Gangguan Psikosomatik

Kolik renal

Gangguan Psikosomatik – Banyak kasus dimana analisa dan segala jenis pemeriksaan oleh dokter menunjukkan seseorang secara fisik tidak mempunyai masalah fisik. Namun pada kenyataannya orang tersebut mengeluhkan banyak rasa sakit. Terkadang keluhan yang dirasakan pun berpindah-pindah; dari satu organ ke organ yang lain. Gejala seperti ini semakin menambah kepanikan penderita, karena kecenderungan seseorang ingin mengetahui kepastian penyakitnya. Nettleton (2006) menggambarkan bahwa pasien “lebih suka menderita sakit yang sifatnya nyata”. Sebagian besar pasien juga akan sangat resisten bila diberitahu bahwa sakitnya berhubungan dengan stressor psikososial.

Sifat manusia tidak akan suka hidup dalam ketidakpastian, sehingga walaupun hasil pemeriksaan normal, pasien tetap akan mencari tahu apa penyebab pasti dari sakitnya. Hal ini membuat pasien nyeri kepala sangat mungkin akan menjalani pemeriksaan MRI, CT Scan kepala, EEG dan berbagai pemeriksaan laboratorium untuk mencari jawaban “ada sesuatu yang salah dengan diri saya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77% pasien tetap masih ingin tahu sumber nyeri kepalanya dan 33% masih menginginkan pemeriksaan tambahan.

Kasus di atas adalah gambaran dari fenomena gangguan psikosomatis yang kasusnya banyak ditemukan akhir-akhir ini.

 

Pengertian Gangguan Psikosomatis

Psikosomatis berasal dari kata psyco yang artinya pikiran dan soma yang artinya badan/fisik.

Gangguan psikosomatis atau somatisasi adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Dengan kata lain, psikosomatis adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi seperti stress, depresi, kecewa, kecemasan, rasa bersalah yang berlebihan, dan emosi negatif lainnya. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya.

Psikosomatis merupakan kondisi dimana tekanan emosional (masalah, patah hati, kecemasan, takut,dsb) terjadi begitu hebat sehingga mempengaruhi kondisi Fisik sehingga menimbulkan gejala-gejala seperti Mual, muntah, nyeri ulu hati, gemetaran, berkeringat, lemas, sakit dada, sakit perut, nyeri otot, pusing/kehilangan keseimbangan, peningkatan tekanan darah, dan lain-lain. Kondisi ini dapat terjadi pada dua kondisi:

  • Kondisi dimana fisik yang sehat dipengaruhi oleh gangguan/tekanan pada mental dan emosi, sehingga mengakibatkan munculnya keluhan fisik (Gangguan Psikosomatis), dan;
  • Kondisi dimana sudah terdapat lebih dahulu “gangguan Fisik” atau penyakit, yang kemudian dipengaruhi oleh keadaan emosional dan mental yang terjadi, sehingga dapat memperparah/ malah meringankan kondisi penyakit tersebut.

 

Gejala umum gangguan psikosomatis

Pasien dengan gangguan psikosomatis biasanya menunjukkan gejala -gejala seperti di bawah ini:

  1. Sakit perut

Kehilangan nafsu makan, mual, diare ataupun muntah menjadi ciri-ciri yang umum diderita penderita psikosomatis. Kebanyakan mengalami rasa sakit pada perut bagian atas, tetapi jika diperiksakan ke dokter, tidak ditemukan masalah serius.

  1. Sakit kepala

Saat seseorang mengalami kecemasan, biasanya akan berdampak pada sisi emosional dan fisik. Hal ini mengakibatkan sakit kepala yang berulang-ulang.

  1. Kepanikan

Seseorang yang mengalami kecemasan dan kepanikan akan mengalami berbagai gejala psikosomatis yang kompleks, misalnya kesulitan bernafas, jantung berdegup kencang, nyeri dada, pusing dan berkeringat. Orang dengan gangguan panik ini dapat berpotensi mengalami agoraphobia, yaitu ketakutan ke tempat ramai karena tidak nyaman dengan serangan kepanikan.

  1. Kelelahan

Tekanan yang kuat akan membuat seseorang mengalami kelelahan yang luar biasa. Ini akan mengakibatkan seseorang sulit konsentrasi, mudah mengantuk dan pelupa.

Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Memengaruhi Kondisi Medis

  1. Adanya suatu kondisi medis umum yaitu keluhan fisik yang dirasakan pasien
  2. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi fisik,meliputi :
  • Faktor  psikologis yang mempengaruhi perkembangan atau keterlambatan penyembuhan kondisi fisik
  • Faktor psikologis yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu. Penyakit yang  dirasakan diperberat karena faktor psikis.
  • Faktor psikologis yang mengganggu pengobatan kondisi medis fisik. Pasien tidak menunjukkan perkembangan kondisi fisik setelah diterapi medis.

 

Bagaimana Pikiran Memengaruhi Penyakit?

Seperti diketahui, pikiran dapat menyebabkan munculnya gejala fisik. Contohnya, ketika merasa takut atau cemas bisa muncul tanda-tanda seperti denyut jantung menjadi cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), mual atau ingin muntah, gemetaran (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, sakit perut, napas menjadi cepat, nyeri otot, atau nyeri punggung. Gejala fisik tersebut disebabkan oleh meningkatnya aktivitas impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Selain itu, pelepasan adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas.. Atau bisa juga karena impuls saraf yang arahnya menuju bagian-bagian tubuh, atau otak yang diduga dapat memengaruhi sel-sel tertentu dari sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi bagaimana persisnya pikiran bisa menyebabkan gangguan fisik belum diketahui secara pasti.

 

CARA PENANGANAN

Perkembangan dalam terapi ilmu kedokteran dewasa ini- sesuai dengan definisi WHO tahun 1994 tentang “konsep sehat”– adalah sehat secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, maka terapi pun seyogyanya dilakukan secara holistik. Maksudnya, tidak hanya gejala fisik saja yang ditangani tetapi pemeriksaan pada faktor-faktor psikis yang biasanya sangat mendominasi penderita psikosomatis pun menjadi prioritas.

Maka, di samping pengobatan fisik yang disesuaikan dengan  penyakit yang diderita oleh pasien, perlu penanganan secara psikis dan atau spiritual. Karena pencetusnya adalah psikis, maka terapi dimaksudkan untuk mengembalikan ketenangan dan hadirnya pengharapan maupun pikiran positif.

Intinya, bagaimana pasien bisa bersikap ikhlas, menerima kenyataan, menghadapi dan menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya, dan senantiasa bersikap positif.

Di dalam Islam misalnya, poin yang ditekankan bisa berupa anjuran memperbanyak dzikir yang menjadikan hati menjadi tenang. Juga konsep tentang ridho atau legowo dalam menerima takdir, memupuk pengharapan dan optimis untuk mendapatkan segala jenis maslahat juga dengan istighfar sebagai penebus dosa sehingga akan menghadirkan ketenangan hati.

%d bloggers like this: