia bersambung nasabnya dengan para nabi, sebagaimana di sabdakan Rasul bahwa kabilah kinanah adalah keturunan Nabi Isma’il ‘alaihissalam. Dan memang demikianlah para nabi adalah saudara, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

Aku adalah doanya bapakku Ibrahim dan wujud dari kabar gembira yang pernah disampaikan Isa bin Maryam.” (HR. Ibnu Asakir, al Albani dalam as silsilah as shahihah)

Allah berfirman :

(Nabi Ibrahim berdoa ketika membangun Ka’bah bersama putranya Isma’il), “Ya Rab Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 129)

“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (QS. As Shaff: 6)

Nasab yang mulia ini terukir dalam sejarah arab, mereka sangat mengenalnya dan bahkan musuhpun tidak bisa mencari cela dan aib pada nasab nabi karena memang beliau terlahir dari pernikahan bukan dari perzinahan dan berasal dari keturunan mulia.

Sahabat Abu Sufyan radhiallahu’anhu pernah mengkisahkan kepada Ibnu Abbas tentang dialognya dengan Kaisar Romawi Heraklius, yang saat itu beliau (abu Sufyan) belum masuk Islam. Ketika ditanya tentang nasab Nabi, maka beliau menjawab : Di kalangan kami, dia adalah orang yang punya nasab (keturunan) yang baik”, maka di akhir dialog tersebut Kaisar berkata, “Dan begitulah memang seorang Rosul yang selalu diutus di tengah-tengah nasab (keturunan) kaumnya.” (Nukilan kisah panjang dalam Shahih Bukhari)

Nasab Nabi

Dia adalah Muhammad bin Abdillah bin abdil Muththalib (syaibah) bin Hasyim (Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An Nadhr (Qais) bin Kinanah.

Kabilah Qurays bapaknya adalah (Qais) An Nadhr bin Kinanah, maka keturunannya dari Fihr bin Malik ke bawah adalah Qurays. Dan dari kabilah Qurays ada bani Hasyim (Syaibah bin Amru) kakek Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, kemudian Rasulullah terlahir dari Bani Hasyim. Dan Nanti imam Mahdi pun dari Qurays dan urusan kekhalifahan juga berada di tangan Qurays.

Rasulullah dipilih oleh Allah terlahir dari garis nasab yang mulia, diantara hikmahnya adalah agar manusia tidak keberatan untuk bergabung dibawah benderanya, dan menepis anggapan bahwa Nabi Muhammad hanya mencari sensasi untuk mendapatkan status sosial, serta kemanfaatan yang beliau peroleh ketika di awal dakwahnya beliau mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari kabilahnya, terbukti ketika terjadi pemboikotan.

BACA JUGA : Sejarah Berhala Arab Jahiliyah

Terhormat dan Terpandang di Mata Kabilah Kabilah Arab.

Sebelum Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam lahir ada peristiwa yang sangat masyhur di Arab waktu itu, yaitu peristiwa Gajah, yang terjadi pada bulan Muharram kurang lebih satu setengah bulan sebelum kelahiran nabi Muhamad shallallahu’alaihi wasallam (fiqih sirah Nabawiyah, hal 41). Jati diri orang Arab tidak muncul dalam percaturan dunia, namun dengan kisah pasukan bergajah ini menjadi tolak ukur tentang jati diri orang Arab terkhusus Qurays.

Singkatnya, Ketika pasaukan bergajah bertolak dari yaman menuju makkah, semua kabilah jatuh satu persatu tidak bisa melawannya. Yang kemudian ketika mereka (pasukan bergajah) hendak menuju ka’bah, maka Allah menurunkan burung yang berbondong bondong, yaitu dalam firmanNya :

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fil: 1-5)

Ibnu Hisyam dalam kitab shirahnya berkata, “Setelah Allah menghalangi pasukan Habasyah dari menyentuh Ka’bah dan menimpakan kepada mereka malapetaka, maka orang-orang Arab menyanjung orang-orang Qurays dan mereka berkata, “Qurays adalah keluarga Allah, Allah telah berperang untuk mereka dan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka.”

Ibnul Qayyim berkata, “coba renungakanlah, para tentara gajah itu adalah orang yang beragama Nashrani dan memiliki kitab suci, dan agama mereka pada dasarnya lebih baik dari agama penduduk Makkah pada waktu itu, karena mereka menyembah berhala. Tapi Allah memenangkan penduduk Makkah atas ahlu kitab tapa ada rekayasa manusia, semua itu untuk menjadi pengantar datangnya seorang Nabi di bumi Makkah dan penghormatan terhadap baitul haram.

Syaikh Utsaimin berkata, “Allah Azza wajalla melindungi ka’bah dari gajah, walaupun nantinya pada akhir zaman (sebelum kiamat) akan ada orang dari Habasyah yang akan menghancurkan ka’bah dengan membongkar batu-batunya satu persatu hingga rata dengan tanah.(Al Bukhari, kitab Al haj, bab Hadmu al Ka’bah)

Adapun pada Akhir zaman, maka tatkala pelayan ka’bah dan yang tinggal disekitarnya mulai menghinakan dan menyepelekan kehormatan ka’bah dengan melakukan kemaksiatan secara dzalim, maka pada saat itulah Allah akan memunculkan orang yang menguasai mereka hingga menghancurkan ka’bah hingga rata dengan tanah. (Ibnu Utsaimin, tafsir Juz amma, hal 320)

%d bloggers like this: