Hilir Sekularisme Merusak Moral Bangsa

Hilir Sekularisme

Akhir-akhir ini publik dibanjiri kabar kekerasan seksual yang cenderung meningkat kualitas kekriminalannya. Sebut saja kasus Yuyun di Bengkulu, atau kasus Eno Farihah di Tangerang, merupakan contoh kasus yang bahkan tidak memerlukan penyebutan sumber, karena mutawatir-nya.

Seperti biasa, kasus-kasus mencolok itu menjadi trending topic di medsos, menjadi viral berita yang di-share luas dibaca jutaan orang, menuai berbagai tanggapan; prihatin, simpati dan pembelaan kepada korban, juga cacian, sumpah serapah dan kutukan kepada pelaku, usulan hukuman balasan setimpal, hukum mati atau kebiri. Para ahli, tak terkecuali para ulama, juga angkat suara. Sayangnya, kebanyakan komentar, analisa dan kupasan  kurang tertarik menulusuri akumulasi sebab dan sumber utama yang mengantarkan kepada kondisi tersebut.

Hilir Sekularisme di Indonesia

Sekularisme Praxis

Beragam kasus kejahatan seksual yang merebak belakangan ini merupakan masa panen dari benih yang telah lama ditanam, pucuk yang telah lama berkembang, putik yang telah tertaburi benang sari menjadi buah, dan telah ranum untuk dipanen.

Generasi sekarang ini, disuguhi sekularisme ‘praxis’ dalam tampilan menu harian yang ‘enak’ dinikmati. Berbeda dengan generasi Muhammad Natsir vs Ir.Soekarno, atau HM Rasyidi vs Nur Kholis Madjid, beliau-beliau itu terlibat perdebatan intelektual ‘njlimet’ tentang sekularisme yang membuat dahi berkerut. Sekularisme hadir pada generasi sekarang dalam praktek pendidikan yang memberi jatah pendidikan agama dengan scheedule sehabis jam olah raga atau di jam-jam terakhir pelajaran. Hadir dalam tampilan mode yang kian ‘berani’, mencampakkan rasa malu dan mem-bully siapa yang masih menjaganya. Tampil dalam budaya massa yang mengoyak tabir ketabuan pergaulan laki-perempuan dan memuji pelakunya, men-stigma kolot dan atau ‘kuper’ remaja yang menjaga diri dari pergaulan bebas, dll.

Banjir Informasi, Penggambaran Detail dan Visualisasi

Remaja sekarang adalah generasi yang diasuh dengan kondisi minimnya peran orang tua akibat semakin besarnya tuntutan profesionalitas dan spesialisasi pekerjaan, jam kerja definitif, banyaknya waktu yang dihabiskan di jalan. Generasi yang mencari jati diri melalui peer-group, membentuk persepsi tentang kehidupan dari ber-selancar di dunia maya. Peran keluarga, sekolah dan masyarakat begitu terbatas. Pihak sekolah bak makan buah simalakama ; menggunakan teknologi informasi untuk mengefektifkan pendidikan, resikonya terpapar dampak negatif yang menyertai. Sekolah, apalagi favorit, tentu tidak mau dikatakan ketinggalan ‘kereta’ dalam memanfaatkan tren baru revolusi informasi ini. Adapun para guru, pada umumnya  berada pada posisi ‘gagap’ terhadap perkembangan teknologi, alih-alih mengarahkan anak didik dalam mengarungi lautan informasi yang campur aduk antara baik dan buruk tersebut, pendidik kalah piawai secara teknis dalam menyikapi dan menggunakan IT.

Jika sekolah yang berada pada posisi terdepan dalam mengikuti tren perkembangan saja kedodoran untuk mengarahkan, mem-filter, atau mem-blok agar anak didik dapat memanfaatkan IT dengan menghindari dampak buruknya, lingkungan yang lain lebih tidak mampu atau permissif terhadap persoalan tersebut. Lingkungan keluarga, misalnya,.. ketika situasi masing-masing anggota sibuk dan asyik dengan urusannya sendiri, apakah itu pekerjaan, atau anggota keluarga (ternyata) memiliki komunitas (nyata maupun maya) yang dibawa ke lingkungan rumah, sejatinya rumah tak lagi menjadi ‘home’ (yang berfungsi sebagai basis berkumpul keluarga dimana satu dengan yang lain terpaut ikatan darah, saling asuh dan saling melindungi), yang tersisa tinggal ‘house’ (bangunan fisik rumah), tak jauh berbeda dengan halte atau terminal yang menjadi tempat berteduh dari hujan dan panas, namun tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Tidak jarang konten-konten yang membentuk persepsi salah dan merusak moral itu diakses dari bilik ‘house’ tersebut, dikunci dari dalam dan para orang tua tidak mampu untuk sekedar tahu informasi apa yang di-asup anak, apalagi intervensi. Bahkan tak jarang anak dibawah umur sengaja dibelikan ‘gadget’ oleh orang tua, justru agar anak-anak itu tidak menggangu kesibukan mereka.

Sedihnya, konten-konten yang merusak moral dan akhlaq itu terselip di tengah timbunan informasi yang berebut tampil setiap kali pengguna meng-akses. Artinya tidak harus ada kesengajaan dan niat untuk mengakses konten-konten yang merusak. Orang dengan mudah berubah niat atau ‘tersesat’ dari ingin membaca berita perpolitikan, berita olah raga, artikel pendidikan, atau makalah kesehatan, kepada mengakses konten pornografi hanya karena tertarik dengan judul berita yang tak sengaja terbaca, atau tayangan iklan yang memaksa muncul di layar smartphone.

Report para jurnalis era ini juga cenderung vulgar dalam penggunaan diksi untuk menggambarkan fakta, didukung visualisasi yang semakin memperjelas dan menguatkan. Tanpa disadari, faktor-faktor tersebut membentuk persepsi pada diri manusia, tak hanya para remaja. Persepsi tersebut, terus mengalami pengulangan dari beragam kasus yang berbeda waktu dan tempat, modus serupa. Konten pornografi misalnya, repetisi itu akan diikuti dengan munculnya keinginan untuk mencoba dan merasakan pengalaman.

Mereka yang telah memiliki pasangan hidup, persoalannya lebih mungkin diatasi karena ada tempat penyaluran yang benar (meski belum tentu). Bagi mereka yang jauh dari pasangannya karena tuntutan kerja dll, tentu masalah. Adapun para remaja, keadaannya menjadi sulit, mereka belum memiliki tempat penyaluran yang benar, belum dilengkapi kematangan untuk bertanggung jawab, baik secara ekonomi, sosial, hukum dan moral.

Keadaan tersebut, disertai lemahnya akhlaq dan moral agama,  -buah dari sekularisme praxis yang telah lama berjalan-  menjadikan pengendalian diri begitu lemah ketika berhadapan dengan gharizhah jinsiyah (libido seksual) yang memuncak, ber-kelompok, apalagi di bawah pengaruh alkohol, obyek eksploitasi seksual menggoda di depan mata, vulnerable (mudah dan lemah untuk diserang) maka terjadilah apa yang terjadi.

Panen Kegetiran

Resultan dari gabungan faktor-faktor tersebut menghasilkan kejahatan berantai yang sadis, keji, dingin dan tega di satu sisi, namun impromtu (terjadi secara begitu saja, mendadak dan tanpa persiapan). Basis kejahatan dipupuk melalui kebiasaan mengakses konten pornografi, dengannya terbangun keinginan untuk mencicipi dan mencoba. Tahap kedua mengkonsumsi alkohol, fungsi akal sebagai pengarah dan pengendali menjadi tawanan dua kekuatan ; libido seksual dan alkohol. Dengan keadaan itu siapapun obyek kejahatan seksual yang vulnerable akan ‘digarap’, mereka melakukan perkosaan secara massa. Kemungkinan besar pembunuhan bukan rencana mereka (dari sisi sudah ada planning sebelumnya). Pembunuhan, atau disertai mutilasi merupakan logika otomatis untuk menutupi kejahatan yang dilakukan, yang malah menambah  akumulasi kejahatan. Sedihnya hukum buatan manusia menempatkan ketiadaan kesengajaan adanya planning itu sebagai unsur yang meringankan hukuman, padahal hakikinya tidak. Sebab sumber kejahatan terbesarnya adalah penghilangan fungsi akal sebagai instrument kontrol.

baca juga: Buah Masak Sekularisme

Seluruh penggambaran tersebut, cukup untuk memberikan gambaran betapa jahat dan berbahayanya sekularisme sebagai landasan hidup. Kita sekarang disibukkan dan akan terus disibukkan menangani hilir sekularisme, tanpa pernah lagi berpikir untuk mengoreksi pilihan hidup sekuler yang merupakan hulu persoalan.

 

# Hilir Sekularisme # Hilir Sekularisme # Hilir Sekularisme

%d bloggers like this: