Memperbanyak Doa Dalam Sujud

syahid

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa.”

(HR. Muslim No. 482, dari Abu Hurairah).

Posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya yang Mahatinggi, justru saat si hamba merendah serendah-rendahnya kepada Allah. Yaitu saat seorang hamba meletakkan kepalanya, organ paling dimuliakan, di atas tanah. Inilah momen terdekat dan paling berkualitas antara hamba dan Rabbnya. Oleh karenanya, Nabi SAW menganjurkan agar jangan menyia-nyiakan momen ini. Beliau menyuruh untuk memperbanyak doa karena peluang terkabulnya besar.

Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud, adapun ketika ruku’, agungkan kamulah Rabb dan adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan.”(HR. Muslim, Nasa’i dan Abu Dawud)

Kenyataanya, kita sering abai terhadap sunah ini. Sebagian besar dari kita hanya membaca tasbih “subhana rabbiyal a’la” atau “subhanakkllahuma rabbana wabihamdika allahumaghfirli”. Tidak salah memang, tapi kita telah melewatkan momen emas untuk memohon banyak hal. Selain itu, varian doa saat sujud yang Rasulullah ajarkan juga cukup banyak. Kita bisa memilih atau membaca semuanya. Tentunya, dengan mempertimbangkan apakah shalat kita berjamaah atau tidak. Dalam shalat berjamaah, kita harus mengikuti imam. Atau jika kita menjadi imam, kita harus memperhatikan kondisi makmum agar shalat tidak terlalu lama dan memberatkan.

Adapun beberapa varian doa dalam sujud selain yang sudah masyhur di antaranya;

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

“Maha Suci Allah, Rabb para malaikat dan Jibril (ar Ruh).” (HR Muslim dari Aisyah RDH)

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجُلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّه

“Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya; yang kecil maupun yang besar, yang dahulu maupun sekarang, yang terang-terangan maupun rahasia.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Ya Allah, kepadamu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajah ini bersujud kepada yeng menciptakan dan memberinya rupa, membuka pendengaran dan pengelihatannya, Maha suci Allah, Sebaik-baik Pencipta.” (HR Muslim dari Ali bin Abi Thalib).

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Maha suci Allah yang memiliki Jabarut, Kerajaan, kesombongan dan keagungan.” (HR Abu Daud dan an Nasai, shahih, dari ‘Auf bin Malik).

Inilah beberapa doa yang ma’tsur atau memiliki riwayat. Lebih dari itu, kita diperbolehkan membaca doa lain saat sujud, misalnya doa untuk orangtua, memohon ampunan diri, dibebaskan dari hutang, diberi keturunan dan lain sebagainya. Para ulama madzhab Hanbali dan Syafi’iyah mensyaratkan bahwa doa yang dibaca saat sujud hendaknya doa-doa yang redaksinya memiliki riwayat, bukan karangan pribadi.

Asy-Syafi’i dan sahabat-sahabat kami berkata, “Boleh berdo’a apa saja yang dikehendaki  baik urusan akhirat maupun dunia, tetapi urusan akhirat lebih utama. Boleh berdo’a dengan do’a-do’a ma’tsur dalam shalat maupun do’a ma’tsur lain. Boleh berdo’a dengan do’a yang bukan ma’tsur atau apapun yang dikehendaki, baik urusan akhirat maupun urusan dunia. Anjuran do’a ini  berlaku sama bagi imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian.Demikian pernyataan Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dan telah dipastikan oleh mayoritas ulama.(al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 3/934).

Jika di antara kita ada yang masih kesulitan mengungkapkan doa dalam bahasa Arab, kita diijinkan membaca doa dalam bahasa sendiri. Tentunya, maksudnya bukan shalat bilingual, ini hanya pada saat berdoa dalam sujud atau setelah tasyahud akhir. Hal ini sebagaimana difatwakan oleh Lajnah Daimah, Komite Tetap untuk Fatwa Kerajaan Saudi:

“… Seseorang diperbolehkan berdoa kepada Allah di dalam shalatnya dan di luar shalatnya dengan menggunakan bahasa Arab atau selain bahasa Arab, sesuai dengan keadaan yang paling mudah menurut dia. Ini tidaklah membatalkan shalatnya, ketika dia berdoa dengan selain bahasa Arab. Namun, ketika dia hendak berdoa dalam shalat, selayaknya dia memilih doa yang terdapat dalam hadis yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ….”  [Fatwa Lajnah Daimah, volume 24, nomor 5782].

Dan sebaiknya pula, kita membaca doa di semua sujud, bukan sujud terakhir saja. Rasulullah mengajarkan agar durasi sujud, rukuk dan berdiri kurang lebih sama panjang dan lamanya.

Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan,

كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ

Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” (HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471)

Untuk itu, hendaknya kita tidak melewatkan momen ini. Perbanyak doa karena saat itu adalah waktu yang dekat dengan ijabah. Wallahua’lam.

%d bloggers like this: