Terapi Ampuh Yang Tidak Disuka

Terapi Ampuh Yang Tidak Disuka

Setelah mengajarkan akidah kepada anak-anak sebagai langkah pertama pendidikan mereka menuju shalih shalihah, berikutnya adalah mengajarkan kepada mereka untuk mengingat kematian. Meski bukan hal yang menyenangkan untuk dibahas, kematian adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi. Dan ia harus tertanam kuat di dalam benak anak-anak kita. Ialah penghubung kehidupan dunia ini dengan akhirat yang kita yakini, dan sebagai hamba yang beriman, kita ajari anak-anak agar tahu apa risiko atau malah manfaat dari sebuah kematian. Menyikapinya secara bijak dan adil, agar tidak takut berlebihan, atau juga terlalu meremehkan.

Faktanya, kematian adalah pemutus semua kenikmatan duniawi yang kita rasakan: membuat sia-sia semua prestasi duniawi yang kita capai, atau berharga tinggi karena bernilai ukhrawi. Hal inilah yang menjadikan kita lebih mampu mengontrol kegembiraan saat mencapai kesenangan dunia, juga rasa kecewa yang mendera saat kita terluput darinya.

Dan dengan kedatangannya yang tiba-tiba, insyaallah akan membuat kita lebih berhati-hati dalam memanfaatkan waktu yang ada secara efektif dan efisien. Mengingat kematian adalah pendorong yang ampuh bagi kita untuk melakukan beragam kebaikan di dalam hidup ini sebagai perwujudan ibadah kepada Allah, bersegera dalam bertaubat saat melakukan kesalahan, juga bisa menjadi terapi yang dahsyat untuk mengatasi berbagai macam kekurangan dan penyakit yang kita alami dengan qana’ah. Sehingga, menjadikan mengingat kematian sebagai bagian dari proses pendidikan anak shalih sangatlah diniscayakan.

Padahal, ketidaksukaan kita untuk membahas dan mengingat kematian seringkali membuat kita terlena dengan kesibukan yang tidak efektif dalam makna penyiapan bekal menghadap Allah nanti. Berlebih-lebihan dalam bermain-main menikmati dunia, menunda-nunda untuk segera berbuat kebajikan, berpanjang-panjang dalam membangun angan-angan sehingga melupakan kenyataan kekinian, atau malah lalai dan abai akan kedatangannya yang penuh misteri dan seringkali tak terduga. Bahkan ketika kita belum memiliki apa-apa sebagai bekal pulang ke haribaan Ilahi.

Yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya untuk hari setelah kematian, begitu jawaban Rasulullah saat ditanya siapakah mukmin yang paling cerdas. Beliau Shalallahu ‘ Alaihi wa Salam menambahkan, “Merekalah orang-orang yang paling cerdas.” Ya, sebab mengingat kematian mendorong hamba yang beriman untuk melakukan berbagai macam kemuliaan. Sederhana dalam bergembira, juga berkurang kedengkiannya atas melimpahnya kenikmatan yang ada pada orang lain. Mengingat kematian adalah kecerdasan level tinggi yang akan membuat seorang hamba membenci fananya dunia dan menyukai kekalnya akhirat. Bukankah semua yang ada pada kita akan lenyap binasa, sedang apa yang di sisi Allah akan kekal adanya?

Jika hal ini berhasil kita tanamkan ke dalam diri anak-anak kita, insyaallah proses pendidikan mereka tidak menjadi terlalu sulit. Karena hal ini akan mencegah anak-anak kita dari penghambaan atas dunia, menjadikan materi sebagai indikator kesuksesan hidup, atau menjadikan dunia sebagai tujuan utama dengan melupakan akhirat. Menyibukkan diri dengan tetek bengek dunia yang melelahkan dan seringkali membuat mereka menjadi jahat dan kehilangan rasa kemanusiaan yang mulia. Menjadi ganas dan buas, bahkan lebih mengerikan daripada dua serigala lapar yang menerkam seekor kambing. Padahal belum tentu tercapai apa yang diperjuangkan, sedang jika tercapai belum tentu bisa menikmati, atau malah meninggalkannya karena mati.

Betapa banyak kita menemukan kecerdasan palsu yang beriringan dengan keserakahan, atau kepintaran semu yang berdampingan dengan kejahatan. Juga kesuksesan fatamorgana yang membawa manusia menjadi durjana hina yang kehilangan hati nurani dan sikap kesatria.

Mengingat mati akan membawa kita pada sikap bijak dalam memaknai ketersediaan waktu yang ada untuk mewujudkan takwa kepada Allah. Sebaik-baik bekal dan perolehan dalam hidup yang harus difahami oleh anak-anak kita. Bahwa tanpanya, semua akan sia-sia ibarat debu yang beterbangan. Sebab, ialah pengganti segala sesuatu dan tidak ada suatupun pencapaian dunia yang bisa menggantikan takwa.

Namun, penyampaian takwa dan mengingat mati yang formal dan datar kepada anak-anak, juga bisa menjadi bumerang bagi kita. Mereka tidak menjadi takut, namun bisa jadi malah marah dan berolok-olok. Alih-alih menjadi takut, cara penyampaian yang tidak tepat justru akan membuat mereka imun dan jengah. Mereka akan menghindar dan tidak tertarik membahas hal itu lagi.

Padahal, mengingat mati bisa sangat efektif untuk membenahi kesalahan dan menanamkan semangat berbuat kebajikan. Di sinilah peran kita sebagai orangtua menjadi sangat vital. Bagaimana menyampaikan pesan kematian dengan lembut dan menyentuh tanpa menggurui. Dengan memanfaatkan berbagai kejadian sehari-hari yang kita alami sebagai sarana mengingat kematian.

Hal ini bisa kita tempuh, misalnya, dengan melakukan takziah, mengikuti shalat jenazah, atau ziarah kubur. Karena, “Berziarahlah ke kubur, karena hal itu bisa membuatmu mengingat akhirat! Mandikanlah jenazah, karena mengurus tubuh yang tidak bernyawa merupakan pelajaran yang sangat mengena! Dan ikutilah shalat jenazah, karena boleh jadi hal itu akan membuatmu berduka! Karena orang yang berduka akan berada di dalam naungan Allah pada hari kiamat,” demikian Rasulullah menyatakan kepada Abu Dzar.

Maka Ibnu Abbas pernah ikut shalat jenazah di belakang Rasulullah sewaktu masih belia di sebuah kuburan. Dan hal ini menegaskan bahwa anak-anak ikut pergi ke kuburan dan mengikuti shalat jenazah. Dan bagaimanapun, kematian akan datang meski kita berusaha menghindar darinya.

 

%d bloggers like this: