Mohon Kefakihan Mendapat Seluruh Kebaikan

Mohon Kefakihan Mendapat Seluruh Kebaikan

 اَللَّهُمَّ عَلِّمْنِي الكِتَابَ وَ الحِْكْمَةَ وَ فَقِّهْنِيْ فِى الدِّيْنِ

Allahumma ‘allimnil kitab wal hikmah, wa faqqihni fid din, (Ya Allah ajarkan kepadaku al qur’an dan al hikmah, dan pahamkanlah aku dalam urusan agama)

Taqwa merupakan standar kemuliaan seseorang di sisi Allah Azza wa Jalla, yang setiap muslim seharusnya berupaya menujunya. Bukan malah mengejar standar kemuliaan di mata manusia yang berbeda beda ukuran dan takarannya, ada yang menakar bahwa kemualiaan adalah dengan banyaknya harta, ada pula dengan pangkat, posisi dan jabatan seseorang, ada pula yang paling kuat dialah yang mulia. Tentunya yang benar adalah sebagaimana firman Allah :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Amalan shaleh yang dilakukan seorang muslim juga pada hakekatnya menghantarkan derajat seseorang menuju taqwa, sebagaimana shaum di bulan ramadhan, Allah mengakhiri ayat puasa di surat al Baqarah: 183 dengan la’allakum tattaqun, bahwa puasa yang dilakukan, yaitu dengan meninggalkan makan, minum, jima’ dan yang semisalnya yang jiwa ini sebenarnya condong untuk melakukannya, semuanya itu dilakukan karena berharap pahala dan mendekat kepadaNya serta dilakukan dengan sebaik baiknya karena merasa diawasi Allah Azza wa Jalla.

Doa Rasulullah Kepada Sepupunya

Agar senintasa menuju taqwa maka dibutuhkan ilmu untuk membimbing jiwa menujunya, dan sumber ilmu itu terdapat di dalam kitabullah dan sunnah Rasulillah shallallahu’alaihi wasallam.

اَللَّهُمَّ عَلِّمْنِي الكِتَابَ وَ الحِْكْمَةَ وَ فَقِّهْنِيْ فِى الدِّيْنِ

Allahumma ‘allimnil kitab wal hikmah, wa faqqihni fid din, (Ya Allah ajarkan kepadaku alqur’an dan al hikmah, dan pahamkanlah aku dalam urusan agama)

Doa ini diambil dari doa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada sahabat Abdullah bin Abbas Radhiallahu’anhuma.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ضَمَّنِي إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ

dari Ibn Abbas ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendekapku sambil berdoa: “Ya Allah, ajarkanlah padanya al kitab (al Quran).” (HR. Bukhari)

dalam riwayat lain :

ضَمَّنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى صَدْرِهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memelukku ke dada beliau seraya berdo’a: “Aallahumma ‘allimhu alhikmah “Ya Allah, ajarkanlah anak ini al hikmah.” (HR. Bukhari)

Pada kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendoakan Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma dengan doa :

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Ya Allah pandaikanlah dia dalam agama” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengambil Sebab Sebab Taqwa

Hanya Berdoa tanpa berusaha atau meninggalkan amal menujunya bukanlah tuntunan dalam Islam, ketika kita memohon kepada Alah agar diajari alqur’an, tentunya kita harus menempuh jalannya, mempelajarinya dengan memiliki majelis alqur’an.

Dengan memiliki majelis alqur’an berarti mengupayakan terkabulnya doa dan sekaligus menjadikan kita orang yang paling baik, yang mengajar maupun yang diajari mendapatkan keutamaan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam bersabda :

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Orang yang paling utama (baik) di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Bila belajarnya di masjid maka akan banyak kebaikan dan keutammaan yang akan didapat, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk untuk saling belajar Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang berlambat lambat (ketingalan) amalnya, maka nasabnya (yang mulia) tidak akan mempercepatnya (meninggikannya)..” (HR. Muslim)

Ibnu Hajar dalam fathul Bari menyebutkan bahwa para ahli hadits berbeda pendapat apa yang dimaksud al hikmah dalam doa Rasul kepada Ibnu Abbas, ada yang berpendapat al hikmah adalah al qur’an; mengamalkan al qur’an; as sunnah; ketepatan dalam perkataan…dan makna yang dekat pada hadits adalah memahami al qur’an.

Memahami Agama Dan Mengamalkannya

Orang yang paling baik mendapatkan yang terbaik, bila sudah belajar alqur’an dan memahaminya maka tinggal diamalkan dengan penuh keikhlasan mengharap wajah Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu’alahi wasallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa saja yang Allah menghendaki kebaikan (ada padanya) maka Allah faqihkan (fahamkan) dia terhadap urusan agama..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebaikan di dunia dan akhirat akan didapatkan bila seseorang memahami agamanya, dan seorang alim bukanlah orang yang hanya hafal alqur’an tanpa memahami maknanya, bukan juga orang yang banyak menghafal riwayat (hadits) dan ilmu ilmu yang lain namun ia tidak melakukan tuntutan ilmu, yaitu mengamalkannya, terlebih jika yang ada pada dirinya atau yang dilakukannya justru menyelesihi ilmunya.

Seorang yang faqih adalah orang yang memiliki hikmah, meletakkan sesuatu pada tempatnya, perbuatannya sesuai dengan ilmunya dan ilmunya mendahului perbuatannya. Wallahua’lam bis shawab.

%d bloggers like this: