Membunuh Dua Burung Dengan Satu Lemparan

Membunuh Dua Burung Dengan Satu Lemparan

Sebuah tulisan semacam ‘kesaksian intern’ dari dalam tubuh organisasi kebangkitan Islam membuka fakta bahwa ghazwul-fikri dalam beragam tampilannya, pemikiran, seni, maupun ekspresi tindakan riel liberalisme, efektif untuk menghadang gerakan kebangkitan Islam. Revolusi di Tunisia sebagai bagian dari rangkaian peristiwa ‘Arab Spring’ membuka kenyataan tersebut. Presiden Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, termasuk rezim yang tumbang tersapu badai protes massa tersebut. Tulisan berjudul ‘Haula Asbab al-Intisyar al-Ghuluw fie Syabab at-Tunis’ (Seputar sebab-sebab tersebarnya sikap berlebihan di lingkungan pemuda Tunisia) yang ditulis oleh aktivis jihad di Suriah asal Tunisia dengan nama ‘kun-yah’ Abu Lubabah at-Tunisiy memaparkan analisis aksi-reaksi yang memantik dan menyuburkan tersebarnya paham ekstrem dan sikap berlebih-lebihan di kalangan pemuda-pemuda Tunis.

 

Kejatuhan Sistem Tiran dan Terbukanya Kebebasan

Setelah jatuhnya rezim Ben Ali, kondisi represif berganti dengan suasana kebebasan, meski masih dalam bayang-bayang kekuatan militer yang terus menunggu momentum untuk kembali berkuasa, juga para pemeluk agama sekularisme yang sangat giat melakukan aksi untuk agendanya sendiri. Di celah-celah kebebasan semu tersebut, gerakan Islam juga berkembang cepat terbantu oleh kondisi umum yang berubah tersebut. Sosialisasi dakwah Islam berkembang cepat melalui dauroh-dauroh syar’iyyah (training-training keagamaan), diikuti dengan implementasi dalam kehidupan bermasyarakat sehingga suasana komitment keagamaan di tengah masyarakat Tunisia marak.

Perubahan kondisi tersebut menumbuhkan konfidensi para aktivis gerakan Islam untuk melangkah lebih lanjut, membawa agenda pelaksanaan syari’at Islam sampai tingkat pemerintahan. Mereka membentuk organisasi Anshar asy-Syari’ah yang bergerak secara terbuka dengan berbagai devisi yang kompleks, termasuk sayap jihad bersenjata. Perkembangan program dan proyek-proyek ke-Islaman yang cepat dan progresif tersebut ternyata belum diimbangi dengan kesamaan pemikiran dalam masalah-masalah tahapan-tahapan, tuntutan-tuntutan dan penopang-penopang yang diperlukan pada setiap tahapannya. Hal itu menimbulkan perbedaan cara pandang dan perselisihan. Perselisihan itu bahkan berlanjut kepada sikap saling memvonis dan bahkan ada yang jatuh pada sikap mengkafirkan sesama gerakan Islam.

Ada ketidakselarasan antara kecepatan tumbuhnya komitment karena terbukanya celah kebebasan pasca revolusi rakyat menjebol sistem tirani, sehingga terjadi euforia massa, termasuk dalam mengimplementasikan ajaran Islam, dengan ketersediaan bimbingan dari para ‘ulama yang jujur dan berani menjelaskan, membimbing para pemuda tersebut untuk melaksanakan agama secara sabar, bertahap, bersungguh-sungguh sampai matangnya keadaan, siapnya umat melaksanakan syariat, lengkap penopang-penopangnya dan mewaspadai makar musuh-musuh yang sangat ingin menggagalkan proyek tersebut dan meng-aborsi gerakan Islam dengan memasuki tahapan sebelum matang dan lengkap penopangnya.

 

Makar Kaum Sekularis

Para penganut sekularisme telah diuntungkan sejak rezim tiran masih berdiri. Mereka berhasil menempati posisi strategis, terutama di bidang media ; audio, cetak maupun elektronik. Ketika melihat gelombang bahaya baru dari kalangan Islam yang menemukan momentum untuk kembali komitment kepada agamanya, mereka memikirkan segala daya upaya untuk menghambat, bahkan jika mungkin menghentikannya. Mereka melakukan kampanye media siang-malam untuk menandingi gelombang kebangkitan tersebut dengan menampilkan tulisan, tayangan film dan hiburan, berbagai bentuk talk show yang bernuansa melawan dan menjelekkan, membangun image buruk tujuan revolusi dan melakukan assasination (pembunuhan karakter) terhadap tokoh-tokoh Islam terutama para mujahidin.

Para tokoh liberal dan jurnalis fasiq memulai kampanye perlawanannya dengan memerangi syiar-syiar Islam dan hukum-hukum syari’at. Syariat seputar kewajiban syar’iy kaum wanita merupakan prioritas pertama yang mereka serang dan lemahkan. Kemudian mencela dan melemahkan kenabian RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam, diikuti dengan menjelekkan para shahabat radliyalLahu ‘anhum, mengolok-olok agama dan mencela tuhan. Mereka juga mengkampanyekan kebebasan seks, zina, homoseks, lesbian dan minuman keras. Channel TV Hannibal adalah salah satu yang melakukan peran busuk itu, channel  TV Nismah bahkan lebih dari itu, mereka berani menayangkan film yang menghina Allah. Dengan dalih kebebasan individu, kaum sekularis di Tunisia menyuguhkan tayangan ‘Gay dan Homoseksual’, bahkan mendorong pemerintah untuk segera mengeluarkan regulasi yang melindungi mereka sehingga para pelaku itu hidup bebas sebagai manusia normal.

 

Melempar Dua Burung dengan Satu Batu

Kampanye kebebasan secara massif itu memiliki tujuan utama menggagalkan kebangkitan komitment umat Islam terhadap agamanya dengan menciptakan lingkungan yang tidak kondusif. Mencegah mereka yang belum terpengaruh oleh magnet kebangkitan tersebut agar melemah dan memudar, tetap berada pada milliu yang liberal dan permissif. Di sisi lain, mereka yang tidak dapat dipengaruhi dengan gaya hidup liberal dan serba boleh, tetap komitment kepada agama dan akhlaq Islam, terus diisolir dan diserang dengan berbagai hinaan dan pencitraburukan.

Kondisi seperti itu, bagi para pemuda yang sedang dan baru tumbuh kecemburuannya kepada agama menimbulkan tekanan psikhologis terpendam yang sewaktu-waktu dapat meletup menjadi reaksi yang ekstrem. Kebencian kepada penganut sekuler-liberal semakin dalam, apalagi sistem dan regulasi yang ada pasca revolusi ternyata masih tetap berpihak dan melindungi musuh-musuh dakwah dan agama tersebut. Tidak hanya kepada mereka, bahkan para ulama dan elemen kebangkitan Islam yang dipandang kurang, atau tidak tegas menghadapi fenomena tersebut ikut terkena vonis kefasikan bahkan kekafiran.

Di titik ini, inteligent yang bekerja untuk para pendukung rezim yang telah ditumbangkan rakyat, yang kepentingan mereka searah dengan kepentingan barat menemukan celah untuk diekslopitasi. Tidak hanya itu, mereka juga telah menemukan momentum yang tepat dan menguntungkan untuk mengabdi kepada kepentingan yang lebih besar. Bibit sikap berlebihan yang merupakan buah dari tekanan psikhologis massa akibat kampanye massif anti-Islam dari kaum liberal-sekuler tersebut dapat menjadi bahan bakar untuk membesarkan api ekstrimitas yang mulai menampakkan gejalanya di pergolakan sekitar Syiria dan Irak.

Mulailah invisible hand dari kalangan inteligent rezim bekerja mempermudah dan mengarahkan agar para pemuda bersemangat tersebut berangkat ke bumi persemaian yang menurut mereka sudah ‘gembur’ dan kondusif untuk menanam benih ekstremitas yang kedepannya akan menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi gerakan kebangkitan Islam. Mereka bak melempar dua burung dengan satu timpukan batu. Di satu sisi mengosongkan Tunisia dari anasir Islam ‘fundamentalis’ dan kelompok jihadis yang akan membahayakan rezim, di sisi lain para pemuda bersemangat yang belum matang ilmu dan kurang pengalaman tersebut akan mudah diarahkan untuk menjadi bahan bakar demi menghidupi tungku ekstremitas yanag telah mulai menyala di Irak dan Syiria.

Umat Islam perlu waspada, boleh jadi proyek seperti itu akan di-kloning dan diterapkan dimana saja umat Islam menemukan kembali kesadaran agamanya, banyak pemuda bersemangat yang kurang ilmu dan pengalaman, sedikitnya ulama rabbaniyyun yang mendedikasikan dirinya untuk membimbing kebangkitan Islam tersebut  agar selamat menempuh jalannya hingga sampai tujuan dan tidak di-aborsi oleh musuh-musuhnya dan para pendengki yang tidak senang panji tauhid berkibar di bumi Allah. Wa Allohu al-Musta’an wa ‘alayhi at-Takalan

%d bloggers like this: