Al-Barr Yang Maha Baik

Al-Barr Yang Maha Baik

Syarah Sullamul Wushul Seri 06

Abu Zufar Mujtaba

الأحَدُ الفَرْدُ الْقَدِيرُ الأزَليّ الصَّمَدُ الْبَرُّ الْمُهَيْمِنُ العَلِيّ

(Allah adalah) al-Ahad, al-Fard, al-Qadir, ash-Shamad, al-Barr, al-Muhaimin, dan al-‘Ali.

Kita telah membahas lima dari delapan Asma`ul Husna yang tersebut pada nazham di atas. Kelima nama itu adalah al-Ahad (Yang Esa), al-Fard (Yang Tunggal), al-Qadir (Mahakuasa), dan ash-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya). Kali ini, dengan izin Allah, kita akan mengupas tiga nama yang tersisa: al-Barr (Yang Mahabaik), al-Muhaimin (Yang Memelihara), dan al-‘Ali (Yang Maha Tinggi).

Al- Barr Allah Maha baik

Al-Barr artinya Mahabaik. Allah Mahabaik sifat dan perbuatan-Nya. Allah berfirman,

“Dialah Al-Barr, Maha Penyayang.” (Ath-Thur: 28)

Ibnu ‘Abbas—sebagaimana dikutip oleh al-Qurthubi—berkata, “(Yakni) yang menyampaikan kepada hamba-Nya maslahat mereka dengan lembut dan baik, dari jalan di mana mereka tidak merasakannya.”

Adh-Dhahhak berkata,”(Yakni) yang menepati semua janji.”

Ibnul Qayyim berkata, “Yang banyak kebaikan dan karunia-Nya.”

Syaikh as-Sa’diy menyatakan, “Di antara nama-nama Allah ta’ala adalah al-Barr, al-Wahhab, dan al-Karim. Allah meliputi seluruh alam semesta dengan kebaikan-Nya, pemberian-Nya, dan kemurahan-Nya. Dialah yang memiliki keindahan dan selalu memberi kebaikan, Maha Luas pemberian-Nya. (Di antara) sifat-Nya adalah kebaikan, dan buah dari sifat ini adalah seluruh nikmat yang lahir maupun yang batin, sehingga tidak satu makhluk pun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Dan nama-nama ini menunjukkan keluasan rahmat-Nya dan pemberian-Nya yang menyeluruh pada segala yang ada, sesuai dengan hikmah Allah ta’ala.”

Apabila kita mengimani nama al-Barr dengan keseluruhan maknanya, dengan izin Allah hal itu menumbuhkan rasa syukur kepada-Nya yang telah memberikan kepada kita berbagai macam karunia. Bahkan sebagiannya tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui dari mana datangnya. Semestinyalah ini akan menggugah kita untuk kemudian segera kembali kepada-Nya dan taat kepada-Nya. Apalagi karunia-Nya kepada para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya tentu begitu besar. Bahkan kenikmatan-Nya tidak lagi dapat dihitung oleh hamba-hamba-Nya.

Profesor Umar Sulaiman al-Asyqar menjelaskan, siapa pun yang merenungi nama ini, merenungi betapa baiknya perlakuan Allah terhadap makhluk-Nya, niscaya akan menyadari kenyataan bahwa Allah begitu baik. Kebaikan-Nya tak terbatas. Dia tetap memberi perhatian karena kebaikan-Nya terus mengalir, sekalipun hamba-Nya sering tenggelam dalam keburukan. Nikmat tetap melimpah walau hamba kadang berlaku angkara di muka bumi. Hujan terus turun. Bayi-bayi terus lahir dan manusia terus menikmati kekayaan. Sementara itu, air tetap memancar dan sungai melingkari daratan di mana manusia tinggal. Buah-buahan matang, sayur-sayuran menghijau, dan ternak terus memancarkan susu. Di samping itu, perut bumi terus mengeluarkan kekayaannya, dari minyak bumi sampai logam mulia (batu permata, emas, intan berlian dan sebagainya). Sungguh, semua kebaikan itu tak seimbang dengan amal manusia.

 

Al-Muhaimin

Kata haymana yang merupakan kata dasar dari nama al-Muhaimin bermakna mengawasi sesuatu. Adapun nama al-Muhaimin memiliki makna yang memperhatikan makhluk-makhluk-Nya, seperti mengurusi perilaku mereka, rezeki mereka, dan saat kematian mereka. Dia memperhatikan mereka dengan pengetahuan-Nya.

“Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruj: 9)

“Kemudian Allah Maha Menyaksikan segala yang mereka kerjakan” (Yunus: 46)

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, as-Suddiy, dan Muqatil, “Maknanya adalah yang menyaksikan amal hamba-Nya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Artinya adalah yang Memelihara.”

Al-Khalil berkata, “Yang Mengawasi dan Menjaga.”

Menyaksikan dan mengawasi mengharuskan adanya kesempurnaan kemampuan atau kekuasaan. Juga menuntut adanya sifat ilmu yang tidak ada batasnya dan kekuasaan yang sempurna yang meliputi segala sesuatu. Memelihara mengharuskan adanya tindakan. Siapa pun yang mampu menyatukan makna-makna ini, dialah al-Muhaimin. Sang Pelindung yang sejati. Namun, hanya Allah yang memiliki semua itu secara mutlak dan sempurna.

Jika kita mengatakan bahwa Allah sebagai al-Muhaimin, maka itu berarti Allah memiliki ilmu sempurna yang tidak ada batasnya. Tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi bagi-Nya di langit dan bumi. Dia maha mengetahui apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi.

Allah berfirman,

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59).

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-Hadid: 4).

“Katakanlah, ‘Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali ‘Imran: 26).

Apabila kita beriman kepada nama al-Muhaimin dengan benar, dengan izin Allah akan kita rasakan keagungan Allah dalam penguasaan, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan-Nya terhadap segala sesuatu dengan ilmu dan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Juga akan tumbuh dalam diri kita tsiqah (percaya) kepada Allah sehingga kita pun akan merasa ridha untuk menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Tidak akan ada perasaan takut kepada apapun dan siapapun kecuali kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha mengawasi, menguasai, mengatur, menjaga dan memelihara segala sesuatu.

Iman kepada nama ini juga akan memberikan kekuatan kepada jiwa seorang mukmin untuk dapat menghadapi segala cobaan dan tantangan hidup karena dia mengetahui bahwa Allah Maha mengetahui segala sesuatu dan ia meyakini bahwa Allah tidak akan memilihkan untuk para hamba-Nya kecuali yang terbaik dan paling bermanfaat untuk kehidupannya, terutama untuk kehidupan akhiratnya.

 

Al-‘Ali

Al-‘Ali berarti Yang Mahatinggi. Allah Mahatinggi dengan seluruh makna ketinggian: dzat dan sifat. Sifat pun meliputi kekuasaan dan sifat-Nya yang jauh dari kekurangan.

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255)

“Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Mahabesar.” (Asy-Syura: 4)

“Katakanlah (hai Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada ilah yang benar selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan. (Shad: 65)

“Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Az-Zumar: 4)

“Dialah al-Qahir (Yang Maha Mengalahkan) di atas hamba-hamba-Nya.” (Al-An’am: 18)

Maknanya, “Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada keagungan-Nya. Dan kecil-kerdillah segala seuatu di hadapan keagungan-Nya. Dan Dzat-Nya tinggi di atas ‘Arsy di atas segala sesuatu.”

baca juga: Allah Yang Pertama dan Yang Terakhir

Mengimani nama Allah al-‘Ali berikut sifat yang terkandung di dalamnya menjadikan kita menyadari betapa rendah dan hinanya kita. Tidak pantas rasanya bila ada di antara kita yang menyombongkan diri di hadapan ke-Mahatinggi-an Allah. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: