Cintai Mereka Sepenuh Hati

Cintai Mereka Sepenuh Hati

“Aku hanya takut aja mbak, kata orang merawat mertua itu susah. Si Fulanah, mertuanya cerewet. Apa saja yang dilakukan pasti salah. Setiap kali habis pengajian, mertuanya yang tidak shalat itu pasti marah-marah. Bagaimana dengan saya ya mbak?, katanya, ibu mertua mau ikut saya jika bapak udah nggak ada”. Ungkap salah seorang ibu muda di sebuah perbincangan.

Mengurus orangtua baik orangtua sendiri ataupun mertua, terkadang memang menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar kalangan. Bayangan betapa susahnya ketika harus memadukan selera yang berbeda, dari cara mengatur rumah, anak, belanja, hingga masalah rasa masakan. Terlebih jika keduanya sudah terbilang pikun atau bahkan cacat fisik, dalam artian salah satu atau lebih dari anggota badannya tidak berfungsi. Rasa takut akan kian menyergap dengan balutan rasa jijik ketika harus mencebokinya kita istinjak, mengganti bajunya ketika ngompol, dan lain sebagainya. Meski tak jarang dari mereka yang sebenarnya faham masalah agama, tentang bagaimana harusnya memperlakukan orang tua, khususnya mertua.

 

Bukan teori semata    

Ayat-ayat tentang perintah untuk berbakti kepada orang tua, mungkin sudah puluhan kali dibaca. Hadits-hadits yang menjanjikan segudang pahala bagi orang yang berbakti pada orang tuanya sudah sering didengar. Kebanyakan orang seringnya manggut-manggut tanda setuju ketika berkutat pada dunia teori. Menerima tanpa beban sedikitpun. “Ya, memang harus begitu kan, berbakti pada mereka?” begitu komentarnya. Bahkan tak jarang mereka menjadi kritikus ulung tatkala melihat orang yang durhaka pada orang tuanya. Tapi dalam tataran realita hanya sedikit orang yang mampu istiqamah untuk selalu bersabar menghadapi orang tuanya. Sedikit pula orang yang pada satu kondisi mampu bersabar, namun tidak pada kondisi tertentu. Tapi ia berusaha keras melawan rasa tidak ikhlas yang menyesak dalam dada. Selebihnya adalah orang-orang yang lebih mengedepankan hawa nafsunya, tidak mau tahu dengan orang tua.

Untuk bisa ikhlas dan istiqomah dalam berbakti pada orang tua, ada beberapa hal yang harus kita renungkan, supaya kita tidak termasuk kategori orang yang celaka sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi,

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

             “Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka, orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya lanjut usia, namun ia tidak masuk syurga karenanya.”  (HR. Muslim)

 

Mengingat agungnya pahala

Berbakti pada kedua orang tua merupakan amal yang paling utama setelah shalat.

Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Aku bertanya kepada Nabi saw, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka tidak heran, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.”

Kita bisa renungkan kembali kisah salah seorang dari tiga orang yang terjebak dalam gua. Bagaimana Allah selamatkan mereka lantaran salah seorang diantara mereka bertawasul kepada Allah dengan amal shaleh yang telah ia lakukan, yaitu berbakti kepada orang tua.

 

Membayangkan kengerian adzabNya

Adzab durhaka pada orang tua merupakan salah satu adzab yang disegerakan di dunia. Berapa banyak kisah sedih yang tercipta dari jaman dahulu hingga sekarang karena kesalahan yang satu ini.

“Ada dua pintu (amalan) yang disegerakan balasannya di dunia; kedhaliman dan durhaka (pada orang tua). (HR. Hakim)

Semua itu bisa terjadi karena ijabahnya doa orang tua yang merasa terdhalimi oleh anaknya. Kemudian ia menengadahkan tangannya ke langit, mengadukan sakit hatinya kepada Allah, maka doa orang tua ini akan bergerak dan berhembus menuju angkasa, menembus awan, mencapai langit, dan diamini oleh para malaikat, kemudian Allah ta’ala mengabulkannya. Itu baru di dunia, belum adzab Allah di neraka. Maka berhati-hatilah kita dari berbuat dhalim dan durhaka kepada kedua orang tua!

 

Mertua adalah orang tua kita juga

Bagi seorang istri, berbakti kepada mertua merupakan sebuah keharusan. Karena mereka sejatinya adalah orang tuanya juga. Ketika seorang menikah, seseorang tidak boleh hanya menginginkan pasangannya saja, tapi juga seluruh keluarga besarnya. Jadi otomatis, ia harus menjadikan orang tua pasangan sebagai orang tuanya juga.

Hendaknya seorang isteri mampu menghantarkan suaminya menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Jangan sampai seorang isteri menjadi penyebab suami masuk neraka hanya karena lebih mengutamakan dirinya dibanding kedua orang tuanya, terutama ibunya.

 

Sadar akan hari tua

Kalau kita menyadari bahwa apa yang dialami orangtua kita juga akan kita alami, pastilah kita akan lebih berhati-hati. Tentunya kita tidak ingin diacuhkan oleh anak kita, dibuang ke panti jompo, tatkala hari tua menyapa dan hilang keperkasaan. Pastinya kita ingin terbahagiakan dengan senyum dan kasih tulus serta kesabaran seorang anak ketika diri kembali menjadi anak-anak.

Yah, dengan bersabar sementara waktu merawat orang tua yang sudah lanjut usia, menahan kepahitan yang mendera, insya’ Allah kelak kita akan dapatkan manisnya cinta dari anak-anak kita. (UmHan)

 

%d bloggers like this: