Amalan Sunnah Di Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah disebut juga dengan bulan haji. Dinamakan bulan Dzulhijjah, karena orang Arab, sejak zaman jahiliyah melakukan ibadah haji di bulan ini. Orang Arab melakukan ibadah haji sebagai bentuk pelestarian terhadap ajaran Nabi Ibrahim as.

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah ta’ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah: 2)

Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharam.

Keutamaan bulan Dzulhijjah

Allah berfirman:

وَ الْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1 – 2)

Ayat ini ditafsirkan oleh para ulama’ dengan beberapa makna. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ahli tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu Abbas.

Allah bersumpah dengan menggunakan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini menunjukkan keutamaan sepuluh hari tersebut. Disamping ayat ini, terdapat hadits shahih yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dari Ibn Abbas ra, Nabi saw bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ  يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi saw bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tak ada satupun yang kembali (meninggal dunia dan hartanya diambil musuh).” (HR. Bukhari, Ahmad dan Turmudzi)

Al Hafidz Ibn Rajab mengatakan: Hadits ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah lebih dicintai di sisi Allah dari pada beramal pada hari-hari yang lain, tanpa pengecualian. Sementara jika suatu amal itu lebih dicintai Allah, artinya amal itu lebih utama di sisiNya.

Mendapati sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini merupakan nikmat yang agung dari Allah untuk hamba-Nya. Karena dia mendapatkan musim ketaatan yang membantunya untuk mendapatkan pahala dan ampunan. Caranya, bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan dan memperbanyaknya daripada hari-hari sebelumnya. Seperti inilah ihwal para salaf dalam memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Memperbanyak Puasa di Sembilan Hari Pertama

Dianjurkan memperbanyak puasa di sembilan hari bulan Dzulhijjah. Terutama puasa hari Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah. Dari Abu Qatadah ra, Nabi saw bersabda:

“…puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya & satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim).

Memperbanyak Zikir (takbir, tahmid dan tahlil)

Para ulama menganjurkan untuk memperbanyak takbir, tahlil, tasbih, tahmid, istighfar, dan do’a pada hari-hari tersebut.

Mengucapkan takbir (takbiran) di bulan Dzulhijjah ada dua:

Takbir mutlak, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Selama tanggal 1-13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring dengan suara lirih atau dikeraskan.

Takbiran muqayyad, yaitu takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah.

Melaksanakan Haji dan Umrah

Berhaji dan umrah di Baitullah  Al Haram merupakan amal ibadah paling utama pada hari-hari ini. Maka siapa yang diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka dia mendapatkan janji dari sabda Nabi saw,

“Umrah satu kepada umrah lainnya merupakan kafarah bagi dosa di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat ‘Idul Adha

Berdasarkan hadits dari Ummu ‘Athiyah, bahwa kaum Muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim, dianjurkan untuk berangkat shalat ‘Id.

Dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata: “Nabi memerintahkan kepada kami pada saat shalat îd (Idul Fitri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beranjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.“ (HR. Muslim).

BACA JUGA : Amalan Bid’ah VS Amalan Sunah Di Bulan Muharram

Menyembelih Hewan Kurban

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Laksanakanlah shalat untuk Rabmu dan sembelihlah hewan kurban.” (QS. Al Kautsar: 2)

Nabi saw bersabda tentang keutamaannya,

“Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Alah ‘Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah. Sungguh dia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku dan rambutnya. Sesunggunya darahnya akan sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebelum jatuh ke tanah… ” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, beliau menghassankannya)

Sebaliknya, beliau mengancam mereka yang mampu namun tidak mau menyembelih hewan kurban.

“Siapa yang memiliki kelapangan namun dia tak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” (HR. Ahmad & Ibn Majah & dihasankan Al Albani)

Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal di bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini. Wallahul Musta’an.

 

Baca Yang ini: Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

%d bloggers like this: