Doa Ketika Melihat Awal Bulan

Doa Ketika Melihat Awal Bulan

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada umatnya untuk berdoa, ada doa yang umum yang bisa dipanjatkan tanpa ada batasan keadaan dan waktu, misalnya doa rabbana aatina fiddunya hanasah wafil aakhirati hasanah  waqinaa adzaaban naar. Dan ada doa yang diikat dengan tempat tertentu seperti masuk atau keluar kamar mandi, rumah, dan masjid. Maka doa tersebut didoakan tepat dengan tempatnya tidak boleh kemudian seseorang masuk masjid tapi ia berdoa dengan doa masuk kamar mandi atau sebaliknya, hal ini menyelisihi petunjuk Nabi.

Terkait dengan waktu, maka ada doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, yaitu ketika terlihat hilal tiap bulan hijriyah. Tentunya doa ini dipanjatkan diwaktu melihat hilal awal bulan bukan ketika melihat di tengah bulan hijriyah. ketika waktunya telah lewat maka kesempatannya pun telah hilang.

Bila ada doa yang shahih dari Rasulullah terkait dengan waktu tertentu maka kita jangan membuat buat doa yang baru yang kemudian disebarkan, lebih buruk lagi ditambahi dengan keterangan keutamaannya mendapat pahala sekian dan sekian, jelas ini adalah kedustaan.

Doa tiap awal bulan komariyah bagi yang melihatnya

Ditahun baru ini dengan terlihatnya hilal Muharram tidak ada doa khusus yang diajarkan oleh Nabi, namun kita saksikan di masjid masjid ketika waktu maghrib awal bulan Muharam ini ada sebagian imam masjid yang setelah shalat maghrib mengajak makmumnya membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Maka sudah seharusnya bagi setiap muslim yang mengaku menjadi umat Muhammad hanya mengikuti petunjuk Nabinya dan tidak melakukan ibadah baru yang tidak dicontohkannya.

Dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah :

قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى الْهِلَالَ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal beliau berdoa, “Allahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alainaa bil amni wal iimaan was salaamati wal islaami wat taufiiqi limaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa. Rabunaa wa rabbukaallaahu.

“Allah Maha Besar, ya Allah, jadikanlah tampaknya hilal (bulan tanggal satu) itu kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufik untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Ahmad)

Doa ini bukan khusus untuk bulan Muharram atau Ramadhan atau Syawal saja, tapi juga dibaca setiap awal bulan dalam kalendar Hijriah. Dinamakan hilal karena manusia mengangkat suaranya menyebarkan khabar tentangnya, al ihlal bermakna mengeraskan suara.

Allah Maha Besar

Allah maha besar, hanya Allah lah yang berhak diagungkan dan diibadahi, tidak ada yang melebihi kebesaran dan kekuasaan Allah azza wa jalla, tidak bulan di malam hari ataupun matahari di siang hari. Bulan merupakan salah satu makhluk Allah yang tunduk dan patuh terhadap ketetapan Allah. Bulan tidak memiliki pilihan, suka tidak suka ia akan mengikuti aturan Allah, Allah lah yang akan menampakkanya kepada manusia dan membuatnya tidak tampak dari penglihatan manusia.

Adapun manusia ia makhluk ciptaan Allah yang memiliki pilihan, dibekali akal, dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, diturunkan kitab dan diutus Rasul sebagai petunjuk. Bila ia berjalan dimuka bumi ini sesuai dengan iradah syar’iyahnya (segala bentuk amal yang diridhaiNya) maka ia akan mendapatakan keamanan dan keselamatan.

Bila manusia  tidak bersyukur dengan mengikuti apa yang diridhaiNya dan malah memilih dan mengerjakan perkara kemaksiatan atau kekafiran, maka terjadilah iradah kauniNya (segala amalan yang Allah tidak meridhaiNya namun terjadi) dan hilanglah rasa aman darinya disertai kecelakaan yang menimpa dirinya.

Keimanan berbalas keamanan

Allah berfiman : “Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

“Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.” (QS. Al An’am: 76-77)

Akhir dari kisah ini, Nabi Ibrahim berkata : “ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)

Berislam mendapat keselamatan

Yang beriman dengan keimanan yang benar dan lurus akan mendapatkan keamanan dan kekuasaan, tidak takut bahkan ditakuti oleh umat yang lain. begitu pula yang taslim (pasrah) menerima Islam sebagai aturan hidupnya maka ia akan mendapat keselamatan, terhindar dari bahaya dan kerugian. Karena hanya aturan islam yang paling adil, paling baik dan paling menyelamatkan.

Rabb kita Adalah Allah

Hidayah iman dan islam hanya Allah yang bisa memberikan, sepatutnya kita pinta hidayah itu hanya kepada Allah Azza wa Jalla, meminta taufiq untuk menjalankan apa yang Allah cintai dan ridhai, jauh dari amalan yang Allah murkai. Cari ridha Allah dan jangan cari ridha manusia, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun memperoleh kebencian manusia, Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan dari Allah, maka Allah akan menjadikannya bergantung kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)

Siapa yang begantung pada manusia maka ia tidak akan selamat dan siapa yang gantungannya Allah maka ia akan mendapatkan keselamatan hingga akhirat. Wallahua’lam

%d bloggers like this: