Kisah Pasangan Harmonis yang Paling Tragis

Kisah Pasangan Harmonis yang Paling Tragis

Abu Lahab adalah sosok yang tampan, wajahnya bersinar, termasuk figur publik di kalangan orang-orang Quraisy. Istrinya menonjol dalam hal kecantikan dan kehormatan. Saking cantiknya, dijuluki Ummu Jamil (Ibunya gadis-gadis cantik).

Keduanya merupakan pasangan yang sangat serasi dan sangat harmonis dipandang dari sisi hubungan suami istri. Tak hanya itu, keduanya juga seide dan seiya sekata dalam menyikapi dakwah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Yakni sikap untuk menolak dan melawan.

Sang istri menganggu dari depan, sang suami mengganggu dari belakang. Perihal Abu Lahab, Imam Ahmad meriwayatkan, “Ada seseorang yang bernama Rabi’ah bin ‘Abbad dari bani ad-Dail –yang dulunya dia seorang Jahiliyyah yang kemudian masuk Islam- berkata, ‘Aku pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam sewaktu (aku) masih di masa jahiliyah di pasar Dzul Majaz, beliau berdakwah, “Wahai sekalian manusia, katakanlah, “Tidak ada Ilah yang haq selain Allah,”  niscaya kalian beruntung.”

Dan orang-orang pun berkumpul menemuinya sedang di belakang beliau ada seseorang yang wajahnya bersinar, yang memiliki dua kepang rambut mengatakan, “Sesungguhnya dia (Rasulullah) pembawa agama sesat lagi pendusta.” Dia mengikuti beliau kemana saja beliau pergi. Kemudian aku tanyakan mengenai dirinya, maka orang-orang menjawab, “Itu adalah pamannya, yang bernama Abu Lahab.”  , “istri Abu Lahab biasa memanggul kayu berduri lalu ditebar di jalan yang hendak dilalui Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menganggu beliau dan para sahabatnya.”

Klop sudah, sang istri menganggu dari depan, suami menggembosi dakwah Nabi shallallahu alaihi wasallam dari belakang. Pada gilirannya, kisah keduanya menjadi kisah sepasang suami istri harmonis yang paling tragis.

Keduanya telah dinash oleh Allah bakal masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala. Bahkan tentangnya, Allah turunkan kabar kebinasaan keduanya dalam al-Qur’an yang dengan membacanya, kita mendapatkan pahala setiap hurufnya. Allah Ta’ala berfirman,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

 

“Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS al-Lahab: 1-5)

Keharmonisan sepasang suami istri di dunia berujung derita di akhirat selamanya, dan kelak keduanya akan menjadi partner dalam menambah siksa sebagaimana keduanya menjadi partner dalam kemaksiatan dan memusuhi dakwah Islam. Inilah yang terkandung dalam salah satu makna ‘hammalatal hathab’, wanita pembawa kayu bakar.

Ibnu Katsier dalam tafsirnya menjelaskan makna ini, “Istrinya senada dengan suaminya dalam kekafiran dan penentangannya. Karena itulah pada hari Kiamat ia juga akan membantu suaminya untuk membakar suaminya di neraka jahannam. Maksud pembawa kayu bakar adalah membawa kayu untuk membakar suaminya agar semakin berat siksanya.”

Di samping ada dua makna lain; makna hakiki bahwa dia membawa kayu bakar berduri untuk mengganggu dakwah Nabi, juga makna majazi yakni dia menjadi provokator yang ‘mengompori’ manusia dan suaminya untuk memusuhi Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Pada kisah pasangan ini terdapat pelajaran berharga dalam hal berkeluarga. Bahwa harmonis saja tidak cukup. Apalah artinya keharmonisan rumah tangga jika kemudian berakhir dengan derita neraka dan kelak akan menjadi musuh satu dengan lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf 67)

Agar kita juga tidak latah meniru gaya hidup pasangan suami istri yang yang lalai dari akhirat dan hobi maksiat. Meskipun mereka tampakkan romatisme dan keharmonisannya dalam berkeluarga. Tak ada yang lebih indah dari akhlak Islam dalam berkeluarga, dan tak ada yang lebih kokoh dari pada pondasi takwa dalam membangun rumah tangga. Imam al-Qurthubi memiliki catatan menarik tentang firman Allah Ta’ala,

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?” (QS at-Taubah 109)

Beliau mengatakan dalam tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dibangun di atas pondasi takwa kepada Allah Ta’ala, bertujuan mengharap wajah Allah, itulah bangunan yang akan langgeng, membawa kepada bahagia dan berpahala.”

Adapun keluarga yang dibangun melulu atas pertimbangan kecantikan, kehormatan di mata manusia, kekayaan dan tendensi dunia semata, itulah bangunan rumah tangga yang rapuh, serapuh bangunan yang dibangun di atas tepi jurang yang sedang runtuh.  wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)