Debu-Debu fie Sabilillah

Debu-Debu fie Sabilillah

Yunus bin Ubaid rahimahullah, seorang tokoh tabi’in kenamaan,  di waktu sakit menjelang akhir hayat menatap kedua telapak kakinya lalu menangis. Lalu beliau ditanya, “Apa yang membuat Anda menangis wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Kedua telapak kakiku…keduanya belum pernah tersentuh debu jihad di jalan Allah. Kalau saja keduanya tersentuh debu jihad di jalan Allah, tentulah aku merasa aman dari adzab.”

 

Debu fii Sabilillah Diharamkan Atas Neraka

Dalam Kitab Hakadza Tahaddatsa as-Salaf, Dr. Musthafa Abdul Wahid memberikan ulasan yang menarik tentang riawayat tersebut.

Bahwa ini menunjukkan begitu tinggi tingkat wara’ dan raghbah (pengharapan) beliau terhadap keutamaan. Beliau ingin sekali mampu meraih puncak kebaikan hingga tidak terlewatkan satu pintupun di antara pintu-pintu kebaikan, satu momenpun di antara momen-momen kebaikan dan satu derajatpun di antara derajat-derajat kebaikan.

Beliau dikenal sebagai sosok yang bersegera dalam ketaatan di setiap saat dan menunaikan kewajiban di setiap kesempatan. Hingga orang-orang berkata perihal beliau, “Tiada datang hak-hak Allah melainkan beliau menunaikannya.”

Namun demikian, beliau masih menyesal tatkala menjelang wafatnya karena belum terbuka kesempatan bagi beliau untuk berjihad fi sablillah yang beliau isyaratkan dengan istilah debu-debu di jalan Allah.

Pada zaman beliau adalah zaman tenang, aman dan damai, kalimat Islam adalah yang paling tinggi, sehingga beliau fokus dalam kesungguhannya untuk memperbaiki masyarakat, berdakwah, beramal shalih dan sibuk dengan ilmu dan periwayatan hadits.

Akan tetapi perasaan beliau begitu peka, pandangannya terhadap derajat kebaikan begitu jauh, sehingga beliau faham bahwa jihad fii sabilillah adalah “dzirwatu sanamil Islam”, puncak ketinggian Islam.

Beliau berangan, kalau saja kedua telapak kakinya tersentuh debu di jalan Allah, tentulah beliau akan keluar dari dunia ini dengan rasa aman, tenang dan yakin akan selamat dari adzab. Karena Allah tidak akan mempertemukan antara debu fii sabilillah dengan asap neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِى جَوْفِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan bertemu selamanya debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam atas seorang hamba.” (HR an-Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani)

Maka tatkala kedua kaki seorang hamba telah tersentuh debu fii sabiilillah, maka ia tidak akan merasakah asap neraka jahannam.

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنِ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah mengharamkan Neraka untuknya.” (HR Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Baari menukil pendapat dari Ibnu Bathal bahwa “maksud fii sabilillah adalah seluruh bentuk ketaatan.” Lalu beliau mengomentari, “memang seperti itu adanya, hanya saja makna pertama yang langsung dipahami dari kata fii sabiilillah adalah jihad.”

Yakni, kaki yang tersentuh debu-debu di jalan Allah akan terhindar dari api neraka. Hingga pernah suatu kali dalam suatu peperangan Jabir bin Abdillah menyebutkan hadits tadi, hingga kemudian pasukan meloncat dari kendaraan mereka agar kaki mereka tersentuh debu-debu jalan, maka diriwayatkan bahwa tidak ada pasukan yang berjalan kaki melebihi hari itu.

Al-Mubaarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi juga memaknai fii sabiilillah dalam hadits tersebut dengan jihad. Namun beliau juga menukil pendapat dari al-Munawi yang memberikan pengertian lebih umum. Beliau dalam Syarhul Jami’ ash-Shagiir menjelaskan mana fii sabiilillah, “Yakni jalan untuk mendapatkan ridha Allah, mencakup jihad dan yang lain seperti menuntut ilmu.”

Demikian juga manakala kedua telapak kaki berdebu dalam rangka menuju kebaikan, amar makruf nahi mungkar, mengajari orang yang tidak tahu, meluruskan yang sesat disebut juga fisabilillah, dia termasuk orang yang akan selamat dari adzab asalkan ia beriman dengan sebenar-benar iman, mengharapkan kebaikan dan tidak riya’, semoga mendapat keutamaan terhindar dari neraka.

Intinya bahwa seorang muslim semestinya antusias untuk mendatangi semua pintu ketaatan, dan bahwa bekas-bekas ketaatan itu akan menjadi saksi kebaikan di akhirat, sekaligus perisai dari neraka.

 

Bekas-Bekas Ketaatan

Segala bekas dan simbol dari bentuk kelelahan, kesabaran dalam kesulitan dan kesusahan, menahan panas dan kedinginan, rasa lapar dan haus demi merealisasikan ibadah kepada Allah dan memperjuangkan agama-Nya memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah. Maka semestinya kitapun juga mengaca diri, pintu kebaikan mana yang belum kita datangi, dan seberapa banyak bekas yang telah kita ukir hingga kelak bisa menjadi saksi di hadapan Allah akan pengabdian yang telah kita lakukan saat di dunia.

Dan semua bekas dan jejak itu terekam dengan baik dan detil yang akan diperlihatkan kelak pada hari Kiamat sebagai bukti atas apa yang dilakukan di dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.  (QS Yasin 12)

Maksud dari ‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’ ada dua pengertian seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsier rahimahullah dalam tafsirnya.

Pertama, yakni semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan, bekas atau jejak yang diikuti orang setelah mereka wafat. Jika jejaknya berupa kebaikan maka balasananya kebaikan, dan jika jejak yang ditinggalkan adalah keburukan, maka balasannya aalah keburukan. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa  yang mempelopori suatu sunnah (perbuatan) yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang merintis suatu jalan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa dari orang-orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka” (HR Muslim)

BACA JUGA :Di Dunia Menolong Di Akhirat Tertolong

Pengertian yang kedua, bahwa maksud dari ‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’ adalah bekas-bekas menuju amal ketaatan maupun kemaksiatan. Qatadah rahimahullah mengatakan, bahwa seandainya Allah melupakan sesuatu darimu wahai anak Adam, niscaya Dia melupakan jejak-jejak kaki yang telah terhapus oleh angin. Akan tetapi , Dia mencatat dari anak Adam semua jejak dan amal perbuatannya. Sehingga Dia mencatat langkah-langkah kaki yang dipakainya untuk melakukan ketaatan maupun kedurhakaan terhadap-Nya. Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu meninggalkan jejak ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukannya.”

 

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari jalan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada tanah di sekitar masjid Nabawi, maka Bani Salamah bermaksud pindah untuk lebih dekat ke masjid. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda, “Telah sampai berita kepadaku bahwa kalian akan berpindah ke dekat masjid?” Mereka berkata, ‘Benar, wahai Rasulullah, kami bermaksud demikian.” Kemudian Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda:

{يا بَنِي سَلَمة ، دِيَارُكُمْ تَكْتُبُ آثَارَكُمْ دِيَارُكُمْ تَكْتُبُ آثَارَكُمْ}

 “Wahai Bani Salamah, tempat tinggalmu mencatat (menjadi saksi) jejak kalian, tempat tinggalmu  mencatat jejak kalian.” (HR Muslim).

Yakni, jejak langkah mereka dari rumah hingga ke masjid akan tercatat sebagai ketaatan dan saksi atas kebaikan yang dilakukannya, semakin jauh dia melangkah dalam ketaatan, maka semakin banyak pula bekas-bekas kebaikan yang tercatat untuknya. Maka dengan antusiasnya Bani Salah terhadap keutamaan, mereka mengurungkan keinginannya untuk berpindah tempat tinggal.

Namun hari ini, banyak yang ingin berleha-leha dari ketaatan, namun rela bersusah payah demi kesenangan yang mengandung kemaksiatan. Kaki yang berat melangkahkan kaki menuju masjid, bagaimana mungkin akan menuntunnya menuju jannah. Raga yang suka berleha-leha dari mencari ilmu syar’i, bagaimana mana mampu menapaki jalan menuju jannah. Padahal keutamaan tidak bisa diraih dengan berpangku tangan.

Biarlah lelah asalkan lillah. Tak mengapa harta tercurah asalkan di jalan Allah. Bahkan andaipun darah harus tertumpah, maka tidaklah sia-sia selagi fii sabiilillah.

Kelak akan kita dapatkan, bahwa debu ketaatan yang menempel di kaki pada saat berjalan menuju masjid, saat menapaki jalan untuk mendapatkan ilmu syar’i, apalagi untuk berjihad fii sabiilillah akan lebih berfaedah dan lebih membanggakan daripada tanda bukti berupa ijazah sekolah atau nobel penghargaan dari instansi manapun. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: