Antara Mukjizat dan Teknologi

Mohon Kefakihan Mendapat Seluruh Kebaikan

Baru-baru ini, Ulil Abshar Abda dedengkot JIL yang hobi bikin PR untuk kaum muslimin ini mengoceh lagi. Menurutnya, kecanggihan teknologi itu lebih hebat dari mukjizat Nabi manapun.

“Ini revolusi yang jauh lebih hebat dari mukjizat nabi manapun, termasuk mukjizat Musa yang membelah lautan atau mengubah tongkat menjadi ular,” kata Ulil di akun Facebook-nya beberapa waktu yang lalu.
Dia menampakkan sok update terhadap perkembangan teknologi, tapi sebenarnya justru menunjukkan dirinya itu ‘gaptek’, gagap teknologi. Sehingga terheran-heran dan tertakjub-takjub dengan era teknologi hari ini. Saking ‘gumun’-nya, sampai menganggap hal itu lebih hebat dari mukjizat para Nabi alaihimussalam. Entah, apa definisi mukjizat yang dimengerti oleh Ulil.

Makna Mukjizat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata mukjizat diartikan sebagai kejadian (peristiwa) yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Tapi secara asal, kata mukjizat terambil dari bahasa Arab أعجز  (a’jaza) yang berarti melemahkan atau menjadikan (pihak lain) tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz, dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka dinamaiمعجزة  (mu’jizat). Tambahan ta marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif).

Dalam Kamus al-Mu’jam al-Washith, mukjizat diartikan:

أمر خارق للعادة يظهره الله على يد نبي تابدا لنبوته

“Sesuatu (hal atau urusan) yang menyalahi adat kebiasaan yang ditampakkan Allah diatas kekuasaan seorang nabi untuk memperkuat kenabiannya”.

Imam Jalaluddin al-Sayuti menjelaskan bahwa mukjizat itu adalah:

أمر خارق للعادة, مقرون بالتحدى, سالم من المعارضة

“Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang disertai tantangan dan selamat (tidak ada yang sanggup) menjawab tantangan tersebut.”

Syeikh Manna’ al-Qattan dalam Mabahits Fie Uluumil Qur’an menyimpulkan bahwa mukjizat adalah sebuah peristiwa, urusan, perkara yang luar biasa yang dibarengi dengan tantangan dan tidak bisa dikalahkan. Sebagaimana Al-Qur’an dikatakan mukjizat karena Al-Quran menantang orang-orang Arab maupun yang lain, atau bahkan seluruh jin dan manusia, mereka tidak kuasa melawan meskipun mereka merupakan orang-orang yang fasih, hal ini tiada lain karena al-Quran adalah mukjizat. Begitupul halnya dengan mukjizat Nabi-nabi yang lain.

Jika sekarang ada yang mendakwa bahwa teknologi lebih hebat dari mukjizat, maka dia orang yang kesasar dan sesat. Teknologi itu sesuatu yang netral, bisa menjadi keutamaan bila kemudian menjadi acuan untuk bersyukur. Akan tetapi, jika seseorang menjadi pongah, maka kepongahannya akan membinasakan dirinya.

Maka sebenarnya, membandingkan antara mukjizat dan teknologi itu tidaklah proporsional, karena keduanya bukan tandingannya dan berbeda pula jenisnya.

Satu sisi mukjizat adalah peristiwa yang bersifat supranatural atau keluar dari hukum alam, sedangkan temuan ilmiah dan teknologi modern masih bersifat natural atau dalam lingkup hukum alam. Oleh karena itu, mukjizat tidak dapat terjadi kepada semua orang, akan tetapi khusus kepada para Nabi.. Sedangkan temuan ilmiah dapat ditiru oleh siapapun yang mempunyai kemauan, karena sifatnya masih natural dan alamiah.

Kedua, mukjizat sebagai peristiwa yang keluar dari batas hukum alam, tentu terjadi secara spontan dan bukan hasil usaha. Sementara temuan ilmiah modern adalah hasil usaha, eksperimen dan penelitian yang memakan waktu tidak sebentar. Mengapa demikian, karena mukjizat identik dengan kenabian yang memang tidak dapat dicapai dengan usaha, akan tetapi murni anugerah dari Allah.

Ketiga, mukjizat hanya terjadi pada seorang nabi, yaitu orang-orang yang diberi anugerah sekian banyak sifat kepribadian yang luar biasa, baik zhahir maupun batin. Sementara temuan ilmiah modern dapat dilakukan oleh siapa saja dan bahkan bisa dilakukan oleh orang yang kemampuan otaknya tidak begitu istimewa.

‘Kehebatan’ Umat Terdahulu

Jika memaksa untuk membandingkan antara keduanya, maka tentulah mukjizat tidak dikalahkan oleh teknologi. Jika mengambil sampel yang telah berlalu, adakah teknologi mampu membelah bulan menjadi dua lalu disatukan kembali sebagaimana mukjizat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Teknologi sekarang juga belum mampu membelah tengah samudra yang begitu luasnya lalu menyatu kembali sebagaimana mukjizat Nabi Musa alaihis salam?

Dari sisi lai, teknologi yang merupakan hasil eksperimen dan temuan manusia, sangat bergantung pada sumber daya alam yang terbatas. Jika sumber itu musnah, maka tiada berlaku ‘kesaktian’ teknologi. Dan amatlah mudah bagi Allah untuk menghancurkan apa yang diupakan manusia-manusia yang sombong.

Sejarah umat terdahulu juga menunjukkan kecanggihan dan kekuatan, namun kemudian Allah menghancurkan mereka karena kekafiran dan kesombongan mereka.

Seperti Kaum Tsamud yang mampu memahat gunung-gunung yang tinggi, lalu Allah membinasakan mereka dan meluluhlantakkan usaha mereka. Sebagaimana firman-Nya,

“Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah,” (QS. al-A‘raf [7]: 74). Dan pada akhirnya Allah meluluhlantakkan mereka karena keingkaran mereka, sebagaimana firman-Nya, “Mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan,” ungkap Surat Al Araaf Ayat 78.

Begitupun dengan kaum ‘Ad yang menyombongkan diri dengan kekuatannya,Allah berfirman tentang mereka, “Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.(QS. Fushshilat [41]: 15).

Maka para ‘pemuja’ teknologi telah menentang kekuasaan Allah jika menganggap hasil karyanya atau teknologinya lebih hebat dari mukjizat yang datang dari Allah Ta’ala. Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari kaum yang terdahulu? Fa’tabiruu yaa ulil abshar…!

%d bloggers like this: