Perang Pertama

Perang Pertama

Terdengar kabar di kalangan kaum muslimin Madinah bahwa kafilah dagang kaum quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan hendak pulang dari Syam menuju Makkah. Jalan mudah dan terdekat untuk perjalanan Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah. Maka Rasulullah mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Said bin Zaid untuk penyelidikan. Keduanya melakukan pengintaian di utara Madinah. Ketika kafilah dagang quraisy lewat, mereka cepat-cepat kembali ke Madinah untuk mengabarkan kepada Rasulullah. Kafilah dagang tersebut membawa sekitar 1000 ekor unta dan tiap-tiap unta membawa harta benda masing-masing.

Ini merupakan kesempatan terbaik bagi kaum muslimin untuk melancarkan pukulan telak terhadap kaum quraisy jika mereka kehilangan kekayaan yang tak terkira banyaknya tersebut. Oleh karena itu Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslim, “ini adalah kafilah dagang quraisy yang membawa harta benda mereka. Hadanglah kafilah itu, dan semoga Allah memberikan barang rampasan itu kepada kalian.”

Selanjutnya Rasulullah berangkat bersama tiga ratus sekian belas sahabat. Para ahli sejarah berbeda pendapat dalam menentukan jumlah pasukan kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah tersebut. Ada yang mengatakan 313, 317, dan beberapa pendapat lainnya. Di antara jumlah pasukan tersebut, ada dua penunggang kuda dan 70 onta yang mereka tunggangi bergantian. 70 orang di kalangan Muhajirin dan sisanya dari Anshar.

Sementara di pihak kaum quraisy, ketika mendengar kabar bahwa kafilah dagang Abu Sufyan meminta bantuan, dengan sekonyong-konyong mereka menyiapkan kekuatan mereka sebanyak 1000 personil, 600 baju besi, 100 kuda, dan 700 unta serta dengan persenjataan lengkap. Berangkat dengan penuh kesombongan dan pamer kekuatan di bawah pimpinan Abu Jahal.

Rasulullah bersama para sahabat keluar dari Madinah dengan harapan dapat menghadang kafilah dagang Abu Sufyan. Merampas harta mereka sebagai ganti rugi terhadap harta yang ditinggalkan kaum muhajirin di Makah. Meskipun demikian, mereka merasa cemas bisa jadi yang mereka temui justru pasukan perang. Oleh karena itu, persenjataan yang dibawa para sahabat tidaklah selengkap persenjataan ketika perang. Namun Allah mentakdirkan agar pasukan tauhid yang kecil ini bertemu dengan pasukan kesyirikan. Allah hendak menunjukkan kehebatan agamanya, merendahkan kesyirikan.

Ketika Rasulullah merasa yakin bahwa yang nantinya akan ditemui adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang, Beliau mulai cemas dan khawatir terhadap keteguhan dan semangat para sahabat. Beliau sadar bahwa pasukan yang akan beliau hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yang Beliau pimpin. Oleh karena itu, tidak heran jika ada sebagian sahabat yang merasa berat dengan keberangkatan pasukan menuju Badar.

Meskipun para komandan pasukan Muhajirin, seperti Abu Bakr dan Umar bin Al Khattab sama sekali tidak gentar, ini belum dianggap cukup oleh Rasulullah. Beliau masih menginginkan bukti konkret kesetiaan dari sahabat yang lain. Akhirnya, untuk menghilangkan kecemasan itu, Beliau berunding dengan para sahabat, meminta kepastian sikap mereka untuk menentukan dua pilihan: tetap melanjutkan perang apapun  kondisinya, atau kembali ke madinah.

Majulah Al Miqdad bin ‘Amr seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jalankan apa yang Allah perintahkan kepadamu, sebab kami senantiasa bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata kepadamu seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: “Maka pergilah kamu bersama tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua (saja), sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja Tetapi pegilah anda bersama Rab anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang bersama kalian. Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran,  kalau saja anda pergi membawa kami ke Bark al-Ghimad (suatu tempat di Yaman) niscaya kami akan sabar pergi bersamamu tanpa perduli apapun hingga sampai disana.”

 Kemudian Rasulullah memberikan komentar yang baik terhadap perkataan Al Miqdad dan mendoakan kebaikan untuknya. Selanjutnya, majulah Sa’ad bin Muadz, komandan pasukan kaum anshar. Sa’ad mengatakan, “Sungguh kami telah beriman kepadamu, percaya kepadamu, bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah al-Haq, karena itu kami memberimu janji dan perkataan untuk selalu mendengar dan mentaati apa yang engkau perintah. Maka dari itu laksankan apa yang engkau inginkan. Kami akan selalu bersamamu. Demi dzat yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran, kalau saja engkau membawa kami mendatangi lautan, lalu engkau menyelamnya, maka kamipun akan menyelamnya, tidak akan ada satu pun dari kami yang akan berpaling.”

Malamnya, Rasulullah lebih banyak mendirikan shalat di dekat pepohonan. Sementara Allah menurunkan rasa kantuk kepada kaum muslimin sebagai penenang bagi mereka agar bisa beristirahat. Sedangkan kaum musyrikin di pihak lain dalam keadaan cemas. Allah menurunkan rasa takut kepada mereka.

Rasulullah senantiasa memanjatkan doa kepada Allah. Memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya. Di antara do’a yang dibaca Rasulullah berulang-ulang adalah, “Ya Allah, jika Engkau berkehendak (orang kafir menang), Engkau tidak akan disembah. Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah.”

Setelah Rasulullah menyiapkan barisan pasukan, Beliau berjalan di tempat yang akan menjadi medan pertempuran dua pasukan. Kemudian beliau berisyarat, “Ini tempat terbunuhnya fulan, itu tempat matinya fulan, sana tempat terbunuhnya fulan.”

Tidak satupun orang kafir yang Beliau sebut namanya, kecuali meninggal tepat di tempat yang telah diisyaratkan Beliau. Wallahu a’lam bisshowab

%d bloggers like this: