Keintiman Seharusnya

Keintiman Seharusnya

Dari miliaran manusia di muka bumi yang bisa jadi menyediakan banyak pilihan yang lebih baik, dia telah kita pilih sebagai pasangan. Apapun alasannya, dan bagaimana pun sebab kejadiannya, dia telah memenangkan hati kita. Berarti dia telah menjadi sosok berharga di dalam hidup kita. Yang bernilai mahal sebab pertanggungjawabannya adalah surga. Ikatannya suci bernilai tinggi bernama Mitsaqan ghalizha. Dan penghalalannya adalah syarat yang paling utama untuk ditunaikan.

Dalam konteks pernikahan, dia adalah pribadi istimewa karena posisinya sebagai pasangan hidup.  Menjadi tua bersama dalam suka dan duka, dalam pasang surutnya dinamika hidup, dalam semua hal yang nanti akan kita temui di sisa perjalanan ini. Kita membiarkannya memasuki kehidupan kita yang sebenarnya. Mengetahui tentang diri kita secara lengkap; baik buruknya, kelebihan dan kekurangannya, juga jatuh bangunnya. Dialah cerminan diri kita, sekarang.

Dia istimewa sebab menjadi teman sejati yang paling mengerti dan setia mendampingi apapun yang terjadi. Dalam bingkai pencarian sakinah, pemaknaan ibadah, hingga bekerja sama membangun ketakwaan kepada Allah. Menjadi pengikut yang patuh, pendukung yang tulus, pelayan yang setia, penasihat yang jujur, hingga penerima semua keluh kesah. Sehingga idealnya, bersama pasangan yang istimewa itu, kita menjalani kebersamaan yang dekat, mesra dan intim.

Maka pernikahan adalah sebuah oase di tengah gersangnya gurun pasir kehidupan; menyejukkan, menyamankan, memulihkan, dan membangkitkan. Oase bernama sakinah, mawaddah wa rahmah. Potongan surga yang Allah hadirkan ke dunia yang kita rindukan, harapkan, dan perjuangkan. Tempat terbaik bagi kita untuk menyemai harapan dan merenda masa depan, menempa keturunan menjadi para pejuang kebenaran, juga menyelesaikan problema kehidupan. Tapi bagaimana jika oase itu menghilang, dan hanya menyisakan lubang menganga yang kering dan tandus? Keluarga tanpa keintiman, kesejukan, kenyamanan, dan ketenangan?

Faktanya, banyak keluarga tidak menjadi seperti yang diharapkan. Bukan saja suasananya sangat tidak menyamankan, namun juga kehadiran pasangan menjadi mengganggu dan merepotkan alih-alih membantu dan memudahkan. Kebersamaan palsu sebab tidak memberi manfaat dunia akhirat. Kebersamaan yang membebani dan memberatkan. Di tempat yang sama di waktu yang sama secara fisik, namun jiwanya terbang ke mana-mana dan tidak terhubung antara satu dengan yang lainnya.

BACA JUGA : Berkah Ilmu Karena Menghormati Guru

Berapa banyak pasangan yang merasa sendiri dan kesepian dalam pernikahan mereka? Secara hukum memiliki pasangan yang ditunjukkan dengan adanya surat nikah, namun secara fakta berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Hingga meski sudah menikah, hampir seluruh masalah harus diselesaikan sendiri. Kehadiran pasangan nyaris tidak berarti karena gagal memberi manfaat maksimal, bahkan seringkali menjadi beban. Pasangan yang egois dan tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Ada juga yang merasa ditolak, tidak diinginkan dan tidak aman. Kedudukannya terancam sebab pasangan sering mengungkapkan kekecewaan, mengancam akan meninggalkan atau melakukan pengusiran. Menjadi pribadi sekedar pelengkap penderita yang tidak dikehendaki jelas bukan keadaan yang menyenangkan. Apalagi sikap pasangan yang sombong dan merendahkan sangat menyiksa batin. Sikap-sikap merendahkan kemudian seolah-olah menemukan pembenaran. Padahal pengorbanan yang selama ini diberikan juga bukan asal-asalan, bahkan nyaris habis-habisan.

Ada juga yang menderita oleh kurang sehatnya komunikasi. Berstatus suami istri secara hukum namun tidak bisa mengungkapkan apa yang diinginkan, diharapkan, dan dirasakan. Bahkan hanya bisa diam saat pasangan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Buntutnya komunikasi tentu sangat memberatkan sebuah pernikahan sebab ia adalah katalisator penyatuan hati. Dan ketika ia sakit, tentu sangat disayangkan. Hari-hari yang ada menjadi berat untuk dijalani karena semua persoalan tidak dibicarakan, apalagi dicarikan solusi. Akhirnya berbagai masalah mengendap dan membebani jiwa.

Yang lain kehilangan perspektif dalam hidup dan cenderung apatis. Bersikap acuh tak acuh dan masa bodoh dengan keluarganya dan kehilangan energi untuk melakukan perbaikan. Tidak peduli nanti menjadi seperti apa karena kekecewaan yang sudah parah. Hidup kehilangan keceriaan dan optimisme sehingga hari-hari terasa hampa dan hambar. Hanya pasrah dengan keadaan Yang penting masih bisa makan dan bertahan.

Cita-cita besar ingin membentuk keluarga samara, menghasilkan keturunan pejuang kebenaran, hingga pernikahan yang diniatkan untuk ibadah hanya tinggal angan. Pergi menguap bersama keintiman yang hilang seiring berjalannya waktu. Jika semua ini yang ada, maka kita harus bergegas memperbaikinya. Karena ia serupa bom waktu yang akan meledak begitu pemicunya muncul.

Kita harus memahami bahwa keintiman yang dekat dan mesra adalah yang seharusnya ada di dalam keluarga. Sebab kita manusia dan ialah nutrisi jiwa. Memaknai arti kebersamaan dalam menjalani takdir kehidupan sehingga hidup yang berat ini menjadi ringan, semua kesulitan menjadi mudah karena jiwa kita sehat dan bertenaga. Ia bermula dari keintiman yang meniscayakan suasana surga di rumah kita.