Plasebo Palsu

Plasebo Palsu

Pada kasus narkotika, kita belajar betapa nilai sebuah kenikmatan menjadi sangat mahal, meski ia palsu. Harga yang fantastis untuk kadar yang hanya miligram, karena harapan akan efek dahsyatnya yang memabukkan, melenakan. Pengorbanan yang sangat besar, mengingat tidak adanya hasil positif yang akan didapatkan. Keberanian yang membingungkan sebab ketidakjelasan tujuan yang akan diraih selain bernikmat-nikmat. Bahkan untuk semua nikmat sesaatnya, berbagai risiko buruk yang mengiringi pun diabaikan. Otak ditumpulkan, mata dibutakan, telinga dituliskan, serta hati dimatikan.

Maka, jika mili per miligram serbuk haram itu berharga luar biasa mahal, ialah karena kandungannya, meski dalam berat sangat ringan, memang memberi efek yang diinginkan. Ia menjanjikan, dan ia membuktikan. Bahwa dalam takarannya yang tampak tak seberapa, nirwana yang ditawarkan benar-benar menjelma nyata. Ada, dan bisa dijangkau penggunanya.

Bukankah demikian juga seharusnya ibadah kita kepada Allah? Seberapapun, seharusnya ia memberikan pengaruh positif bagi para pelakunya. Manisnya iman yang menentramkan, dan berlaku akumulatif pada setiap tambahannya, meski tampak remeh temeh dalam pandangan. Dan kita yakin bahwa ia tidak sepele. Setiap ketaatan bernilai besar di sisi Allah juga bagi pelakunya sebab tidak ada yang sia-sia pada setiap penciptaanNya.

Tapi bagaimana jika ia hanya memberi rasa lelah dalam jiwa yang gelisah? Serupa rahim yang mandul, tak pernah terdengar kabar kelahiran meski berulang kali melakukan pembuahan. Rasulullah mengisyaratkannya pada mereka yang berpuasa namun hanya beroleh lapar dan dahaga. Pada mereka yang bangun malam namun hanya menghasilkan tubuh yang terjaga. Atau pada pelantun doa yang tak terkabulkan sebab dilingkupi berbagai hal yang haram. Juga dalam berbagai ibadah lain yang tak menutrisi jiwa pelakunya, tak memberi tenaga yang menggerakkannya. Ia hanya pepesan kosong!

BACA JUGA : Kala Cinta Bersalin Rupa

Ia bisa karena dalam taat pelakunya masih saja bermaksiat. Saat manisnya ketaatan berpadu dengan kemaksiatan yang membuatnya berasa pahit. Saat proses pemutihan hati beriringan dengan penghitamannya. Maka minimal, ia akan berwarna kelabu, tak akan menjadi putih bersih, atau malah menjadi hitam legam yang menutupi hati. Bukankah maksiat laksana pohon yang membuahkan noktah hitam di hati kita? Dan pembersihannya dengan taubat, istighfar, dan meninggalkannya, bukan dengan menambah lagi ketaatan.

Atau ia terjadi tanpa hadirnya hati. Kosong tanpa pendalaman dan kepasrahan. Hanya terdiri dari serangkaian gerakan manipulatif yang tak berjiwa dan menihilkan rasa. Serupa plasebo palsu yang hanya memberi sugesti tanpa esensi. Lalu apa yang kita cari?

%d bloggers like this: