Generasi Yang Senantiasa Menegakkan Shalat

Generasi Yang Senantiasa Menegakkan Shalat

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabbku, Jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Wahai Rabb Kami, perkenankanlah doaku.

Perintah Shalat

Muslim, setiap harinya berkewajiban menegakkan shalat wajib yang lima, dan di dalam bacaan shalatnya ada shalawat yang harus dipanjatkan termasuk shalawat kepada Keluarga Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihimassahalatu wassalam. Dan telah berhasil dan sukses keluarga Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Ibrahim menegakkan shalat.

Tak hanya orang yang sudah baligh yang berkewajiban mendirikan shalat, anak anak yang belum baligh pun dianjurkan untuk mengerjakannya, dan orang tualah yang mengajaknya sebagimana disabdakan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits yang shahih dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ahmad.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kepada setiap orang tua untuk menyuruh anaknya mulai mengerjakan shalat ketika usianya 7 tahun dan memerintahkan untuk memberikan pukulan (yang tidak meninggalkan bekas dan mematahkan tulang) pada usia 10 tahun bila diperintah shalat tapi tidak mau mengerjakanya.

Bila usia 7 tahun diperintahkan untuk shalat, tentunya sebelum berusia tujuh tahun sudah diajari tata cara beserta bacaan dan tidak ketinggalan adab adab ketika hendak shalat dan waktu mengerjakan shalat. Bila ini dilaksanakan oleh setiap orang tua (memerintahkan anaknya untuk shalat dari usia 7 hingga 10, yaitu setiap harinya selama tiga tahun di ingatkan dan disertai dalam pelaksanaannya), in syaallah ketika anak baligh dan harus melakukan kewajiban shalat secara mandiri, maka ia akan mudah dan ringan untuk mengerjakannya.

Didoakan Meski Belum Terlahir

Sebelum semua itu, Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita untuk mendoakan keturunan kita yang sudah lahir maupun yang belum lahir supaya menjadi generasi yang perhatian dan menegakkan shalat.

Beliau disebut sebagai bapaknya Nabi, akan tetapi berdoa supaya keturunanya menjadi orang orang yang mendirikan shalat! Tentunya kita lebih butuh untuk memanjatkan doa ini kepada Allah, dan lebih takut bila anak keturunan kita tidak bisa menegakkan shalat.

Dan doanya diawali dengan permohonan untuk dirinya sendiri, “Rabbij’alni muqimas shalaah,” “Wahai Rabb jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat.” Memperbaiki diri kemudian memperbaiki yang lain, bagaimana keadaann seseorang yang memerintahkan sesuatu namun ia sendiri meninggalkannya serta kesulitan dalam mengerjakannya, tentunya murka Allah yang akan didapat.

Kemudian wa min dzurriyati (dan juga keturunanku), dalam bahasa arab, huruf ‘min’ bisa bermakna ibtadaiyyah (memulai) dan bisa littab’idh (sebagian) bisa juga lil jins (menerangkan jenis). Dan dijelaskan dalam tafsir at tahriir wat tanwiir karya Ibnu ‘Aasyuur bahwa membawa makna ayat dengan arti tab’idh (sebaian keturunanku) adalah lemah, karena yang diharapkan Nabi Ibrahim tentunya yang sempurna untuk dirinya dan semua keturunannya.

BACA JUGA : Shalat Jum’at Bagi Wanita

Dalam Mughni Labib dijelasan bahwa huruf ‘min’ dalam ayat adalah untuk memasukkan jenis, yaitu permohonan kepada Allah untuk semua keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dan inilah makna yang dekat. Ibnu Utsaimin ketika ditanya bolehkah berdoa dengan lafadh yang diucapkan Nabi Ibrahim (karena ada yang mengartikan huruf min bermakna sebagian) maka beliau menjawab, “boleh” dan beliau menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa huruf min bukanlah lit tab’idh tetapi lil jins. (liqa bab maftuh, dinukil dari islamqa).

Mendirikan Shalat

Tidak hanya mengerjakan shalat, tetapi yang diminta adalah muqimis shalat, dari kata qama yaquumu, yang artinya berdiri. Sehingga maknanya mendirikan shalat, yaitu menjaga waktu pelaksanaanya tidak menunda nunda, mengetahui rukun dan syaratnya serta mengetahui hal hal yang mengantarkan pada kesempurnaan shalat.

Shalat menjadi timbangan amal yang lain, dan amalan yang pertama dihisab di yaumul hisab. Siapa yang shalatnya baik, akan mudah melakukan kebaikan yang lain dan terhindar dari tindak keji serta kemungkaran, bahkan bila baik shalatnya maka amalan yang lain juga dinilai baik. sebaliknya siapa yang tidak baik shalatnya, menyia-nyiakannya (mengakhirkannya, tidak mengilmuinya) maka persoalan yang lain akan lebih mudah untuk di sia-siakannya. Dan tidak akan baik pula amalannya yang lain.

Orang tua diperintahkan untuk menyuruh anaknya menegakkan shalat, bermakna untuk menegakan akhiratnya, dan bukan diperintah untuk mengajari anaknya sejak dini menegakkan dunianya. Artinya pendidikan awal yang harus diberikan bukanlah pendidikan yang membuat anak kelak menjadi ‘orang’ di dunia sementara akhiratnya rusak.

Sebelum penyesalan datang, dan anak susah diperintah untuk mendirikan shalat, doakanlah sebelum terlambat. Pintakanlah kepada Allah dengan merengek dan diulang ulang serta yakinlah dengan doa yang kita panjatkan sebagimana telah diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Rabbana wataqbbal du’aa’ Wahai Rabb Kami, perkenankanlah doaku.

Semoga kita dan semua anak keturunan kita menjadi orang orang yang menegakkan shalat, menjadi generasi yang mencontoh kehanifan Nabiyullah ibrahim ‘alahissalam, mendirikan shalat sebagimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, serta ikhlas dalam menjalankan agama ini. Rabbij’alni muqiimas shalati wa min dzurriyyatii Rabbana wataqabbal du’ai.. Amin Ya Rabb..