Jangan Menyesatkan Diri

Jangan Menyesatkan Diri

Begitu banyak masalah dalam kehidupan. Dalam variasi tampilan dan perolehannya, substansinya adalah ujian keimanan kita, sebagai sunatullah yang sudah, sedang dan akan terus berlangsung sampai batas waktu hanya Dia yang tahu. Untuk melihat siapa di antara kita yang jujur dan dusta dalam pengakuan imannya, siapa juga di antara kita yang paling baik amalnya.

Maka bukan untukNya jika kepatuhan kita diniscayakan dan pengingkaran kita ditabukan. Bahkan ia untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebab Dialah Allah, sebenar-benar Ilah yang gagah berkuasa dalam kesendirian. Tak perlu teman dan bala bantuan. Tak perlu penegasan dan pengakuan. Bahkan keimanan atau kekafiran hamba, jin dan insan. Dia akan tetap meraja bersemayam di atas Arsy tanpa gugatan dan penolakan.

Maka, bersekutunya seluruh alam manusia dan jin, dari awal hingga akhir dalam ketaatan dan kualitas ketundukan serupa hamba yang paling bertakwa, tidak akan pernah bisa menambah kekuasaanNya sedikitpun. Demikian jua andai seluruh jin dan manusia ramai berserikat untuk mengingkariNya dengan hati semisal hamba yang paling jahat, hal itu tidak akan mengurangi kekuasaanNya sedikit pun. Seperti kata Musa ‘ Alaihi salam, “Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari nikmat Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Maka, syariat adalah hadiah bagi hamba beriman. Ia adalah rahmat, obat penawar, petunjuk, nasihat, juga ruh yang menghidupkan dan cahaya yang menerangi. Yang membawa manusia meninggi melampaui semua makhluk Allah yang lain, bahkan para malaikat sekalipun. Menjaga manusia tetap dalam kemuliaannya sebagai makhluk paling mulia, dan menghindarkannya dari keterpurukan yang jauh lebih rendah dari binatang sekalipun.

Maka, marilah kita mendengar dan melihat, membaca dan merasa, menalar dan berfikir, merenung dan mencari arti, memilih dan memilah, juga menyerah dan berpasrah! Sebab sampainya petunjuk kebenaran kepada iman, selalu diiringi godaan setan yang mengancam. Menyerang hati yang sakit dan keras kemudian menjadi fitnah atasnya. Hingga tergugu dalam ragu, dan melawan ketaatan.

Maka bersihkan hati kita agar fitnah tak menyakitkannya! Kebenaran mendarat sempurna di sana, dan meraja membawa ilmu dan iman. Kemudian membawa keyakinan dalam ketundukan. Agar hati waspada menjaga warna putihnya. Dan tak membiarkannya menghitam meski bergerak perlahan. Sebab jika itu yang terjadi, maka, ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali sesuatu yang terserap dari hawa nafsunya.

Saat itulah ia menghitam, mengeras dan kasar, kesakitan bahkan mati. Kemudian tak peduli lagi kemana badan dan jiwa dibawa pergi. Bahkan saat ia tersesat tanpa disadari.