Dicinta Allah Dicinta Nabi

Dicinta Allah Dicinta Nabi

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu mengisahkan peristiwa dalam perang Khaibar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan menyerahkan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia adalah orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”

Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah gerangan di antara mereka yang akan diserahi bendera itu. Sahl berkata, Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diserahi bendera itu. Kemudian, Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata, “Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya.

Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah kedudukan Ali bin Abi Thalib, yang semua sahabat ketika itu mengharapkan berada di posisinya. Bukan karena ingin memimpin atau sebab lain, tapi karena ‘sertifikat’ yang tersemat atasnya, “seorang pria yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”

Yang menakjubkan bukanlah pada kalimat, “mencintai Allah dan rasul-Nya.” Karena banyak orang yang mencintai, tapi salah mengambil langkah dan cintanya tak dibalas oleh yang dicintai. Tak sedikit pula klaim mencintai yang tak terbukti. Maka yang menakjubkan adalah kalimat “Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Sungguh kedudukan yang luar biasa. Diawali oleh ketulusan cinta yang dibuktikan dengan tindakan nyata, hingga yang dicinta membalas cintanya. Kebahagiaan mana lagi yang lebih kuat dirasa melebihi seseorang yang telah menjadi kekasih Allah dan rasul-Nya?

Agar Dicintai Allah

Banyak nian orang yang mengaku cinta kepada Allah. Akan tetapi, tidak semua pengakuan dan klaim cinta itu tulus dan murni. Ada yang cintanya imitasi, ada pula yang mengekspresikan cintanya semaunya sendiri. Sedangkan Allah telah menunjukkan konsekuensi bagi siapa yang cintanya kepada Ilahi terbalasi. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Ayat yang mulia ini merupakan sanggahan atas orang yang mengaku cinta kepada Allah, sedang ia berada di luar jalan yang ditempuh oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Seseorang hanyalah dianggap pendusta dalam pengakuannya hingga ia mengikuti syariat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan agamanya baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hal ini telah disebutkan dalam hadits Shahih, bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.” (Muttafaq ‘alaih)

Indikasi lain kecintaan seseorang kepada Rabbnya adalah keakrabannya terhadapp al-Qur’an. Barangsiapa mencintai Allah, tentu akan mencintai al-Qur’an; suka membacanya, mencermati kandungannya dan bersegera menunaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Inilah bukti cinta yang paling nyata. Karena itulah, Abdullah bin Mas’ud berkata, “Tidak perlu seseorang mencari-cari tanda yang lain, cukuplah ia tengok bagaimana keakraban dirinya terhadap al-Qur’an. Maka barangsiapa yang mencintai al-Qur’an berarti dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Riwayat al-Baihaqi)

 

Agar Dicinta Nabi

Jika mencintai Allah dibuktikan dengan mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam, lantas apa indikasi seseorang mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam? Ketika cinta seseorang kepada Nabi itu tulus dan benar dalam aplikasi, niscaya Nabi shallallahu alaihi wasallam juga akan mencintainya. Tak terbatas pada orang-orang yang hidup satu generasi dengan beliau, tapi juga umat sepeninggal beliau. Termasuk kita juga memiliki peluang untuk dicintai oleh Nabi. Persoalannya adalah, apakah kita mensifati diri sebagai orang yang mencintai Nabi secara benar?

Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Suatu kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar ke pemakaman, lalu menngucapkan salam kepada penghuni kubur “salaamun alaikum dara qaumi mukminin, wa inna in syaaAllahu bikum laahiquun.” Lalu beliau bersabda, “Saya rindu untuk melihat saudara-saudaraku!” Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini adalah saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian adalah sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah (umatku) yang datang di zaman nanti.” (HR Ahmad)

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Mereka adalah orang yang mengimaniku padahal tidak pernah bertemu denganku.”

Pertanyaannya, apakah kita masuk dalam kriteria kaum yang dirindukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam? Kaum dengan karakter seperti kita, kebiasaan keseharian kita, tingkat ibadah seperti kita, layakkah dirindukan insan yang paling mulia? Jika kita ingin menjadi bagian dari kaum yang dicintai oleh nabi, selayaknya kita memantaskan diri dengan karakter kaum yang dicintai oleh nabi shallallahu alaihi wasallam. Sekaligus menyempurnakan bukti kecintaan kita kepada Nabi.

Karena kita tidak akan dicintai Nabi kecuali jika kita mencintai nabi dengan setulus hati. Memang benar, bahwa kelak seseorang akan bersama dengan yang dicintai. Termasuk jika yang dicintainya adalah Nabi, maka ia akan dibersamakan dengan beliau shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana hadits Nabi,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“seseorang itu akan bersama dengan yang ia cintai” (HR Bukhair dan Muslim)

Tapi, jangan mudah mengklaim diri telah mencintai, lalu merasa telah layak menduduki posisi bersama Nabi di jannah nanti. Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan, “Janganlah kalian salah mengartikan hadits ‘seseorang akan dikumpulkan di akhirat bersama dengan yang ia cintai’! lalu kalian lalai dari amal shalih. Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani pun cinta Nabi-Nabi mereka, tapi mereka tidak akan bersama nabi-nabi nya di akhirat kelak secara pasti”. Karena mereka tidak setia dengan apa yang ditunjukkan oleh Nabi yang mereka cintai.

Maka orang yang mencintai Nabi setulus hati, akan setia mengikuti jalan yang beliau lalui. Nabi shallalahu ‘alaih wa sallam menjelaskan:

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

“siapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan siapa yang telah mencintaiku, pasti akan bersamaku nanti di surga”. (HR. Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Hibban)

Inilah tafsiran yang sangat gamblang tentang apa itu cinta; yaitu mengerjakan sunnahnya shallallahu alaihi wasallam. Ia rela meninggalkan ego dan kecondongan selera, juga kebiasaan banyak orang demi mengikuti Nabinya. Dia menghidupkan sunnah nabinya, membela ajarannya, sebagaimana dahulu para sahabat juga mati-matian untuk membela Nabi, bahkan dengan nyawanya.

 

Cinta Para Insan Mulia

Cinta itu adalah tatkala Abu bakar ash-Shidiq berkata kepada nabi sebelum memasuki gua, “Mohon jangan sampai Anda memasuki gua sebelum saya, hingga ketika ada sesuatu di dalamnya biarlah menimpa saya, dan bukan Anda.”

Cinta itu adalah tatkala Ali bin Abi Thalib rela menggantikan posisi Nabi di tempat tidurnya, pada saat orang-orang Quraisy mengincar nyawa Nabinya.

Cinta itu adalah ketika Rabi’ah bin Ka’ab ditanya dan diberi tawaran oleh nabi shallallahu alaihi wasallam, “Apa keinginanmu?” Ia menjawab, “menjadi teman Anda di jannah.

Dan cinta itu adalah tatkala kebanyakan sahabat ditanya tentang apa yang mereka lakukan, mereka menjawab, “Karena beginilah kami melihat nabii melakukannya.” Atau kalimat, “Karena beginilah nabi shallallahuu alaihi wasallam mengajarkan kepada kami.”

Maka lihatlah posisi kita dalam kerinduan untuk berjumpa dengannya, seberapa tinggi tingkat keingintahuan kita tentang seluk beluk akhlak dan perilakunya dan seberapa kadar kesetiaan kita terhadap sunnah-sunnahnya. Niscaya kita akan tahu, seberapa kadar cinta kita kepada nabi shallallahu alaihi wasallam. (Abu Umar Abdillah)