Suami Selingkuh

Tangisan yang Menyelamatkan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Ustadz, saya ibu 3 anak masing-masing berusia 6 dan 4 tahun serta 8 bulan. Setiap hari saya mengurus rumah tangga sedang suami bekerja dari jam 6 pagi sampai 5 sore. Setelah itu dia berangkat kuliah lagi hingga pulang jam 11 malam.
Ustadz, belakangan saya tahu kalau suami memiliki selingkuhan. Saya tawari untuk berpoligami dia menolak, tapi juga tidak mau meninggalkan perempuan itu. Bagaimana saya harus bersikap? Bolehkah saya meninggalkannya?

Saya mengharapkan nasihat ustadz, dan jazakumullah atas perhatiannya. Afwan!

Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Ummahat Solo.

______________________________________

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Ummahat yang shalihah, saya bisa memahami kepedihan hati Anda atas semua yang terjadi. Bagaimana kesibukan dan pengabdian Anda untuk keluarga berbuah nestapa yang menyesakkan jiwa. Tapi tak ada asap kalau tidak ada api. Dan untuk itulah kini saatnya Anda melakukan instropeksi diri.

Kalau masih memungkinkan untuk bicara dengan suami, carilah waktu guna menyampaikan masalah Anda dengan hati-hati dan bahasa yang santun. Mintalah suami menjelaskan apa yang dia inginkan dengan semua yang terjadi. Mintalah maaf kalau hal itu terjadi karena perhatian Anda kepada suami yang berkurang karena sibuk dengan anak-anak. Mintalah suami untuk memahami keadaannya dan bisa meringankannya kalau perlu.

Namun kalau yang terjadi disebabkan oleh kelalaian suami dalam memenuhi hak keluarga dan penjagaan atas adab-adab bergaul, ingatkan suami untuk lebih seimbang dan hati-hati menjalani kesibukannya. Terimalah maafnya jika dia meminta. Berikanlah kesempatan kedua dan berilah dukungan agar dia berubah menjadi lebih baik.

Mintalah bantuan orang yang disegani suami untuk menasihati Anda berdua jika suami tidak menerima saran-saran dari Anda dan tidak memberi waktu untuk berbicara. Nasihat untuk Anda berdua terasa lebih dewasa daripada  meminta orang ketiga tersebut berbicara langsung kepada suami karena terkesan mengadu. Meski mungkin membuat suami marah, namun hal ini bisa ditempuh mengingat sikap suami yang arogan dan mau menang sendiri, sedang Anda terzhalimi.

Namun kalau suami menolak semua nasihat dan tidak mau berubah, masalahnya kembali kepada ibu. Apakah bisa bersabar menjalani semua ini dengan ikhlas seraya menunggu perubahan datang, atau ibu bisa memilih berpisah karena tidak bisa menerima kezhaliman dari suami. Shalat istikharahlah untuk mendapatkan kemantapan hati agar tidak salah melangkah.

Ibu yang baik, kuatkanlah dengan doa agar Anda bisa bersabar menjalani prosesnya, apalagi jika suami meminta waktu demi perubahannya ke arah yang lebih baik. Siapkan diri untuk semua yang terjadi, jika pilihannya sangat pahit dan berat. Dekatkan diri kepada Allah dan luruskan niat agar semua kesakitan ini bernilai ibadah di sisiNya.

Demikian nasihat saya, semoga bermanfaat.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

%d bloggers like this: