Diampuni Semua Dosanya

Generasi Yang Senantiasa Menegakkan Shalat

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَة أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dalam sujudnya mengucapkan do’a, “Allahummaghfirli Dzanbi Kullahu Diqqahu Wa jillahu Wa Awwalahu Wa Akhirahu Wa ‘Alaniyatahu Wa Sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi).” (HR. Muslim)

Jatuh Dan Sering Melakukan Kesalahan

Sepanjang perjalanan hidup yang kita lalui hingga saat ini pernahkah kita melakukan kesalahan, pasti jawabnya adalah pernah, atau bahkan sering dan tidak bisa dihitung. Rasululah shallallahu’alaihi wasallam telah memastikan bahwa keturunan adam pasti akan terjatuh pada kesalahan, dan sebaik baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang mau bertaubat.

Bila demikian keadaan kita, dengan segala kerendahan dan kehinaan serta banyaknya kesalahan, kita tetap bisa menjadi baik dan mulia dengan bertaubat kepada Allah azza wa jalla. Rasulullah mengajarkan kepada kita doa untuk memohon ampun, bertaubat kepada Allah atas segala dosa di dalam sujud, keadaan terdekat seorang hamba kepada Rabnya.

Anggota badan yang dimuliakan manusia, yaitu kepala diletakkan sejajar dengan letak kakinya ditempelkan di tanah tempat yang dipijak oleh kakinya, menunjukkan kerendahan hamba untuk mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Allah Azza wa jalla yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.

Ibnul Qoyyim dalam madarijus salikin (1/283) menyebutkan, bertaubat memohon ampun kepada Allah atas dosa dosa adalah kewajiban yang harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda tunda, bila diakhirkan taubatnya maka ini adalah bentuk dosa yang lain yang dilakukannya yang perlu ditaubati.

Kita yang sering melakukan kesalahan dan dosa sangat butuh terhadap doa ini, karena dengan memunajatkanya dalam setiap sujud berarti ia tidak mengakhirkan kewajiban untuk segera bertaubat kepada Allah ta’ala.

“Allahummaghfirli Dzanbi Kullahu Diqqahu Wajillahu Wa Awwalahu Wa Akhirahu Wa ‘Alaniyatahu Wa Sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi)

Dosa Yang Besar Maupun Yang Kecil

Allah ta’ala berfirman menerangkan kepada hambanya bahwa dosa ada yang besar dan ada yang kecil, yaitu dalam surat An Najm ayat 32 :

“(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabmu Maha Luas ampunanNya.”

Mengenai ayat ini Ibnu Abbas berkata, bersabda Nabi Muhammad shallalahu’alaihi wasallam :

إِنْ تَغْفِرْ اللَّهُمَّ تَغْفِرْ جَمَّا وَأَيُّ عَبْدٍ لَكَ لَا أَلَمَّا

“Ya Allah, apabila engkau mengampuni maka Engkau banyak mengampuni, siapakah hamba yang tidak pernah melakukan dosa-dosa kecil?” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al Albaniy)

Diantara dosa besar ada yang terbesar, yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka, yaitu kekafiran. Kemudian dosa besar yang mewajibkan kefasikan dan dibawahnya lagi dosa kecil, namun para ulama berpendapat bahwa dosa kecil bila terus menerus dilakukan dan diremehkan maka ia bisa menjadi besar hukumannya. Ketiganya dirangkum dalam firman Allah :

“..Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat: 7)

Jika kita mengetahui dosa besar, maka selainnya adalah dosa kecil. Dan dosa besar adalah setiap dosa yang disebut oleh Allah dan RasulNya sebagai dosa besar, atau dosa yang disebutkan hukumannya (had) di dunia atau perbuatan yang mendapatkan ancaman kemarahan Allah di akhirat dan laknat Allah. Maka selainnya adalah dosa kecil, dan ini banyak jumlahnya tak terhitung.

Dari Awal Hingga Yang Terakhir

Sejak manusia baligh maka ia akan mempertanggungjawabkan setiap amal yang dilakuannya, yang diucapkan lisannya, yang diamalkan anggota badannya bahkan yang amalkan oleh hatinya. Kita mohonkan ampunan kepada Allah subhanahuwata’ala dari setiap kesalahan kita yang paling awal. Dan kita juga memohon ampunan dari Allah Azza wa jalla dari kesalahan kesalahan yang kita lakukan di akhir hayat kita.

Berkata syaikhul Islam ibnu taimiyah dalam fatawa al kubra (5/281), bawa siapa saja yang memohon ampun kepada Allah dengan permohonan ampun secara umum dari setiap kesalahan yang dilakuan, maka ini menyebabkan datangnya ampunan Allah, meskipun ia tidak memperinci dari dosa dosa yang dilakukanya.

Keselamatan dan kebaikan akan ada pada hamba yang selalu meminta ampun dari semua dosa dosanya, baik yang awal maupun yang akhir, yang terang terangan maupun yang tersembunyi.

Yang Terang Terangan Dan Tersembunyi

Ada kalanya manusia bercampur bersama manusia yang lain, sehingga setiap gerak dan geriknya diketahui secara umum, ada pula suatu kondisi dimana manusia sedang sendiri dan tersembunyi dari manusia yang lain. demikian pula dosa yang kita lakukan tidak lepas dari dua kondisi diatas. Dosa yang jamak dilakukan secara terang terangan dan dosa yang dilakukan tersembunyi dari pandangan manusia.

Memperbanyak sujud dan memperbanyak doa dalam sujud merupakan hidayah Allah bagi hambaNya yang tawwabuun, yang bersegera bartaubat dari seluruh kesalahan dan dosa, menjadikan seorang hamba kembali bersih dan mulia disisiNya.

%d bloggers like this: