Merenung Dan Berdoa

Merenung Dan Berdoa

Ubaid bin Umair berkata kepada Aisyah, “kabarkan kepada kami kejadian paling menakjubkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasalla,” maka Aisyah terdiam dan kemudian berkata, “pada suatu malam Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata kepadaku, “Wahai Aisyah biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabbku,” aku berkata, “demi Allah aku sangat suka dekat denganmu dan sangat suka terhadap apa yang membuatmu senang.” Maka beliau bangkit, berwudhu dan shalat, beliau menangis sampai basah janggutnya, kemudian tetap dalam keadaan menangis sampai basah tanah yang dibawahnya. Maka datanglah bilal mengkhabarkan datangnya subuh, ketika melihat beliau menangis bertanyalah bilal, “wahai Rasulullah, engkau menangis padahal telah diampuni dosa dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Rasul bersabda, “Tidaklah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?, sungguh telah turun kepadaku malam ini ayat ayat, celaka dan binasa bagi siapa yang membacanya namun tidak memfikirkannya (merenungkan makna dan pelajaran padanya), innafii khalqissamaawatii wal ardh..” (HR. Ibnu Hibban)

Inilah ayat- ayat yang turun kepada Rasulullah di malam itu, terselip dalam ayat ini doa doa :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Anjuran untuk memikirkan alam semesta, memperhatikan ayat-ayat kauniyah dan merenungkan ciptaan-Nya. Menghantarkan hamba kepada keagungan Allah, keagungan kerajaan-Nya dan menyeluruhnya kekuasaanNya.

Teraturnya ciptaan Allah, rapi dan indahnya menunjukkan kebijaksanaan Allah dan tepat serta luas ilmuNya. Terlebih dengan adanya manfaat bagi makhluk yang ada di dalamnya menunjukkan keluasan rahmat-Nya, merata karunia dan kebaikanNya, dan semua itu menghendaki untuk disyukuri. Semua itu juga menunjukkan butuhnya makhluk kepada khaliqnya dan tidak pantas Penciptanya disekutukan dan hanya kepadaNyalah setiap hamba bertawakkal.

“(orang orang yang berakal adalah) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Tafakkur, merenungi ayat ayat Allah  merupakan ibadah dan termasuk sifat dari wali-wali Allah yang mengenalNya. Setelah mereka memikirkannya, mereka pun tahu bawa Allah tidaklah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Dan Allah mencela orang yang tidak mengambil pelajaran dari ayat- ayat kauniyahNya yang menunjukkan kepada dzat-Nya, sifat-Nya, syari’at-Nya, kekuasaan-Nya dan tanda-tanda (kekuasan)-Nya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)

Engkau tidak menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, tetapi dengan penuh kebenaran, agar Engkau memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan dan juga memberikan balasan orang-orang yang beramal baik dengan balasan yang lebih baik (Surga).

Maha suci Allah, Wahai Dzat yang jauh dari kekurangan, aib dan kesia-siaan, peliharalah kami dari adzab Neraka dengan daya dan kekuatan-Mu. Dan berikanlah taufik kepada kami dalam menjalankan amal shalih yang dapat mengantarkan kami ke Surga serta menyelamatkan kami dari adzabMu yang sangat pedih.

“Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”

Ya Allah hindarkan kami dari KemurkaanMu, karena yang Engkau masukkan ke dalam neraka (sebab kedzliman dirinya) tidak akan dapat lolos dari pedihnya neraka dan tiada seorang penolongpun yang bisa menghindarkan dari Adzab yang Engkau timpakan.

“Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabbmu”, Maka Kamipun beriman. Ya Rabb Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

Berilah Taufiq kepada kami untuk beriman, dan menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan, golongkanlah kami termasuk orang yang berbakti dan wafatkan kami bersama mereka.

“Ya Rabb Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imran : 190 -194)

Janji Allah kepada Rasul-Nya di antaranya adalah mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat mendapatkan keridaan Allah dan surgaNya. Dengan keimanan kami kepada RasulMu, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui lisan Rasul-rasul Mu.

Dari Kuraib bahwa Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah bermalam di rumah Maimunah, bibinya dari pihak ibu. Ia mengatakan, “Aku tidur pada sisi tikar sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan isterinya berbaring pada bagian tengahnya. Beliau tidur hingga pertengahan malam atau kurang sedikit, kemudian beliau bangun dan mengusap sisa tidur pada wajahnya, membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali ‘Imran. Kemudian beliau berdiri mengambil geriba berisi air yang digantung, beliau berwudlu dengan wudlu yang sempurna lalu mendirikan shalat..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah mudahkan bagi kita semua untuk bangun malam, tafakkur, berdoa dan qiyamullail, amin Ya Rabb..

%d bloggers like this: