5 Hal yang Meneguhkan Akidah

5 Hal yang Meneguhkan Akidah

Akidah merupakan pokok urusan agama. Fondasi yang akan menentukan kokoh tidaknya bangunan agama di atasnya. Fondasi yang benar dan kuat akan membuat bangunan di atasnya stabil dan aman. Adapun pondasi yang miring dan rapuh akan membuat bangunan goyah dan runtuh.

Oleh karenanya, generasi salaf: shahabat, murid-murid mereka dan generasi sudahnya sangat menjaga dan memerhatikan urusan ini. Mereka memiliki keteguhan dan kesamaan dalam akidah. Teguhnya keyakinan mereka berasal dari keimanan yang kuat terhadap al quran dan as sunah. Dan kesamaan akidah mereka terwujud karena mereka selalu mengambil ilmu dari generasi penerima wahyu.

Dan secara rinci, ada beberapa hal yang membuat akidah generasi salaf teguh, bersih dan senafas, di antaranya:

Pertama, mengimani semua isi kitab dan as sunah tanpa terkecuali. Mereka benar-benar yakin terhadap al Quran dan as Sunah hingga perkara detail. Tidak ada keraguan sedikitpun. Keimanan yang utuh dan tanpa sedikitpun celah ragu. Dan ini adalah ciri mukmin sejati. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al Hujrat: 15).

Sebagian salaf berkata, “ Risalah Dari Allah, Rasul menyampaikan dan tugas kita mengimani.” Al Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hal yang membedakan antara jalan selamat dengan jalan sesat adalah meyakini bahwa apa yang diturunkan Allah keapda Rasul-Nya adalah al haq yang wajib diikuti. Adapun perkataan manusia harus diteliti, jika selaras dengan al Quran dan as Sunah berati benar dan jika menyelisihi berarti bathil.

BACA JUGA : Akidah Khawarij tentang Iman

Dan karena al Quran dan as Sunah berisi kebenaran secara menyeluruh, maka keduanya menjadi dalil, landasan argumen yang haq. Imam Ibni taimiyah Rahimahullah berkata:

“Sesiapa yang memisahkan diri dari dalil akan tersesat dan tidak ada dalil selain dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW.”

Kedua, keyakinan bahwa al Kitab dan as Sunah telah menjelaskan semua yang dibutuhkan manusia dalam hal agama mengenai akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.

Allah berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maidah 3).

Rasulullah SAW berkat:, “Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku melainkan pasti telah menyampaikan kebaikan dari apa yang diajarkan kepada umatnya dan memperingatkan segala marabahaya dari berbagai hal yang telah disampikan kepada mereka.” (HR Muslim)

Al Quran dan as Sunah merupakan petunjuk sempurna yang menjelaskan hal –hal besar seperti akidah dan ibadah bahkan hal-hal detail seperti adab buang air besar. Jika adab buang air saja dijelaskan, mustahil hal-hal besar semisal urusan keyakinan dan ibadah ada yang dilewatkan. Oleh karenanya, generasi salaf tak lagi butuh hal lain selain al Quran. Inilah yang membuat iman mereka semakin istimewa.

Adapun orang-orang jaman ini, tidak sedikit yang terpesona dengan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh yang buta terhadap al Quran tapi memandang rendahpara ulama yang berpegang teguh kepada al Kitab dan as Sunah.

Ketiga, senantiasa merujuk dan kembali kepada al Kitab dan as Sunah tatkala menghadapi berbagai macam perselisihan. Baik perselisihan mengenai akidah, ibadah dan muamalah.

Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya..”

(QS An nisa: 59).

Mereka meyakini bahwa solsui dari semua perselisihan ada dalam al Quran dan as Sunah. Keduanya adalah hakim pemutus dalam perkara yang diperselisihkan. Mengandalkan akal-akal dan pemikiran manusia hanya akan menambah runyam karena setiap orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Sisi pandang subjektif yang berbeda-beda dan keinginan hati yang tak sama. Dengan ini, mereka selalu memiliki ‘rumah’ tempat kembali manakala manusia yang lain bingung dan mencari-cari.

Keempat, tidak mendahulukan akal di atas dalil. Karena akal memiliki batas. Akal harus diposisikan mengikuti dalil. Ada dua sisi ekstrim yang dilakukan manusia perihal akalnya. Yang pertama adalah yang menempatkan akal di atas segalanya. Seakan dia berkata, “Aku bersaksi bahwa akal adalah utusan Allah.” Bukan rasul. Orang-orang ini akan menganggap bahwa semua hal yang tidak bisa dinalar berarti bukan merupakan kebenaran. Tak peduli apakah hal itu ada dalam al Quran, as Sunah bahkan bibel, taurat atau apapun. Padahal ada banyak hal yang tak bisa dijangkau nalar dan hanya bisa diimani tanpa bisa dinalar.

Yang kedua adalah membuang akalnya dan mengosongkan pikirannya. Akibatnya, mereka selalu menelan mentah-mentah segala macam kebodohan. Contohnya adalah orang-orang sok sufi yang memercayai segala hal secara ajaib tanpa mau menalar sama sekali.

Adapun generasi salaf adalah generasi yang senantiasa berusaha menyesuaikan akal mereka dengan apa yang disampaikan rasulullah SAW. Mereka tunduk terhadap apa-apa yang harus diimani dan membantah berbagai hal tak amsuk akal yang menyelisihi kebenaran. Dengan ini, keimana mereka senantiasa teguh dan utuh.

Kelima, selalu menjaga hubungan yang baik kepada Allah dengan ibadah yang benar dan ikhlas. Inilah ciri khas mereka yang membedakan dengan ahlul bathil. Agama bagi mereka bukan sekadar identitas atau bahan diskusi belaka, tapi jalan hidup dan ajaran yang harus dijalankan sepenuh hati.

Hari ini, muncul orang-orang liberal yang bersikap sok kritis terhadap agama tapi lemah dalam pelaksanaannya. Mereka tajam dalam mengkritik pemikiran dan cara beragama orang lain tapi kelu dalam dzikir dan ibadah. Seperti singa di ruang diskusi keagamaan, tapi menjadi rubah yang menyelinap pergi dari masjid dan waktu-waktu ibadah. Bagaimana mungkin mengambil agama dari orang-orang seperti ini?

Generasi salaf adalah generasi terbaik dalam hal melaksanakan agama. Kita bisa membaca bagaimana keistiqomahan mereak dalam ibadah. Bagaimana kekhusyukan mereka dalam shalat, kesungguhan mereka dalam mengamalkan sunah dan keberanian mereka dalam membela kebenaran serta pengorbanan total mereka dalam jihad demi menegakkan syariat Allah.

Jika lebih dirinci, masih ada banyak faktor lain yang membuat akidah generasi salaf menjadi teguh dan kuat. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita apa yang telah Allah karuniakan kepada generasi salaful ummah. Karena umat ini mustahil bisa menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang telah membuat generasi pertama menjadi baik. Aamiin. (taufik anwar)

 

%d bloggers like this: