Gejolak Pasca Kemenangan

Gejolak Pasca Kemenangan

Kemenangan Rasulullah dan pasukannya menimbulkan gejolak masyarakat jazirah Arab. Pada awalnya mereka tak terlalu peduli dengan munculnya seseorang yang mengaku sebagai Nabi dari suku Quraisy. ditambah pula dengan terusirnya Rasulullah dan pengikutnya dari tempat kelahirannya, Makkah.

Setelah Kemenangan Pasukan Muslim

Tetapi dengan kemenangan pasukan Muslim di perang Badar, mereka mulai menganggap bahwa Muhammad dan pengikutnya sebagai ancaman. Mereka yang menganggap Rasulullah dan kaum Muslim sebagai ancaman terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kaum musyrik, yahudi, dan munafik.

Suasana Makkah ketika itu penuh dengan kebencian terhadap Rasulullah, tak heran banyak pemuka kabilah Quraisy yang berencana menghabisi Rasulullah. Shafwan bin Umayyah, putra dari seorang tokoh Quraisy yang tewas di Perang Badar, membuat rencana dan siasat untuk membunuh Rasulullah.

Ia mengajak Umair bin Wahb al Jumahi, salah satu algojo Quraisy untuk mewujudkan rencananya. Shafwan menjanjikan akan membiayai kebutuhan keluarga Umair dan menutupi semua hutang-hutangnya jika ia mampu membunuh Rasulullah. Setelah mengasah pedangnya, segera Umair berangkat ke Madinah untuk mewujudkan rencananya.

Sesampainya di Madinah, Umair langsung mengarahkan untanya menuju masjid. Saat itu, Umar sedang membicarakan pertolongan-pertolongan Allah di perang Badar bersama beberapa orang. Melihat Umair datang, Umar segera berseru, “Musuh Allah ini adalah Umair, tentunya datang dengan niat jahat.”

Umar segera menemui Rasulullah dan mengabarkan perihal Umair kepada Beliau. Beliaupun memperbolehkan Umair menghadap Rasulullah. Karena ketidak percayaan Umar kepada Umair, Umar menyuruh beberapa orang Anshar untuk duduk dekat Rasulullah dan mewaspadai Umair.

“Apa maksud kedatanganmu wahai Umair?” Tanya Rasulullah ketika Umair sudah ada di hadapan Beliau.

“Aku datang untuk anakku Wahb bin Umair yang menjadi tawanan kalian.” Jawab Umair.

“Lalu untuk apa pedang di lehermu itu? Jujurlah padaku! Apa maksud kedatanganmu?”

“Hanya itulah tujuan kedatanganku,” jawab Umair

“bukankah kau pernah duduk bersama Shafwan bin Umayyah membicarakan rencana untuk membunuhku? Dan bukankah Shafwan bersedia menanggung semua hutang-hutangmu bila berhasil membunuhku?” ujar Rasulullah.

Terkejutlah Umair karena tak ada yang mengetahui rencana pembunuhan Rasulullah kecuali dirinya dan Shafwan bin Umayyah saja. Dari keterkejutan itulah akhirnya Umair mulai mempercayai bahwa Muhammad adalah seorang Rasul dan mulai memeluk Islam. Setelah beberapa hari tinggal di Madinah untuk mempelajari Islam, Umair kembali ke Makkah. Beberapa bulan kemudian Umair hijrah ke Madinah bersama beberapa orang Quraisy yang berhasil didakwahinya.

Di lain waktu, Abu Sufyan bersama dua ratus orang bersekongkol dengan kaum Yahudi Madinah untuk membunuh Rasulullah. Abu Sufyan telah bernadzar untuk tidak membasahi rambutnya dengan air sampai ia bisa menyerang Madinah. Tetapi ketika telah berada di bukit Naib, sekitar 18 km di luar kota Madinah, hilang keberanian Abu Sufyan masuk ke Madinah dengan terang-terangan untuk melakukan pertempuran. Pada malam harinya barulah mereka mengendap-endap memasuki kawasan pemukiman kaum Yahudi. Pertama ia mendatangi rumah Huyai bin Akhtab, tetapi tokoh Yahudi ini menolak menampungnya karena takut menyalahi perjanjiannya dengan Rasulullah. Kemudian Abu Sufyan mendatangi Sallam bin Misykam, tokoh Yahudi lainnya yang mau menampungnya.

Keesokan harinya Abu Sufyan memerintahkan pasukannya untuk membabat dan membakar kebun kurma milik kaum muslimin di pinggiran kota Madinah. Dua orang Anshar yang berada di kebun itu juga dibunuh. Setelah itu Abu Sufyan berpendapat bahwa dia telah memenuhi nadzarnya, dan akhirnya Abu Sufyan kembali ke Makkah bersama pasukannya. Rasulullah langsung bereaksi atas tindakan Abu Sufyan tersebut dengan mengirim dan memimpin sendiri pasukan untuk melakukan pengejaran.

baca juga: Kabar Kekalahan Kaum Musyrikin

Mendengar adanya pengejaran itu, Abu Sufyan mempercepat gerak pasukan, bahkan memerintahkan untuk meninggalkan perbekalannya berupa sawiq (tepung gandum) untuk tidak memperlambat perjalanan. Pasukan muslim bergerak hingga Qarqaratul Kadr, tetapi tidak mungkin lagi mengejar pasukan kafir Quraisy tersebut. Mereka hanya mendapati perbekalan yang ditinggalkannya berupa sawiq, sehingga dalam sejarah Islam, peristiwa ini disebut dengan Perang Sawiq.

%d bloggers like this: