Abawiyah

Pulang Ke Surga

Tujuan pernikahan adalah mendatangkan sakinah, mawadah, wa rahmah kedalam keluarga dan membawa seluruh anggota keluarganya ke surga. Pernikahan adalah perjalanan pulang ke surga. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“…Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat’.” (QS. Az-Zumar: 15)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan maksud merugikan diri sendiri dan keluarga adalah keluarga ini akan tercerai berai pada hari kiamat dan tidak ada pertemuan lagi di antara mereka. Bisa jadi sebagian masuk neraka dan sebagian masuk surga sehingga tidak ada hari mengunjungi bagi mereka. Atau, seluruh anggota keluarga ini masuk neraka. Apabila seluruh anggota keluarga masuk neraka maka otomatis mereka tidak bisa mengunjungi. Sebab, kalaupun neraka itu satu kata, tapi di dalamnya mereka tidak lagi pernah bertemu sebagaimana di dunia. Itulah kerugian yang sangat nyata. Tidak ada kerugian di atas kerugian seperti ini.

Masih lumayan kalau kita punya keluarga yang salah kemudian dihukum di Lembaga Pemasyarakatan karena kita masih bisa menjenguknya, membawakan rangsumnya, dan mengingatkan kalau nanti keluar agar diperbaiki lagi akhlaknya agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Tetapi, perpisahan di akhirat tidak ada lagi titik pertemuan seperti itu.

Maka komitmen seorang muslim ketika membangun pernikahan adalah pulang ke surga. Tidak ada pilihan lain. Karena pilihannya pulang ke surga maka ia harus dipimpin oleh lelaki yang kuat. Lelaki yang mengerti jalan kemana keluarganya akan diarahkan.

Oleh karena itu, aneh bila ada perempuan yang mau dinikahi oleh laki-laki yang tidak menjalankan shalat. Sebab, bila ada laki-laki yang tidak shalat, jangankan menjaga keluarga, menjaga agamanya saja dia tidak bisa. Amirul Mukminin, Umar bin Khathab mengatakan, “Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.”
Sederhananya, kalau Allah saja tidak dianggap penting dalam hidupnya apalagi yang lain. Padahal bagi orang yang merindukan surga, ini bukan hanya persoalan shalat, tapi lebih dari pada itu. Mana yang membuat masuk neraka ia tahu dan mana yang membuat ia masuk surga ia tahu.  Dia harus mengerti itu semua agar bisa mengarahkan diri dan keluarganya supaya bisa masuk surga bersama-sama.

Selain seorang pemimpin yang kuat, pernikahan juga membutuhkan seorang pemimpin yang tahan godaan.  Banyak orang yang awalnya kita anggap kuat, lulusan pesantren, gagah, kaya, tapi qodarullah mereka tidak menjaga kualitas imannya sehingga mereka terjebak hal-hal yang menjatuhkan kehormatan dirinya.

Pernikahan juga membutuhkan lelaki yang bisa menyamankan anggota keluarganya. Sebab, kita tidak bisa menjamin apakah setelah pernikahan itu kita akan tetap baik; apakah setelah menikah kita akan tetap sehat; apakah setalah menikah kita akan tetap disukai orang banyak. Banyak orang yang setelah menikah Allah takdirkan menjadi miskin.

Namun, Rasulullah bersabda:

مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Bagaimana juga bila setelah menikah kita dibenci orang banyak. Kita membutuhkan lelaki yang bisa membuat anggota keluarga tetap merasa nyaman, merasa tenang dalam sakit maupun sehat, dalam lapang maupun sempit, dalam keadaan berkecukupan maupun kekurangan, dalam keadaaan kita disenangi orang banyak maupun dibenci.

BACA JUGA : Berkah Ilmu Karena Menghormati Guru

Bila tujuan pernikahan adalah bersama menuju surga maka ini membutuhkan tim yang solid. Bagamana menghadapi godaan dari luar kalau ternyata dari dalam kita rapuh. Nah, untuk solid itu, selain komunikasi yang sehat, juga berawal dari saling bisa menerima satu sama lain.

Rasulullah , “Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Kalau dalam pernikahan yang kita lakukan mencari kekurangan pasangan, pasti ada. Tetapi nila dari pernikahan kita menerima kekurangan pasangan, mudah-mudahan Allah mempertemukan kita dengan kelebihan yang selema ini tidak pernah kita ketahui.

Janganlah suami membenci istrinya hanya karena satu hal yang ia tidak suka. Karena dalam masalah yang lain ia akan menemukan apa yang ia suka. Banyak pernikahan yang kurang baik hanya karena satu atau dua kekurangan istri dan si suami tidak bisa menerimanya. Kemudian suami menjadikannya senjata ketika marah.

Karena itu, apa modal pernikahan yang bahagia? Pernikahan yang bahagia adalah wujud dari kualitas diri kita masing-masing. Maka ketika Rasulullah bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At-Thirmidzi no 3895)

Hadits ini sebagaimana diterangkan oleh imam Asy-Syaukani dalam Nailul Author, merupakan satu peringatan bahwa manusia yang paling tinggi derajat kebaikannya dan paling layak diberi gelar sebagai orang yang baik adalah orang yang paling baik kepada keluarganya. Karena keluarga yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bagaimana seorang laki-laki memperlakukan istrinya, bagaimana istri memperlakukan suaminya, bagaimana mereka memperlakukan anaknya itu adalah wujud kebaikan seseorang dalam arti yang sebenarnya.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *