Ketaatan Adalah Ujian

Ketaatan Adalah Ujian

Banyak orang telah paham bahwa musibah dan bencana itu adalah ujian. sedikit orang yang menyadari bahwa kemudahan rezeki, kesehatan dan kenikmatan itu adalah ujian. Makin sedikit lagi orang yang memahami dan menyadari bahwa ternyata kemudahan dalam ibadah itu adalah ujian. Ketika kita dimudahkan bangun malam untuk shalat, ini masih berstatus ujian, belum merupakan hasil akhir. Hingga kita bisa menjaga keikhlasan, tidak disertai ujub, tidak meremahkan orang lain yang belum melakukan hal seperti yang kita lakukan dan menjaga istiqamah hingga akhir hayat, itulah hasil akhirnya.

Ketaatan Adalah Ujian

Ketika kita diberi kemudahan untuk berhaji, pun juga masih bersifat ujian, bukan jaminan bahwa kita dipilih karena ikhtiar dan jerih payah yang kita lakukan. Belum tentu juga orang yang tidak bisa berhaji lebih rendah derajatnya dari yang bisa berhaji. Termasuk ketika seseorang dimudahkan untuk bersedekah, menghafal a-Qur’an atau dimudahkan untuk menjadi seorang yang berilmu.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian” (QS al-Anbiya’ 35)

“Yakni Kami menguji dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram ketaatan dan kemaksiatan, hidayah dan kesesatan.”

Alangkah indah dan jeli nasihat Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikin bagi orang yang diuji Allah dengan kemudahan amal, “Jika Allah mudahkan bagimu mengerjakan shalat malam, maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur. Jika Allah mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berpuasa dangan pandangan remeh. Jika Allah memudahkan bagimu pintu untuk berjihad, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan hina. Jika Allah mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dengan pandangan yang mengejek dan mencela. Karena itu adalah titipan Allah yang kelak akan dipertanggung jawabkan. Jika Allah mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yang belum paham agama dengan pandangan nista. Jika Allah mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri karenanya. Sebab Allah lah yang memberimu pemahaman itu.

baca juga: Ujian Untuk Orang Beriman

Beliau melanjutkan, “Dan boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, puasa (sunnah), tidak berjihad, dan semisalnya lebih dekat kepada Allah darimu. Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal, itu lebih baik bagimu darpada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau “merasa” takjub dan bangga dengan amalmu. Sebab tidak layak orang merasa bangga dengan amalnya, karena sesungguhnya ia tidak tahu amal mana yang Allah terima darinya.”

Wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)

 

# Ketaatan Adalah Ujian # Ketaatan Adalah Ujian # Ketaatan Adalah Ujian