Memuliakan Marbut Masjid

Memuliakan Marbut Masjid

Masjid adalah baitullah, rumah Allah yang di dalamnya disembah dan senantiasa disebut nama-Nya. Tidak ada tempat yang lebih baik di muka bumi dari pada masjid Allah. Rasulullah saw bersabda,

أَنَّ خَيْرَ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ ، وَأَنَّ شَرَّ الْبِقَاعِ الأَسْوَاقُ

          “Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.” (HR. At Thabarani dan Al Hakim)

Ibnu Abbas ra mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi yang menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”

Karena begitu mulianya masjid maka pekerjaan mengurus masjid pun tentunya termasuk amalan yang mulia.

Pernahkah kita memperhatikan seorang petugas yang mengurusi kebersihan masjid atau yang lebih terkenal dengan sebutan Marbot Masjid? Mungkin kita tidak peduli dengan mereka, karena di mata kita terkadang pekerjaan itu dianggap pekerjaan orang rendahan. Bahkan ada sebagian orang dengan nada nyinyir menjuluki mereka dengan JaMesBon, maksudnya Penjaga Mesjid dan Tukang Kebon.

Padahal, Marbot memegang peranan penting dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid sebagai tempat ibadah, sehingga jama’ah masjid merasa nyaman dan tenang pada saat beribadah. Kekhusyu’an kita diantaranya akan sangat bergantung kepada jasa mereka. Kenyamanan ibadah shalat kita di masjid juga sangat bergantung pada jasa mereka. Adakalanya, seorang Marbot juga mengurusi hal-hal yang berurusan dengan ibadah, seperti mengumandangkan adzan dan juga menjadi imam cadangan. Tugas Marbot ini sungguh begitu berat.

Bagaimana tidak, dengan tugas dan rutinitas yang menjadi beban tanggungjawabnya setiap hari maka ia otomatis akan kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah dan bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hampir seluruh waktunya akan tersita untuk masjid, karena harus stand by 24 jam mengurusi segala kegiatan di masjid. Mereka rela mengerjakan itu semua demi melaksanakan perintah Rasulullah saw.

“Rasulullah saw memerintahkan membangun masjid di kampung dan membersihkan serta memberinya wangi-wangian” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Inilah letak kemuliaan para Marbot dalam pandangan Allah maupun manusia. Dengan tugas mulia yang diembannya plus banyak tanggungjawab yang dibebankan kepadanya maka selayaknya para Marbot ini mendapat apresiasi yang layak. Namun kemuliaan mereka kadang tak sebanding dengan gajinya yang terbilang kecil.

Merekapun seringnya juga tidak dihormati, tak diperhatikan dan tak dihargai orang lain atas kerja keras mulianya tersebut. Jargon keikhlasan demi melayani tamu Allah kadang terlontar dari para pengurus agar mereka tidak banyak menuntut apalagi demo menuntut kesejahteraan. Sungguh tak adil rasanya mencampakkan hak-hak mereka padahal mereka telah banyak berkorban untuk ummat Islam dengan penuh perjuangan.

Rasulullah saw adalah sosok yang sangat menghormati petugas kebersihan masjid. Syahdan, ada seorang wanita tua berkulit legam. Namanya tidak terkenal di kalangan sahabat. Beberapa ulama ahli sejarah juga tidak mengetahui persis nama aslinya. Ia lebih dikenal dengan panggilan Ummu Mahjan. Ia pun bukan shahabiyah yang ikut terjun ke medang jihad atau menghafal ribuan hadits. Amalannya sederhana, beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia melakukan hal yang sama dari hari ke hari. Amalannya istiqamah meski dianggap hal yang sepele.

Perbuatan kecil itu bernilai besar di mata Rasulullah saw. Begitu istimewanya Ummu Mahjan di mata Rasulullah sampai-sampai kekasih Allah swt itu menegur para sahabatnya yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kewafatannya.

Teguran Nabi Muhammad saw kepada para sahabatnya itu dikisahkan dalam hadis Abu Hurairah ra bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah saw merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka telah berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah saw bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah saw bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah saw kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:

إِنَّ هٰذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةٌ عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللّٰهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ

          “Sesungguhnya para penghuni kuburan ini diliputi kegelapan. Sekarang Allah meneranginya lantaran aku shalat atas mereka.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan ra yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan dalam perjuangan Islam sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kita, kaum muslimin bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil. Meski hanya menjadi petugas kebersihan masjid.

Muliakan mereka, dari uang kas masjid bisa dimanfaatkan sebagiannya untuk menanggung biaya hidup mereka beserta keluarganya, juga pendidikan anak-anaknya. Bila perlu suatu saat memberikan bonus kepada mereka, sekedar untuk membahagiakan hatinya. Sehingga dia akan tetap istiqamah dalam menjalankan tugas yang mulia ini, menjadi Marbot Masjid. (abu hanan)