Jurus Para Penganut Islamophobia

Islamophobia

Wabah islamophobia (anti Islam), makin hari makin ketara saja. Anehnya, sikap ini dipertontonkan oleh orang-orang yang ber-KTP Islam dan ditokohkan. Baik dari kalangan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang sekarang malih rupa menjadi JIN (Jaringan Islam Nusantara), maupun orang-orang yang terkontaminasi dengan pemikiran mereka. Juga mereka yang turut meramaikannya karena memiiki kepentingan politik.

Ada saja jurus yang dimainkan. Meski tak langsung nonjok dan menyerang Islam, tapi bagi muslim yang memiliki kepekaan dan keberpihakan terhadap Islam sangat bisa merasakan kepicikan para penganut anti Islam itu.

Ada yang dengan dalih mencintai dan menjaga budaya asli Indonesia, lalu memunculkan usul yang aneh-aneh. Misalnya mengganti istilah-istilah yang ‘kearab-araban’ supaya lebih menusantara atau mengindonesia. Mereka juga sok anti Arab, padahal ujung-ujungnya anti Islam.

Seperti kicauan Zuhairi di twitter yang sok anti Arab dan pada saat bersamaan mengkerdilkan ibadah umroh. Dia mengatakan, “Di kampung, kalau mau berdoa, cukup baca yasin atau ziarah kubur. Skrg, harus ke mekkah dgn biaya tinggi. Beragama jadi mahal. #umroh”

“Padahal, kalau kita umroh berarti kita menyumbang devisa bagi Arab Saudi. #konspirasi”

“Secara sosiologis, ziarah kubur itu menjadikan biaya beragama relatif lebih murah daripada harus umroh ke mekkah.”

Dia menampakkan sentimen terhadap Arab Saudi, dia menyayangkan devisa masuk ke Arab Saudi seakan dia seorang nasionalis yang ingin menjaga kekayaan warganya agar tetap kembali kepada masyarakat Indonesia. Tapi kenapa dia tidak menyoal devisa yang masuk ke Amerika, Singapura, Australia, Eropa dan yang lain melalui wisata yang seringkali berbau maksiat? Jelas, karena bukan soal devisa yang sebenarnya disoal, bukan juga Arabnya, tapi syarat Islam yang sedang dilecehkannya. Dia tidak sedang anti Arab, tapi anti Islam.

Wajar saja jika kicauan zuhairi ini banyak ditanggapi netizen bahkan Mantan Ketua MK Mahfud MD mengomentari bahwa pendapat Zuhairi Misrawi itu keblinger. “Bnyk orng yg berwisata ke Eropa, Australia, Amerika, & negara2 lain. Sekedar wisata. Masak orng berwisata Umrah diejek? Keblinger tuh. Genit.”

Apalagi komentar dia tentang umroh ini berbeda saat dia punya kepentingan politik. Dulu saat Pilpres memasuki hari tenang, Capres Jokowi umroh ke Mekkah,dan  Zuhairi menulis di akun twitternya @zuhairimisrwi, “Saat kubu lawan bermanuver licik, Mas Jokowi justru berdoa untuk kita semua di Mekkah #Salam2Jari,” kicau Zuhairi pada 7/7/2014 dengan meng-upload foto Jokowi yang sedang umroh di Mekkah.

Begitulah ‘fatwa’ sesat yang berubah-ubah sesuai keinginan hawa nafsu.

 

Ada lagi yang mengehmbuskan fitnah, “Arab menjajah Indonesia dengan tameng penyebarluasan agama.” Ini fitnah yang menggelikan. Karena justru Belanda yang terbukti menjajah Indonesia sambil membawa agama Kristen. Sedangkan Islam masuk ke Indonesia melalui dakwah dan perdagangan secara damai, bukan lewat penjajahan.

Maka, sebenarnya mereka bukan sentimen terhadap Arab, tapi Islamlah yang sedang mereka serang.
Mereka yang anti Arab sering berkoar, “Kita harus cinta pada budaya Indonesia.” Padahal di saat yang sama mereka membela ajang Miss World, yang jelas-jelas bukan budaya Indonesia. Mereka juga menutup mata terhadap tren pemuja para boyband dari Korea, tergila-gila pada film India, dan cinta buta terhadap film dan musik dari Amerika. Karena sebenarnya bukan budaya Arabnya yang mereka musuhi, tapi Islamlah yang mereka musuhi.

BACA JUGA : Antara Mukjizat dan Teknologi

Ada lagi yang telinganya risih mendengar diksi atau istilah Arab. Hingga ada yang mengusulkan untuk menggantinya dengan Bahasa Indonesia supaya lebih menampakkan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia. Tapi pada saat yang bersamaan, mereka tidak menyoal penggunaan diksi atau istilah Inggris dan tidak pula mengusulkan supaya diindonesiakan.Malah mereka berbicara dengan menyelipkan istilah inggris biar tampak intelek dan gaul. Jelas ini sikap yang inkonsisten. Karena sebenarnya bukan soal bahasa yang mereka benci, tapi Islamlah yang mereka benci.
Jika mereka konsisten untuk mengganti istilah yang menurut mereka kearab-araban, mestinya mereka usulkan juga perubahan pada Pembukaan UUD 45 yang syarat dengan istilah-istilah Arab seperti kata hak, rakyat, adil, adab, berkat, rahmat, tertib, selamat, daulat, hikmat, permusyawaratan, perwakilan dan yang lain. Gantikan pula nama-nama hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu, karena  itu berasal dari bahasa Arab. Ternyata banyak sekali istilah bahasa Arab yang suka mereka pakai juga. Karena sekali lagi, bukan bahasa Arab yang mereka benci, tapi Islamlah yang mereka benci.

Adapun bagi seorang muslim, mencintai bahasa Arab adalah keniscayaan. Bukan karena sok kearaban, dan bukan pula karena tidak suka dengan bahasa lokal, akan tetapi bahasa Arablah yang dipilih oleh Allah sebagai bahasa Kitab-Nya, juga bahasa yang digunakan oleh Nabi-Nya untuk menyampaikan risalahnya kepada semua manusia. Mencintai bahasa Arab, berarti mencintai Islam itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu sebagaimaan dinukil oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam iqtidha’, “Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu pernah mengatakan,

تَعَلَّمُوا اْلعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهاَ مِنْ دِيْنِكُمْ

 ”Pelajarilah bahasa arab karena bahasa arab adalah bagian penting dari agamamu”.

Maka semestinya kaum muslimin peka, bahwa trik-trik yang dilakukan oleh penganut anti Islam itu hanya adalah upaya musuh untuk menjauhkan umat dari Islam. Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة : 32]

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 32)

Wallahu a’lam bishawab

%d bloggers like this: