Silap Mata Pecah Kepala

adab

Pada keterbatasan pandanganlah mata bisa tersilap. Menangkap objek dan menyimpulkan hasil tak sesuai dengan hakikatnya. Bisa karena intensitas cahaya yang tidak proporsional sehingga memanipulasi tampilan sebuah penampakan, atau kondisi diri yang tak sepenuhnya sadar sehingga tergesa memberi penilaian, dipandu subjektivitas yang memang memihak Apapun, tidak selalu yang terlihat, mewakili isinya.

Maka proses kepulangan kepada Allah yang benar, berada di dalam koridor yang jelas; ittiba’ kepada Rasulullah Sang junjungan, satu-satunya ‘Yang Terpilih’ sebagai utusan, dengan keabsahan legalitas penunjukan, dan amaran akan peneladanan beliau dalam seluruh aspek kehidupan. Karena Islam telah datang dengan kesempurnaannya, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Ditambah ikhlas sebagai wujud kesucian hati, perlambang ketundukan dan kepasrahan murni, juga kenihilan berbagai harapan dan tujuan syahwati duniawi, syarat diterimanya sebuah karya bernama amal shalih telah ditetapkan. Ia adalah kemutlakan hak uluhiyah karena Dialah sebenar-benar Rabb seluruh jin dan insan.

Maka, sejumlah alasan pembenaran akan tertolak jika memang sejatinya tidak benar. Ada amalan manusia yang berakhir sebagai debu beterbangan karena gagal memenuhi syarat penerimaan itu, bagaimana pun logika mencoba mencerna dan perasaan kita mencari pembenaran. Karena bukan kita lah hakim yang berhak memutuskannya.

Ia bisa saja adalah amal yang diduga kuat sebagai karya hebat oleh penggiatnya, dari berbagai puja puji yang ditemui, atau banyaknya penghargaan yang didapatkan. Dengan keyakinan tinggi sebagai sebuah prestasi hidup ini yang akan mampu menyelamatkan diri di akhirat nanti dari api neraka. Perasaan bangga yang mengabaikan arahan Sang Pembuat syariat sebab lebih peduli pada rasa, yang aslinya memang bukan sumber kebenaran.

Atau amalan penggembira dalam bingkai semu bernama mayoritas. Pijakan lemah bagi yang tidak berilmu karena perasaan nyaman yang ditimbulkan. Gambaran nyata tiadanya perlawanan karena tak berdaya melawan hegemoni selera kebanyakan. Meski bangunannya rapuh karena berpijak di atas prasangka dan kepentingan, juga dusta kepada Allah.

Ia juga bisa berupa amalan yang menghibakan siapa yang melihat. Mendatangkan banyak simpati karena tampilan yang menyayat hati. Sedang sebenarnya, ia hanyalah kepalsuan karena tersisih dan gagal menggapai dunia, namun berisi kebusukan dan keharaman. Seperti tertolaknya doa musafir yang kusut masai dan berdebu, namun menikmati keharaman dalam hidupnya.

Amalan yang tertolak bisa juga merupakan hasil kerja keras dan membuat pelakunya menderita di dunia. Tersesat jalan karena kebodohan, dan terlempar dari pencapaian dunia karena gagal mendapatkannya. Meski telah bekerja sangat keras, bukan berarti ia benar di sisi Sang Pencipta.

Akhirnya, kita harus waspada dan hati-hati menjaga ilmu dan keikhlasan diri. Agar seluruh karya hidup kita bernilai di sisi Allah. Agar tidak terjadi silap mata pecah kepala. Semua gagal dan sia-sia.

%d bloggers like this: